Thursday, June 2, 2016

[CERPEN] Hujan di Bulan November

Hujan di Bulan November
A Cerpen by Annida Sholihah
© Mei 2016



Sudah 2 tahun berlalu sejak seseorang meninggalkan luka hati. Fakta bahwa aku masih belum benar-benar move on adalah fakta paling menyedihkan soal cinta yang bertepuk sebelah tangan. Seseorang yang bahkan tak mengatakan kata maaf dengan tulus karena melakukan hal ini, membuatku jatuh cinta dan pergi entah kemana seolah dia tak pernah hadir, menghilang begitu saja. Orang itu seperti angin, tak bisa aku gapai. Angin pada musim hujan di bulan November, dan cerita ini berawal dari sana. Pertemuan singkat kita.

***
Tahun 2014

“Sendirian? Hujan loh…” seseorang dengan balutan kemeja putih dipandu jaket hitam bersandar di sebelahku yang tengah meneduh dari hujan malam itu. November 2014. Aku hanya menoleh sesaat dan memilih untuk diam, aku tak kenal dia. Bagian lain dari otakku mengaktifkan sinyal bahaya.

“ada suatu mitos dari buku yang gue baca. Katanya kalo cowok sama cewek ketemu berdua, terjebak hujan berdua, di suatu waktu pada bulan November. Namanya jodoh,” dengan sengaja, dia yang tak kutahu namanya itu menoleh, memperhatikan reaksiku yang datar. Sejujurnya, aku hanya lelah meladeni orang tak dikenal hari ini, karena seharian aku sudah cukup kena sial. Ia berdehem saat aku masih saja diam, seolah tak ada yang berbicara apapun beberapa detik yang lalu.

“So? Gue kudu seneng, gitu?” jawabku malas, aku sengaja menggunakan kata ‘gue’ daripada ‘aku’ padanya, mengingat ia juga mengawalinya dengan kata ganti ‘gue dan lo’. Ini sudah beberapa waktu berlalu sejak aku berada di Semarang, bahkan aku sudah lupa rasanya berbicara tanpa logat bahasa jawa.

Dari penampilannya, cowok itu kemungkinan orang kaya. Ia mengenakan sepatu Nike Air Jordan asli yang harganya selangit, sangat modis dipadukan dengan celana jeans hitam. Rambutnya pendek agak kecoklatan dan disisir rapi, beberapa bagian tampak basah. Dan ia mengenakan earphone hitam dilehernya, dan satu tangannya memegang sebuah helm hitam. Serba hitam itulah warna yang membuatku mengaktifkan tanda bahaya karena tak memperhatikan keseluruhan penampilannya. Aku akhirnya sadar, orang yang beberapa waktu lalu sedang berusaha memecah keheningan adalah seorang cowok yang ganteng. Dan mengingat diriku yang fansgirling, aku seharusnya histeris.

“apa sih liat-liat.” Aku mengerutkan kening saat sadar bahwa sejak tadi, aku baru saja kagum--- ralat, aku baru saja penasaran dengan menatapnya penuh selidik dari atas sampai bawah.

“apa gue keliatan kayak orang jahat? Mana ada orang jahat, punya muka ganteng kayak gini?”

Aku tertawa sesaat dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, “lah, kan orang jahat biasanya bersembunyi di balik topeng. Muka-muka kayak lo tuh yang bikin gue curiga,” aku menatap ke arah sepatunya kembali, “gue lagi bertanya-tanya, itu sepatu yang lo pake asli atau kagak? Palingan beli di pasar.”

Dan pertanyaan barusan sukses membuatnya tertawa, ia menatapku seolah aku gadis aneh yang baru pertama kali ditemukan di planet yang bernama bumi, “serah lo deh. Kayaknya mood lo lagi jelek. Btw, lo lucu…”

Kita berdua terdiam cukup lama, saat itu hujan semakin deras, dan semakin menjadi dingin. Pukul 22.30 wib. Dan hujan masih belum reda meski sudah lebih dari 20 menit kita meneduh. Beberapa kali aku mengeratkan tas ransel hijau pemberian umi pada saat ulang tahunku ke-19. Aku menoleh, dan ia tengah mendengarkan musik dari earphone nya, pantas saja… hening.

“bosen? Nih, mau dengerin lagu kagak?” ia melepas satu earphonenya, dan menyodorkannya padaku, “tapi ada syaratnya…” dan yak, aku hampir saja menerima earphone itu! Huh.

“kasih tau nama lo.” Ujarnya. Ia menunggu jawabanku.
“Ai.” Aku mengambil earphonenya secara paksa, ah masa bodolah, kalo rusak yaa tinggal ganti rugi.

“Ai? Aishiteru?”

“Aida.” Ucapku mulai jengkel. Alunan lagu barat yang lembut mulai terdengar dari earphonenya . Ia rupanya penggemar musik klasik.

“Nama gue Acil, btw.” Dan cowok yang mengaku bernama Acil tersebut tersenyum. Benar-benar senyuman sesungguhnya. Aku penasaran, apa artian nama Acil? Apa itu benar-benar nama asli?

