Tuesday, February 10, 2015

MEET UP, With Triple A



Lama kita tak berjumpa, terakhir kali aku dan mereka berjumpa… selepas pengumuman SBMPTN. Selepas kegagalanku. 6 bulan yang lalu.

Aku menantikan hari dimana, aku bisa berjumpa mereka berdua kembali. Sahabat suka-duka, sahabat yang jadi tempat pelarianku, dan sahabat yang ada untuk menegurku kala aku lupa pada realita.

Annisa Aprilia. Nisa San. Yang tambah tinggi, dan gak pernah gendut-gendut sampe sekarang wkwk. Masih sama seperti dulu. Masih nyebelin seperti dulu. Masih jenius seperti dulu. Dan masih… kalem, seperti dulu. Hahah. But, aku masih tetep sayang sama dia.
Uh-uh, itu anak belakangan sumber kekesalan kita berdua loh –aku dan Aini- gara-gara susah banget di hubungi, sampe kita merasa abu-abu, apakah cewek ber-behel ini akan datang ke acara meet up nanti? Masih sama… seperti dulu. Ngeselin, kan? Hihi :* Walaupun Ai, sama aku juga pernah begituan sih, dulu.

Aini Sabila. Ai. Yang katanya, nambah kurus. Tapi, waktu curhat kemarin bilangnya beratnya nambah, beratnya kembali ke awal sebelum melakukan diet OCD, yang gagal total di pertahankan itu… Dan entah kenapa, dengan muka polosnya, Ai bilang, “Gue gini-gini nambah berat badan di bilang kurus loh… Hahhhhahhh.”Ajaib.
Ya Ai. Kita senasib, hiiiiks .__.
Sumpah, demi Allah.swt. Nida kangen pake banget sama anak satu ini. Polosnya gak pernah ilang. Dan Nida seneng bikin Ai kesel, dengan nge-bully kepolosannya bareng Nisa, hehe.

---
Beruntungnya, Ai selalu tenang-tenang aja ngadepin kelakuan aku yang kurang ajar. Ai tetep ketawa ngadepin hal-hal konyol dari diri aku. Dan Ai selalu memberikan hal terbaik untuk siapapun yang butuh pelukannya. Dia… selalu seperti itu dari dulu. Karena itulah, aku selalu memeluknya. Hangat dan menentramkan.

Dan begitu juga Nisa, yang kadang-kadang, pernah aku kasih omongan paling pedes dari semua merk sambel di Indonesia, entah Nisa tersinggung atau engga.
Buatku, dia selalu melihat dari sisi yang berbeda dari caraku memandang dunia. Buatku, aku belajar suatu hal darinya. Dan aku bahagia, karena Allah.swt mempertemukan aku dengannya, sebagai sahabat, yang membawaku pada suatu hal yang berharga, tentang hidupku.
Nisa San. Hari itu… setelah 6 bulan gak pernah ketemu. Sorot mata jenaka nya, masih sama ({})

Mereka berdua adalah dua individu yang udah ngasih warna di hidup aku. Dan, sampai kapan pun, aku gak akan pernah lupain mereka. Gak akan pernah pergi dari mereka, untuk berhenti menjadi sahabat, atau turun pangkat ke status temen, gak akan pernah, broh.

Tapi, siapa yang tau masa depan?
Kalau mereka duluan yang pergi dan menghilang gitu aja, tanpa alasan yang pasti. InsyaAllah, ijinkan aku untuk terus ngejar mereka. Untuk terus memegang mereka dalam tali persahabatan yang masih tersisa, serapuh apapun itu.

Dear Triple A.
Makasih ya, udah selalu jadi sahabat terbaik buat Nida.
Dengan kalian, aku merasa nyaman. Selalu menjadi anak tengah yang gak lagi kesepian, hehe.

Semoga, untuk selanjutnya. Kita tetep solid! Aamiin…
Muaaaahhh, kiss bye gratsi nih Nis, Ai :p

PS: Kita meet up dua kali (terhitung, sebelum tanggal 11 February 2015) Yang pertama, di KFC Ramayan Mall Serang, tanggal: 07 February 2015. Yang berakhir dengan pulang hujan-hujanan, ke Borobudur beli celana jeans juga, hehe.