Pada alunan terakhir dari musik Beethoven 6th symphony, hujan mulai reda, menyisakan rintik-rintik dan embun pada pepohonan. Aku dan Acil sama-sama melepas earphone kami,

“Rumah lo mana? Gue anterin pulang. Udah malem banget. Dan gue gak maksud macem-macem.”

“deket kok. 20 menit jalan dari sini. Gue bisa jalan aja. Hujan udah reda.” Aku sebenarnya berniat menolak. Apa daya, Acil tetap memaksa layaknya seorang kakak yang sedang menasehati adiknya agar tak nakal, bikin jengkel.

“iya deh gue naik motor lo. Dah ah lo diem, yang cewek disini gue, bukan lo.”
Acil tersenyum mendengar komentarku, kupikir ia akan marah, “lo mahasiswi, ya? Lo gak keliatan kayak mahasiswi asal sini.”

“iya gue nge-kost. Dan btw, lo kok tau?”

“dari logat lo. Pegangan.” Ucapnya sebelum motor Honda Verio Metik plat H yang kita naiki meluncur, menembus rintik-tintik hujan malam pada waktu November 2014.

“nah sampai.” Aku akan berucap terima kasih dan memasuki gerbang dengan kunci kost yang sudah siap di tangan, tapi Acil kembali menahanku, ia mengeluarkan handphone nya. Sudah kuduga ia orang kaya. Handphonenya saja Iphone.

“minta id line lo.” Ucapnya.

Aku mengerutkan kening, sebenarnya aku tak pernah berharap bisa bertemu dengannya lagi, atau berkomunikasi dengannya. Pertemuan dengan Acil adalah pertemuan yang kuharap hanyalah mimpi sesaat di kala hujan. Ini gak nyata, Acil terlalu sempurna buat cewek semacam aku.

“Lo habis makan apa sih? Yakin pengen minta id line gue? Gak nyesel nih kedepannya?”

“kenapa gue harus nyesel. Gue tertarik dengan lo. Menurut gue, lo beda dari yang lain.”

“oke. AidAssaji. Dah tuh. Gue gak akan ngulang dua kali ye, bye. Makasih buat tumpangan lo.”

“eh, eh… tunggu, assa apa barusan? Hei!” aku langsung ngacir pergi tanpa mau mendengarkan protesnya dan terkikik geli dengan tindakanku. Hah, kalau Acil tak menemukan id line ku, jangan mewek, jangan nyesel Ai.
***


Pagi hari, pukul 05.00 wib, selepas sholat subuh di kamar kost, aku membuka tab yang sejak malam mati karena kehabisan battery. Ada beberapa notice dari grup bbm, ig, dan facebook yang masih terhubung dengan akun. Saat mengecek line, ada beberapa teman baru meminta persetujuan pertemanan. Aku mengerutkan kening saat sebuah nama yang asing memintaku menyetujui pertemanannya yang ia temukan dari id line;  Niam Ramdani. Profil picture yang ia gunakan cuman sebuah kalung dan earphone, bukan foto diri. Aaah, tauklah, aku memutuskan mengklik tombol terima.

Pukul 09.30 wib, selepas kelas mata kuliah pak Bambang. Aku mencari salah satu tempat yang berada pada jangkauan wifi kampus. Biasanya tempat-tempat seperti itu merupakan tempat yang ramai. Dan di bangku taman gedung A, aku memilih duduk, sendirian, menunggu jam kuliah selanjutnya, menunggu teman satu kelasku datang ke kampus. Ada sebuah pesan dari line; Niam Ramdani.
© RamdaNiam: hey, apa kabar? Gue masih kesel soal semalem loh.
© AidAssaji: siapa lo.
© RamdaNiam: menurut lo?
© AidAssaji: Acil?Anak Kecil? -__-
© RamdaNiam: nah, tuh tau. Emotnye biasa aja keles.
© AidAssaji: wkwkwkwk, akhirnya lo nemuin Id line gue yah.
© RamdaNiam: ye.
© AidAssaji: hm
***

Hubungan kita berkembang begitu cepat, aku dan Acil. Kita selalu mengobrol banyak hal, dan bertemu di akhir pekan. Belakangan, aku tau bahwa Acil di Semarang dalam rangka penelitian skripsinya di bidang Sosial Kemasyarakatan. Kita berdua menjadi lebih dekat dalam 3 bulan.

Menjelang liburan semester, bulan Februari. Selepas aku menyelesaikan UAS terakhir yang membuat beberapa mahasiswa stress, sebuah pesan masuk dari line merubah beberapa hal. Pesan dari Niam Ramdani a.k.a Acil.

Memang, aku dan Acil beberapa minggu tak bertemu. Beberapa waktu tak lagi berkirim pesan, tak lagi bertukar kabar dan cerita. Kupikir, ia menjaga jarak denganku, saat perasaanku padanya mulai tumbuh. Dan aku tak tau alasannya sampai pada hari ini, bahwa aku hanyalah… hm?

© RamdaNiam: Hallo, Aida Assaji. Terima kasih untuk 3 bulanmu yang istimewa. Seperti yang kamu tau bahwa aku di Semarang dalam rangka penelitian untuk skripsi. Dan beberapa hal yang tak pernah aku bicarakan selalu punya alasan. Aku minta maaf. Sejujurnya, kamu hanyalah sebuah subjek bagiku dalam penelitian yang tengah berjalan ini. Aku meneliti dalam bidang sosial kemasyarakatan dan aku tertarik pada argumenmu, juga karaktermu. Bisa dibilang, aku juga belajar psikologi dan memasukkan psikologi dalam penelitianku.

Maaf, Aida. Aku goyah dan ragu saat kamu mulai menaruh hati padaku. Dan aku gak bisa menjanjikan bahwa kamu tak akan tersakiti pada akhirnya. Aku tau, aku keterlaluan. Itulah sebabnya aku mundur dan berusaha memperingatkanmu untuk tak jatuh hati.

Terimakasih untuk waktumu. Sejujurnya, aku gak bohong soal bahwa kamu adalah seorang gadis yang menakjubkan dan unik dan lucu dan cantik. Kamu berhak suka pada orang yang lebih baik.
                    
Nb: gue bakal tetap membuat penelitian dengan subjek adalah; lo.
Selamat tinggal, berharaplah bertemuan kita hanya mimpi - dari Acil

Aku tertawa sumbang saat membaca pesan line terpanjang yang pernah seseorang kirim untukku. Beruntunglah aku tak sedang membacanya di kampus atau di tempat ramai. Iya. Aku sakit hati. Siapa yang bisa menerima bahwa sejujurnya kamu hanya dimanfaatkan? Dengan kesal, tab tersebut akhirnya menjadi korban. Tergeletak di kasur.

Setelah menenangkan diri dengan menulis. Aku memutuskan untuk menutup semua media sosial dan memblokir nama Niam Ramdani di semua media sosial yang menjadi pertemanan. Baiklah. Bukankah itu yang kamu mau, Niam?

Berharap bahwa pertemuan kita cuman mimpi? Meski mimpi berbekas, mimpi tak pernah meninggalkan jejak. Kamu pasti cukup pintar untuk tau bahwa kita meninggalkan jejak dimana-mana, dan luka, luka sudah terlanjur membekas di relung hatiku. Aku gak tau, dan tak ingin tau, kita lihat apakah waktu benar-benar bisa menyembuhkan? Seperti yang pernah kamu katakan waktu itu.
***
Tahun 2016

Aku menghela nafas untuk mengakhiri hari, itu semua sudah 2 tahun berlalu sejak seorang yang senang dipanggil Acil hadir dalam hidupku. Aku mulai membenci mitos, mulai tak percaya pada cinta sejati dan ragu pada ketulusan seseorang.

Hari ini, sama seperti pada November 2014. Aku kembali berteduh dari hujan. Aku menatap langit, bersamaan itu, hampir menjelang pukul 22.00 wib. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa hujan terjadi malam hari? Dan kenapa puncak hujan selalu berawal pada waktu menjelang pukul 22.00 wib? Dan aku kesal pada diriku sendiri, kenapa aku tak bawa payung? Aaaah, masa bodoh dengan hujan.

Belum sempat sepatu convers hitamku menyentuh genangan air, sebuah tangan menarik lenganku menuju tempat berteduh kembali. Alarm tanda bahaya yang identik dimiliki perempuan menyala, aku was-was, masalahnya adalah karena sebuah tangan tersebut menggunakan sarung tangan. Teringat pada film-film bergenre pembunuhan dan detektif yang pernah aku saksikan, semua pembunuhnya menggunakan sarung tangan untuk mengelabuhi sidik jari. Aku akan mulai berteriak dan berlari tanpa menatap siapa yang memegang lenganku dalam hitungan tiga. 1… 2… 3.

“Huahhhhhhhhhhhhh, umiiiii. Ada kecoaaak!” dan seketika itu juga tangan tersebut terlepas, aku tak menyiakan kesempatan untuk kabur, tak penduli bahwa hujan masih terlalu deras untuk berlari seorang diri pada malam hari yang dingin, dan licin.

Selepas insiden ‘baru saja seseorang akan menculik dan menjadikanku korban pembunuhan.’ Seseorang yang belakangan sedang mendekatiku di kantor baru, mengirim pesan line:
©MahardikaS: hey, lo udah di kost, kan? Aku khawatir. Tolong kabarin aku jika sudah sampai kost, cantik.
Ngomong-ngomong, Satria Marhardika merupakan seniorku di kantor, barusan ia ingin memberiku tumpangan. Tapi boss memanggilnya untuk meeting dadakan. Aaah, harusnya aku mengiyakan saja untuk menunggu kalau tau hujan akan sederas ini.
©AidAssaji: aku memang sudah di kost. Lain kali mungkin aku akan nebeng mobil lo pulangnya. Diluar hujan deras, tau.
©MahardikaS: lo kehujanan? Hahahaha, baiklah. Jangan lupa makan, nanti sakit.
©AidAssaji: Ya. Lo juga ye…
©MahardikaS: siap, cantik. Bye. Good night :*

Nama Niam Ramdani muncul di bawah chat Satria. Beberapa bulan setelah Acil mengirimkan pesan panjang dan menghilang, aku menulis sesuatu di line, satu-satunya media sosial yang kuputuskan untuk menjadi korban blokir. Sampai pada beberapa hari yang lalu, Acil tak pernah membuka pesan yang aku kirim 2 tahun lalu. Dan aku menyesal mengirim pesan tersebut. Benar-benar penyesalan yang tak bisa di back. Karena sebagian dari diriku, sampai hari ini, aku masih berharap dia membacanya. Hanya membacanya, tak perlu membalasnya.