Kedua, hari Selasa, tanggal: 10 February 2015. Di rumah Ai, setelah sebelumnya, gagal ke CJ, dateng ke latihannya adek kelas PMR di SMAN 2. Gara-gara aku gak ada motor dan Ai lagi pms, sakiiit perut. Kita makan-makan Spaghetti deh, hehe.

FOTO-FOTO: 
Menu meet up hari pertama. KFC!!! Thanks traktirannya Aini :*
Selfie sama kesayangan, Ai.
Nisa San gak mau kalah... selfie bareng kesayangan, wkwk
BER-TIGA.
Hell-o, kita eksis yaaak ;p
Bahkan, di ruang ganti Borobudur dep. store gak lupa selfie! Yaelah, wkwk
Muka pucet + bete, tapi di foto tetep senyum... Bareng artis cilik, Marsya loh, wkwk
Meet up kedua, di rumah Aini. Menu: Spaghetti. Kita masak sendiri, loh :p
Gak lupa, habis makan + nonton ituuu, ya foto-foto, hahay
ELMOOOOO-nya buanyak bet dah ({}) aaaah, pengen bawa pulaaang.
Oooohyeeeah... Bentar lagi Valentine. Kita punya sesuatu loh :) Tuh, foto di bawah buat kamu.
LOVE YOU, READERS <3
Thanks undah berkunjung ke blog Nida yang gak unyu-unyu banget, tapi lucu, hahah.
Pengen di peluk, di gandeng tangannya+senyuman pepsodent, atau di cuekin... Kayak nasib elmo di atas:p
Finally. Tiada hari tanpa membuatkannya menjadi moment di saat kebersamaan kita ({}) 


Salam Hangat.

Sahabatmu, © Nida

Serang, 10 February 2015
Musim Hujan, bulan kedua.
 

Monday, February 9, 2015

MEMBANTAH


 
Assalamualaikum. wr, wb. 

Dear, umi, abi. Mamah, papah. Bunda, ayah. Ibu, abah. Mamih, papih. Dan untuk semua orangtua di seluruh Dunia. Untuk semua ibu dari anak-anak luar biasa, untuk semua ayah yang ikut berjuang demi membuat impian anak-anaknya tercapai.

Maaf, ya…
Seringkali, kita selalu nyakitin hati kalian.
Sering… kita melakukan hal-hal konyol, dan gak pernah memperhatikan perasaan kalian.

Inget gak, umi, abi?
Waktu aku marah-marah dengan penuh emosi, dan mengatakan hal-hal ‘kurang ajar’ yang harusnya bisa aku simpan sendiri. Yang gak seharusnya aku lontarkan di depan kalian. Ibu yang sudah mengandungku selama 9 bulan, merawatku sewaktu bayi hingga sekarang. Ayah yang sudah banting tulang mencari nafkah untuk kehidupan kita, tanpa kenal lelah.

Detik itu juga, sebenarnya… aku khilaf. Sayangnya, gengsi dan ego membuatku urung mengatakan kata, “Maaf, maafin aku… Aku tadi emosi.” Atau bahkan, sekadar mengatakan satu huruf, ‘maaf’ saja, aku terlalu malu. Seakan-akan, semuanya tercekat di dalam kerongkonganku.
Abi, Umi… untuk yang satu ini. Maukah kau memaafkanku? Walaupun aku juga gak berjanji, untuk tak mengulanginya di kemudian hari.

---
Ingat gak?
Waktu aku nyuekin umi dan abi, waktu aku dengan kurang ajarnya kabur dari rumah. Waktu aku, dengan gak tau malunya teriak-teriak kesetanan. Waktu itu, umi pernah menampar mulutku. Aku sempat shock. Tapi, kemudian… sebenarnya, aku sadar diri. Hanya saja, sebagian dari diriku masih merasa marah atas perlakuan menjijikan yang baru pertama kalinya aku dapatkan.