Jadi, malam ini. Setelah beberapa malam yang panjang berlalu tanpa bisa melupakannya. Seharusnya aku dari dulu menghapus juga line Acil. Karena semua perkenalan dirinya berasal dari line. Aku mulai membuka percakapan kita berdua sebelum menekan tanda blokir teman, dan cukup terkejut. Acil sudah membacanya. IYA. Ada tanda ‘baca.’ Wow! Sejak kapan ia bahkan membaca pesanku yang sudah 2 tahun berlalu? Itu sebuah keajaiban.
©AidAssaji: Mungkin lo brengsek. Lo cowok pengecut yang pernah gue kenal. Lo bisa jadiin gue bahan percobaan skripsi lo atau apalah. Subyek subyek apaan gue gak ngerti.
Yang pasti, lo harusnya bertanggung jawab atas apa yang lo torehkan.

Lo bilang apa? Jangan jatuh cinta sama lo? Hey, siapa yang mendefinisikan cinta adalah hal yang gak bisa kita kendalikan? Itu lo, Cil.
.
Gue emang udah terlanjur jatuh cinta sama lo. Dan lo pun tau itu. Gue gak tau perasaan lo gimana. Sejujurnya, gue udah berjanji untuk fokus dengan impian gue. Tapi lo hadir gak terduga, dan membuat beberapa hal yang udah gue rencain berantakan. Lo juga bikin luka baru di hati gue.

Lo tau, gue masih percaya soal karma pasti berlaku. Dan sialnya, gue juga percaya sama omongan lo waktu hujan. Tentang jodoh. Lo pasti inget, lo yang bilang soal mitos itu.

Nb: gue udah maafin lo. Bukti bahwa gue gak ngeblokir line ini adalah gue gak pengen kita musuhan. Makasih buat waktu lo juga, lo mengajarkan banyak hal ke gue. Bye!

-Aida San

Aku malah mulai bimbang untuk menghapus pertemanan di line dengan Acil. Aaah, benar-benar memusingkan. Dan keputusannya pun adalah… aku gak jadi menghapusnya. Aarrrgggghhhh!
***
Saat matahari mulai bersinar di timur kota Semarang, aku memulai aktivitas baruku sebagai fresh graduates yang baru saja diterima bekerja pada salah satu perusahaan swasta di bidang pengelolaan sumber daya alam Indonesia kantor pusat Jawa Tengah, sebagai bagian keuangan. Setiap hari, aku selalu melaluinya dengan rute brt terdekat. Sengaja, untuk lebih menikmati hidup dengan naik kendaraan umum daripada kendaraan pribadi.

Aku tengah asyik fokus pada membalas beberapa line grup dari Alumni kampusku dan juga Satria di halte brt Semarang, dan tak menyadari seorang pria dengan sepatu Nike Air baru saja duduk di belakangku. Beberapa line yang masuk sekaligus lebih menyita perhatian.
            © RamdaNiam: menunggu brt, eh?
Saat tau siapa yang mengirimkan pesan line, aku mengerutkan kening. Dan memutuskan untuk tak peduli. Mungkin hanya khayalan. Mood ku sedang bagus hari ini, dan aku berharap khayalan yang mengundang baper tak merusak mood.
            © RamdaNiam: gak mau menoleh kebelakang?
Aku kembali mengerutkan kening. Tanpa menoleh kebelakang.
            © RamdaNiam: sepertinya lo memang udah mulai ngelupain gue yah.
Tepat saat aku baru saja akan menoleh kebelakang, suara khas nya terdengar dari samping, aku diam mematung.
“Lo benar. Karma itu berlaku. Dan gue bener, soal mitos yang pernah gue bilang,  gue pikir kita jodoh.” Ucapnya, begitu nyata, dan hidup. Aku menoleh. Gayanya masih sama. Potongan rambutnya juga masih sama. Hanya saja, warna rambutnya lebih gelap dan sengaja diatur berantakan. Acil tersenyum, “apa kabar, Aida?” ucapnya tulus.
           
Dan belakangan aku baru tau, seseorang yang menarikku dari hujan dengan sarung tangan di malam aku berteriak ‘kecoa’ adalah Acil. Dia banyak tertawa saat menceritakan hal tersebut.

Menurutmu, apakah kita berjodoh? Dan biarlah waktu yang menjawabnya…
Yang terpenting, tempat berteduhku saat hujan bulan November sudah kembali. Aku bahagia.

-END

Monday, May 30, 2016

[Cerpen] One Fine Day



One Fine Day
A Cerpen by Annida Sholihah

© April 2016



Akan ada satu hari dimana, yang telah menjadi kenangan adalah bagian yang penting untuk masa sekarang, atau bahkan masa depan. Percayalah, rencana Tuhan selalu lebih indah :')
     
            Orang yang paling nyebelin, omongannya pedes melebihi pedesnya level 15 bubuk cabe yang di jual di supermarket, dan kadang ngeselin, plus sering banget bikin orang lain kehilangan mood nonton drama. Itulah Dimas. Sahabat ter-absurd yang pernah Tuhan kirim ke aku, semenjak jaman alay melanda.
            Selama 3 tahun persahabatan kita, dialah salah satu sahabat yang pertama kali aku kasih tau rahasia terbesarku, salah satu sahabat yang pernah menyaksikan aku jatuh cinta, patah hati, dan di kasih harapan palsu oleh gebetan, untuk yang pertama kalinya…
            “Woy, cacingan… bangun napa. Sholat subuh woooy!!!” siapa coba yang gak tau malu nya ngirim pesan suara via bbm pagi-pagi buta, pukul 04.00 wib? Siapa lagi kalau bukan cowok mulut berbisa harimau, Dimastio Hanan! Waktu aku tanyain alasannya ngirim bbm sepagi itu, simple banget guys jawaban dia, pengen lemparin anak orang ke Pluto deh, ‘hehe, kan lo Semarang, gue Bandung, lo Timur, gue Barat. Beda waktulah kita!’ kan kempret kan. Uh, Dimas mah gitu orangnya sih.
            Masih setengah nyawa, aku bales aja tuh pesan, pernah kejadian, aku cuek bebek sama pesan-pesan Dimas, gak taunya ini anak telepon mulu ke nomer handphone aku. “Iya, playboy gak laku… gue bentar lagi bangun kok.” –send.
Belum semenit, pesan kedua Dimas muncul, gak aku read sampai si rese nge-ping terus. Berisik!
            “Bangun tukang mewek! Lo mau gue sunat?” meski nyebelin, apa yang dikatakan Dimas selalu bikin aku ketawa gak jelas macem orang gila, entahlah… aku udah sering dapet pesan nyeleneh darinya, dan aku tetap tertawa seperti biasa. Aku berhenti tertawa, dan mulai mengetik sesuatu, “hm…”
            “hmmm doang gitu? Nyawa lo ambil lagi gih di malaikat pencabut nyawa.”
            “astagfirullah, omongan lo nihya!” -send
            “hahaha…” ___ “ohiya, jangan lupa doain gue langgeng sama Mala yeh, biar lo makin jelek mblo.”
            “ogah! Semoga besok lo putus. Amin!” -send
            “semoga lo jomblo seumur hidup. Amin!”
            “apasih sih lo, gak mutu banget doa lo.” -send
            “lo tuh yang mulai duluan ngajak ribut.”
            “bodo.” -send
            Dan begitulah seterusnya, obrolan kita memang tak berarti, penuh sindirian, anehnya aku gak pernah merasa sakit hati atas semua kata-kata Dimas.
            Flashback ke 3 tahun yang lalu, awal dimana untuk pertama kalinya, aku dan Dimas kenal satu sama lain. Hari itu merupakan hari terakhir mabis (masa bimbingan study) bagian dari kegiatan yang wajib di ikuti untuk seluruh murid baru siswa putih abu-abu. Dimas dan aku, adalah dua orang sejoli yang hidup di dua dunia berbeda, layaknya tom dan jerry, atau kadang kita juga keliatan mirip Marsya dan si the Bear besar, aaah yang jelas- kita itu rumit!
Dimas itu cowok popular di sekolah, bahkan ketika kelas sebelas, dia menjadi the best Famous, kelas dua belas, dia menjadi Prince Senior High School. Dan saat masih menjadi kerupuk, alias masih kelas sepuluh, Dimas sudah membawa gelar unyu kebanggaan: Best Junior. Asem ya. Saking banyaknya gelar yang nacep, saking banyaknya fans, saking gantengnya, saking kaya orang tuanya, semakin kenal dengan orangnya semakin pengen muntah di kolam renang.
            “hay cantik. Aku suka juga dengan Andrea Hirata,” ucap Dimas, pakai senyum, gak pakai sayur, satu jam sebelum upacara penutupan mabis hari terakhir.
            Saat itu, aku emang tengah membaca sebuah novel tebal tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, penulis favorit aku sejak SMP. Aku tersenyum penuh binar, tanpa menyadari ada banyak pasang mata yang menyaksikan percakapan paling sakral buat aku.
            “oh, kamu suka? Aku jugaaaa!” demi Allah, aku nyesel ngeladeni Dimas kelewat histeris waktu itu. Bukan malu, tapi ini masalah harga diri setelahnya.