Aku ingin menangis. Aku ingin sekali berteriak. Tapi, pada akhirnya, aku hanya bisa… diam.
Dan kalian juga diam. Bukan satu jam – dua jam. Tapi lebih dari 3 hari! Bayangkan. Betapa, tersiksanya aku.

Dan lagi-lagi, aku harus kuat. Harus.
Mi, saat aku merenung hari itu. Ada satu hal yang aku sadari, bahwa memang akulah disini yang ‘tersangka.’ tapi, bukan berarti dirimu tak pernah salah.

Aku sempat berharap, kamu akan berbicara baik-baik padaku pada saat emosi kita berdua sudah mereda, dan mengajakku berdamai duluan. Karena, itu bisa jadi awal yang baik untukku. Untuk memberiku kekuatan di masa depan, siapa tau aku khilaf lagi… dan aku bisa mempunyai keberanian untuk mengatakan ‘maaf’ duluan. Nanti.

Tapi, umi bahkan gak melakukan itu. Dan saat ini, saat aku sudah dewasa… baru ku ingat. Betapa kecewanya diriku. Betapa aku benar-benar membenci caramu, mi.
---
Aku payah ya. Aku bahkan berani mengatakan hal buruk ini. Aib ini.
Hanya, ketika umi atau abi membacanya. Bisakan Allah.swt memberi mukjizat?

Aku tau kok, gak ada yang namanya keluarga yang sempurna, karena masing-masing dari diri kita memang gak sempurna.

Aku takut. Takut banget. Karena, adik-adikku akan melewati masa yang sama denganku dulu. Masa dimana aku masih terlalu polos untuk membedakan mana yang emosi sesaat dan mana yang seharusnya bisa aku kendalikan.
Tentu, mereka akan menghadapimu dengan cara mereka sendiri. Lagi, kuharap, mereka berdua akan sadar untuk tidak tersesat terlalu jauh, karena aku terlalu takut jika mereka berniat menciptakan bom dalam hubungannya denganmu.

Aku cuman pengen keajaiban mi. Kejaiban itu adalah… umi dan abi bisa mengubah cara untuk mendidik kami. Untukku dan adik-adikku.

Karena, setelah ini. Betapa aku sadar. Dulu, caramu yang salah dalam mengajarkanku akan ‘sikap’ adalah amunisi yang aku gunakan untuk membantah. Aku menyesal. Karenanya, aku harus menanggung dosa lebih banyak.

Abi, umi. Ada saat dimana, anak-anak mu akan melewati fase remaja, dengan lonjakan emosi yang meluap-luap, ada masa dimana anak-anak mu akan menjadi dewasa, dan mengerti akan pengorbanan kalian. Ada saatnya itu…

Dan aku, menulis ini bukan untuk menasehati umi dan abi. Bukan pula sebuah kritikan. Ini hanyalah isi hati anak gadis yang penuh luka, yang kesepian, yang butuh kasih sayang, yang butuh tempat naungan atas ide-ide gilanya, yang butuh wadah untuk curahan hati dan air mata, yang butuh pelukan hangat dari orang tuanya.

Yang ia inginkan. Hanya ketulusan. Aku butuh pelukan hangat, yang kau berikan dengan cinta dan ketulusan.

Kadang, aku terlalu sayang sama umi dan abi. Aku terlalu sayang, sampai rasanya, aku gak bisa lari dari realita yang sekarang.

Jujur, aku ingin pergi yang jauh. Aku gak ingin belajar ke perguruan tinggi. Aku ingin melakukan apa yang aku mau. Dan demi kalian, aku mengubur semua hal-hal gila itu. Demi kalian, aku menutup kembali amunisi berbahayaku. Demi kalian, umi, abi…

Dear umi, abi.
Makasih banyak atas semua jasa kalian selama ini. Mendidikku dengan caramu –yang menurutku salah- tak pernah aku menyesal lahir dari rahimmu, umi.
Dan mempunyai ayah, yang sulit ku pahami, sepertimu, abi.
Makasih banyak atas semua maaf yang telah kalian relakan untukku,. Untuk setiap kesalahan, entah, seberapa banyak kesalahan itu di masa lalu.