            “kamu, mau gak jadi teman hidup aku,” sejenak aku tergugu, menatapnya cengo.
          “maksudku, ehm, aku suka cewek yang suka juga dengan Andrea Hirata. Susah banget deh nyari cewek yang suka penulis Favorit aku itu. Aku ngerasa kita bisa cocok.” Senyumnya beneran mirip yang ada di iklan pepsodent, bahkan giginya rapi putih mengkilap. Fiuuuy.
         Aku pun tersenyum dan mengangguk, memberikan tanganku pada uluran tangannya. Dan seketika itu juga, banyak bisik-bisik aneh, sorakan wuwuwuuuu, atau bahkan ada yang tertawa mengejek dan bertepuk tangan. Rasanya, ketemu Dimas untuk pertama kali adalah mimpi yang tak nyata. Setiap aku ingat kenangan itu, setiap waktu itulah Dimas akan berkata, “maaf.” tanpa ekspresi.
          Jadi setelah upacara penutupan mabis, Dimas menghampiri aku dengan cokelat dan gantungan kecil bergambar paris yang lucu banget, “Hey, maafin aku ya…” ucapnya, terdengar tulus sih. Tapi maaf ya, aku terlanjur kesel setengah mati dengannya, gara-gara dia, hidup aku di SMA bakal jadi bulan-bulanan senior cewek ._.
            Bayangin aja, Dimas minta aku jadi ‘pacarnya’ di hadapan pasang mata, terus dia bilang maaf setelah aku bilang ‘iya’ bahwa tadi cuman hukuman dari kakak senior, dia sendiri (katanya) bahkan udah punya pacar, dan yang bikin tambah kesel, Dimas itu bawa-bawa nama penulis kesayangan aku!
            Saat kelas sebelas, aku memutuskan maafin dia dengan berbagai macam syarat, simple nya, aku bener-bener sudah lelah menghadapi sifatnya yang absurd. Jahat ya, masa maafin hal begituan aja butuh waktu setahun?
            “Lo mau gue maafin? Gue punya tiga syarat. Satu, jangan pernah jadiin Andrea Hirata jadi penulis favorit lo lagi, gue jijik nge-dengernya, dan gue terlalu trauma sama kata-kata najis lo waktu iu. Dua, jangan pernah gangguin gue lagi, gue udah maafin lo, gue bakal lupain hal itu. Tiga, anggep aja kita gak pernah kenal. Udah itu doang.” habis itu aku langsung ngeloyor pergi dengan ekspresi jutek. Sekilas, aku masih bisa liat Dimas yang shock, bodo amatlah, salah sendiri bikin harga diri aku serasa di injak-injak.
            Dan sejak hari itu juga, Dimas bener-bener menjauh. Gak ada lagi yang gangguin aku waktu istirahat, gak ada lagi yang setiap hari bawain aku cokelat dan koleksi barang-barangnya, gak ada lagi puisi maaf di mading sekolah setiap minggu selama satu tahun, kok aku kangen Dimas, ya?
            Alhamdulillah, dua minggu kemudian, anak Pluto ini menampakkan wajahnya kembali di depan kelas aku, plus dengan sekotak beng-beng dan 14 bunga warna-warni. Pacarnya sendiri yang beda sekolah aja jarang kok di kasih cokelat, nah aku? Hadeeeeh---
            “Sawarna Aisyah Putri. Lo gak usah maafin gue deh kalo kayak gitu. Gue ogah nerima syarat lo. Titik!” abis teriak begitu di pintu masuk kelas orang, naruh sekotak beng-beng dan bunga di depan meja aku, itu aliens langsung balik ke UFO mungkin. Aku aja sampe gak sempet protes. Ngeyel emang deh.
            Hari-hari berikutnya, Dimas terus ngikutin aku sepulang sekolah. Maksa aku untuk ngasih tau pin bbm, WA, konfrim IG, Path, Fb dan twitter yang sengaja aku protect. Bahkan ngaku-ngaku mau belajar kelompok di rumahku, jelas-jelas Dimas IPA dan aku IPS! Lucu dimananya coba?
            “Dimastio Hanan!”
           “Eh, gue baru tau lo hafal nama panjang gue…” emang deh, gak ada gunanya marah-marah sama anak ini guys.
            “serah lo lah. Capek gue.”
            “begitu pun gue…”
         Bayangin, tanpa Dimas, aku pasti masih jadi anak kutu buku yang gak pernah liat betapa ciptaan Tuhan ini indah dan luas. Dimaslah orang yang dengan sabar selalu mengatakan, ‘yuk jalan-jalan,’ ‘yuk tracking gunung,’ ‘eh liburan ke pantai mau gak?’ dengan sejuta kali penolakan dariku.
           Dimas adalah satu-satunya orang penting yang punya tujuan khusus untuk dapat dipertemukan dengan orang-orang sepertiku. Hari-hari dengan Dimas adalah hari terbahagia yang pernah aku lalui, dan aku bersyukur, meski dia hanya seorang sahabat, dia lebih dari segalanya untuk melalui ini. Seperti hubungan antara matahari dan bulan ketika gerhana, aku berharap hubunganku dengan Dimas selalu bertahan untuk waktu yang lama.

-END

Sunday, May 29, 2016

[CERPEN] Lembayung Senja Masa Lalu



Lembayung Senja Masa Lalu
A Cerpen by Annida Sholihah
© Maret 2016

  

Sebuah lingkaran di langit mulai meredup, hilang dalam sekejap, kita menyebutnya sebagai matahari, namun ayahku mendefinisikan lingkaran di langit itu merupakan titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan sinar pada bumi.Tak lama setelahnya, samar-samar aku mendengar suara adzan maghrib bergema di seluruh penjuru masjid yang bertebaran dalam lingkungan rumah almarhum nenekku sejak beliau masih kecil. Salah satu hal yang aku sukai dari senja disini, gema maghrib yang seolah-olah saling berkejaran, saling mengingatkan bahwa sudah waktunya kita yang masih berkerja untuk berhenti, yang masih diluar agar segera memasuki rumah, dan anak-anak kecil yang masih riang bermain segera ambil sarung beserta mukena mereka, pergi ke masjid bersama-sama dan kemudian melanjutkan belajar – sholat isya – tidur.
“Seya, masuk… sudah maghrib.” Suara umi menghentikan nostalgia menyedihkan yang baru saja berputar di kepalaku. Aku menoleh ke dalam rumah almarhumah nenek yang cukup besar, namun rapuh. Tampaknya rumah nenek tak terawat dengan baik sejak keluargaku pindah. 10 tahun lalu. Saat aku menginjak kelas 4 SD, ayah memutuskan untuk mengadu nasib keluarga kami ke Jakarta, dan membawa seluruh keluargaku pindah ke kota Serang, kota kecil yang berdekatan dengan Ibu Kota Jakarta. Pada tahun yang sama dengan kepindahan kami, almarhumah nenek meninggal, sejak saat itulah rumah peninggalan nenek dan tempatku melewati masa kanak-kanak tak ada lagi yang merawatnya.
“Sholat maghrib, kemudian pergi ke ruang tamu. Ada yang ingin kita bahas disana.” Ucap umi kembali mengingatkan. Aku mengangguk dan lekas berlari menembus rumput-rumput liar di halaman belakang rumah nenek yang luas sebelum benar-benar gelap. Air keran dari sumur mulai mengalir dengan deras, airnya dingin dan segar. Salah satu hal yang tak bisa aku nikmati di rumahku sekarang, ataupun di kost tempatku merantau.
Selepas maghrib, sudah ada abi dan umi dengan seporsi teh hangat dan gorengan tahu aci yang sering umi masak di rumah Serang, tahu aci disini rasanya benar-benar enak, tahu nya merupakan olahan yang khas dan cocok digoreng dengan tambahan aci.
            “Kayaknya masalah penting abi nyuruh Seya pulang ke Tegal. Biasanya juga gak boleh, kan?” tanyaku, ada beribu rasa penasaran dari pertanyaan yang pendek. Ayah adalah seorang doctor di bidang ilmu komputer dan seorang insiyur lulusan teknik elektro Undip. Ayahku merupakan seorang yang berbicara irit, juga tak mudah dimengerti. Aku heran, bagaimana kisah umi dan abi bisa bertemu, karena ayahku bukan tipe yang romantis dan tak paham akan perasaan seorang gadis. Bagian terburuknya, aku punya tiga saudara, dan semuanya adalah perempuan.
            Abi berdehem, “Ini tentang sebuah masalah serius. Waktu itu, umi sama abi belum memutuskan untuk memberitahu ke kamu masalah ini.”
Aku masih diam mendengarkan, mataku berkedip sesekali, aku masih tak paham.
“kamu masih ingat tante Nia?” nama tante Nia sudah tak terdengar setelah kian lama, sejak aku masuk di bangku SMA tepatnya, tante Nia, seorang ibu dua putra yang sering membawaku pergi ke tempat-tempat menyenangkan jika aku berkunjung ke Tegal. Dan salah seorang anak laki-lakinya adalah sahabatku, yang sejak aku masih bayi, dia selalu menjadi ksatria dimanapun kapanpun. Aku mengendikkan bahu, tanda bahwa aku masih gak paham kemana arah pembicaraan ini.
            “tante Nia dipenjara. Terkena kasus korupsi.” Ucap abi to the poin. Bagian terpenting dari mengobrol dengan ayahku adalah selalu tepat sasaran, tanpa berbelit kemana-mana.
Aku kembali berkedip, otakku memaksa keras untuk berpikir. Dan tenggorokanku tercekat, “hahahaha. Abi gausah ngelawak deh. Gak lucu tau, bi. Huhuuu.” Jawaban yang ganjil. Dan meskipun aku tau bahwa seorang keras kepala seperti ayahku tak mungkin bercanda dalam suasana seperti saat ini.
Aku ingat kejadian 5 tahun yang lalu, saat umurku 15 tahun. Selepas pengumuman tanda kelulusan dan tes masuk SMA, rencananya aku akan berkunjung ke Tegal, menginap di rumah tante Nia dan bermain sepuasnya bersama Danial Putranto, salah satu anak laki-laki tante Nia yang juga sebaya denganku. Namun entah kenapa, abi dan umi melarang keras rencana liburan tersebut. Waktu itu, aku tak pernah berfikir tentang hal buruk mengenai keluarga Nial.
Abi menuangkan air teh Poci khas Tegal ke dalam tiga gelas yang tersedia disana, memakan beberapa kue buatan umi, dan menatapku penuh horror.
“Abi serius Seya. Dan bertanyalah pada umimu tentang apapun yang ingin kamu tau.” Ujar abi mengakhiri berita buruk hari ini.
“Bi, abi sama umi bela-belain ke Tegal cuman mau ngasih kabar itu? Bi, kenapa gak…” ucapanku terpotong saat sebuah tangan yang hangat menyentuh pundakku.
“Abi sama umi ada urusan di Tegal, rumah ini udah lama gak terawat.”
“Maksud umi, rumah ini mau dijual?”
“Dan sudah seharusnya kamu ketemu Danial, say hello sama dia. Nanti umi kasih alamatnya di bbm.” Umi mengalihkan pembicaraan, meski begitu aku hanya mengangguk. Memilih untuk tak membahasnya, sebagian diriku sebenarnya masih tak percaya tante Nia dipenjara atau sebagian diriku juga tak rela rumah almarhumah nenek dijual. Besok, selepas sholat subuh, mungkin saat itulah aku butuh jawaban pasti. Biarkan saat ini aku berfikir bahwa mungkin umi dan abi hanyalah bercanda, karena aku benci berita buruk.
___
Selepas sholat subuh, umi bercerita banyak perihal kronologis tante Nia. Meskipun begitu, orang tuaku selalu menuntut anaknya untuk mendapatkan jawaban sendiri. Dan umi juga berpesan kembali tentang Danial, aku sering memanggilnya; Putra Daniel. Namaku Senja Putri Firmansyah, aku suka menyandingkan nama Putra dan Putri yang melekat dalam nama panjang kita.
PING! Beberapa pesan BBM masuk, salah satunya dari umi.
-    Jalan Blimbing 2, nomer 23. RT 002 RW 016. Kelurahan Pekauman-Tegal Barat.
Aku teringat kembali pesan dari umi sebelumnya, “Jangan lupa salam dari abi sama umi untuknya yaaa Seya, dan berkunjunglah sore. Umi pikir Danial pulangnya sore."