Semoga, Allah.swt semakin membukakan pintu hatiku. Dan menyadarkanku, betapa berharganya semua itu. AKU. SAYANG. KALIAN.
Sungguh :’)

Kami. Keluarga kecil, yang bahagia ({})

Love Always.
Anak gadismu, © Nida

Serang, 09 February 2015


Sunday, February 8, 2015

DOWNLOAD E-Bulletin UDINUS

Hayo, siapa yang gak tau apa itu: E-Bulletin?
Kurang update banget deh, kamu :p

Aku sendiri juga gak tau sih definisi formalnya, hehe #Peace
Langsung aja, yak.
Tadinya, aku mau ngenalin dulu para pejuang skripsi berita, para editor, ketua, wakil ketua, dan yang paling special; dua orang layouters, di balik sukses nya peluncuran E-bulletin edisi 1 tahun 2015.


Puji Syukur kepada Allah.swt. Mati-matian lebay kita berjuang untuk semua ini. Kita. Para mahasiswa baru loh semuanya. Di kasih tugas, di kasih amanat sama si ketua UKM. Mas Kholid, yang rada-rada, #peace. Terus-terusan di tagih, terus-terusan di marahin, hemppppftt.

Aku lelah, bang. Lelah!
Kok, malah curhat?

Ohiya… kenalan sama crew E-Bulletin di balik layarnya nanti aja yaaa. Lain kali gitu.
Sekarang. Aku mau ngasih tau link dan cara download nya dulu. Keburu ngantuk, broh, hehe.

Nih, aku kasih pic-nya, biar enak dan lebih easy.  [Khusus, terutama untuk pengguna laptop]


Masuk ke Mozila, atau browser lainnya. Dan ketik: www.wartadinus.com. Nanti akan muncul web kayak di atas.

KLIK gambar di samping itu, warna hitam.

Setelah di klik, nanti akan muncul gambar seperti ini. Klik kembali tanda yang berwarna biru.



Saat tanda yang berwarna biru tadi sudah di klik. Akan muncul gambar seperti ini, klik 'download' (warna biru)
Nah, ini step terakhir... Kalau sudah klik tanda download, warna biru. Akan muncul dialog seperti di atas. Klik Save file - tunggu proses download - buka file download.

SELESAI! 
Sebenarnya, mudah banget loh. Tergantung internet kalian juga sih. Downloadnya gak lama-lama kok. Juga, caranya gak beda jauh dengan cara nge-download hal lainnya dari internet.
Di coba, gih, hehehe.

Semoga isi materi di E-Bulletin tersebut bisa bermanfaat dan semakin baik lagi untuk kedepannya, ya. Aamin! 

TAMBAHAN:
Ada pilihan jenis file PDF loh sekarang! :D


Salam, dari Nida, si Editor. 
Serang, 08 February 2015

Saturday, January 24, 2015

TEGAL AGAIN


Hallo Tegal, Kota kelahiran. Rasanya kok aku sering berkunjung ke kamu, ya? Hihi. Berasa menepati janji di masa lalu deh, aku jadi… lega.

Sebenernya gak ada niat buat bikin postingan ini sih. Karena stuck ide, gak tau mau posting apa. Alhasil, beginilah apa adanya. 

Hell--o Tegal, tercintaaahhhhh
Jadi, ini merupakan kunjungan aku yang ke-tiga kalinya semenjak aku kuliah di Semarang. Demi daun yang berguguran (?) aku bosen di Semarang, gak ada yang ngajak keluar selain abi, Mba Lela atau siapa itu… Sumpah! Bosen banget, wkwk (*ketauan, gak punya pacar? Pffft)

Setelah bersusah payah dengan yang namanya ‘tiket’ kereta. Alhamdulillah… dapet juga. Sampai harus pinjem motornya mba Punki, temen kamar sebelah, cuman untuk ke stasiun. Thanks, mba Punki.

Aku naik kereta sendirian, gak jadi sama mas Jiwo. Kesel banget sih… mas Jiwonya udah keburu beli tiket duluan, aku kehabisan >__<
Nyampe Tegal gak jadi di jemput si cowok rese se-jagat raya, pula. Harus naik bapak becak lagi. Kurang kesel apa, coba? Yaudah ah… Nyampe rumah si cowok rese-nya udah aku kasih pelajaran kok, wkwk

Selama seminggu di Tegal, aku banyak ngabisin waktu untuk hunting photo di beberapa tempat. Sayangnya ke pantai, gak jadi… gara-gara si cowok rese itu kuliah terus. Aku gak ada yang nganterin -__- sedih banget.
Nemenin abang rese ke toko buku -__-
Selama di sana, seneng bangeeeet…
Punya budhe yang baik itu anugrah, ya ({})
Malahan, budhe lebih banyak ngajak jalan-jalan daripada umi –mamahku- sendiri, #ups. Kenyataan emang gitu, sedih banget, wkwk.

Nom nom unyu dulu, sama budhe.
Hehehe, tas sebelah aku lebih menarik, ya...

Makasih keluarga di Tegal. Yang rela di repotin, yang rela aku gangguin, yang udah bersedia aku cubitin buat ngilangin rasa bosen.
Budhe nyuekin aku terus, tuh beb :3 hahaha

Aku sayang kalian ({}) 

Dan well, terakhir… buat sahabat masa kecil aku. Desi. Selamat menikah, tanggal 18 February 2015. Maaf, kayaknya aku gak bisa dateng. Semoga kalian berdua bisa menjadi keluarga yang sakinah mawwadah dan warrahmah, aamiin! Semangat, sayang… istri baru.
with Desi, yang sudah mau nikah ({})

Insyaallah, ketika Allah.swt sudah menghendaki dan aku mampu berdiri sendiri di jalanku, aku nyusul kamu, ya, Desy sayang…
Love you :*
Sengaja, gambarnya kecil :p

Salam sayang,
© Nida

Semarang, January 2015
Kampus Biru, Udinus

[FOTO] Kamu adalah Kamu. Style-mu itulah KAMU

Sejak kuliah, jadi seneng yang namanya: Hunting Photo :") 
Pengen punya kamera sendiri, beli pakai uang sendiri, dan di rawat sendiri, deh.
Tapi, belum kesampean. 

Dan ini gaya 'gue banget'. Emang sederhana dan sama sekali gak styles banget ya... 
Tiap orang punya gaya masing-masing, kok.

Dan baru Nida sadari, ternyata gaya 'gue banget' itu cukup tomboy (?)
Hadeeeeh...

Baju merah 'Ormah' FEB. Dapet gratisan dari acaranya organisasi :) Sama celana jeans item, di lipat bagian bawah + sepatu andalan, abu-abu kebiruan. Dan tas cokelat, gratisan juga dari budhe. HAHA

Peace dua. Bener-bener sok imut banget gayanya, ya -__- Kemeja nya punya mbah (alm.) lagi-lagi dapet gratisan, wkwk.
Ini salah pose certitanya, belum siap gaya, udah di 'click' aja sama yang photo-in, pffft. Ya gitu deh, bunganya lebih menarik perhatian daripada orangnya, kan? Abaikan orangnya yaaaaa, HAHA.

Demi bunga yang telah berguguran... Nida gak bermaksud sok imut, loh. Cuman suka aja sama peace dua. Tapi, bingung mau di kemanain peace dua nya selain ditaruh di atas kepala, hehe

Pose dari belakang yang... GAGAL ._. Liat kakinya aja udah #uhuk. Emang gagal mode: On, fiuuuuuuhhhhh




Selesai sudah FOTO absurd-nya. Di karenakan internet sedang down. Jadi gak bisa upload banyak-banyak. 




Jangan lupa, follow instagram (IG) Nida: Nidas2f/ Annida Sholihah, yaaakkk :*


Love you, readers.
(c) Nida

Akhir Januari 2015
Sekitar Kampus Biru, Udinus.