PING! Beberapa pesan masuk lainnya dari Grup Triple S, sahabat-sahabatku sewaktu SMA di Serang.
-    Hey, Ja… pm lo kenape? Gaslawwww cieeh. @sarahsabilla
-    Iya nih, lo kenapa? Ceritaaaaaa. @shellaAp
Aku tersenyum. Malam sebelum tidur, karena gelisah, aku membuat sebuah pm:
Musibah Allah.swt selalu tepat, tetapi tawakal kitalah yang tak bulat. Ingat, kita punya Allah. Dan Allah tak pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya.

Aaah dasar sahabat sok kepo.
___
Hari ini, aku harus bertemu dengan Danial. Setidaknya, aku ingin kepastian soal tante Nia dan alasannya karena tiba-tiba menghilang begitu saja dan tak pernah meninggalkan pesan untukku. Sejak 5 tahun yang lalu.

Menjelang senja, dengan pashmina monochrome dan sepatu converse warna senada, aku pamit dengan umi, kebetulan abi sedang ke notaris, “jangan lupa bawa mukena. Dan sholat maghribnya juga, Seya.”
“Iyah mi, sudah Seya masukin nih ke tas. Assalamualaikum. Seya pulangnya malem loh.” Aku langsung berlari mengendarai motor lama ayahku menuju alamat Danial setelah mencium punggung tangan umi.
___
            Aku menunggu lebih dari 45 menit di depan sebuah pintu kayu yang tampak keropos, hanya sisa cat cokelat tua dan bahkan warnanya sudah tak dapat menutupi keseluruhan pintu. Bangunan tersebut tampak sederhana, beberapa pohon liar tumbuh di sepanjang halaman yang kecil, sangat rapi dan terawat, padahal itu hanya beberapa rumput yang biasanya aku temukan di padang ilalang kebun Eyang kakung. Karena lelah menunggu sang tuan rumah yang tak kunjung pulang, aku memilih berjongkok di bawah sebuah jendela yang sama rapuhnya dengan pintu ber cat cokelat. Seorang nenek yang berjalan dengan punggung agak membungkuk memberikan sebuah kursi kayu, aku tersenyum padanya tanpa sempat berucap terima kasih.
            60 menit berlalu… seharusnya aku mendengarkan saran umi agar tak perlu terburu-buru. Aaah, masalahnya aku sudah tak sabar bertemu dengan Danial. Dia merupakan sumber dari segala jawaban yang ingin aku dengar, sejak 5 tahun umi dan abi melarang keras untuk kunjunganku ke Tegal dan Danial hilang dari jangkauan yang bisa ku capai. Aku khawatir setengah mati. Rasanya aku ingin menentang apa yang selama ini dilarang orangtuaku.
            Dan tepat pada menit ke 65, seorang pria yang jauh lebih tinggi dariku mulai memasuki gerbang cokelat, gerbang dengan warna awal hijau, karena berkarat, warna hijau tersebut pudar. Ia menatapku dengan penuh tanda tanya: apa yang kamu lakukan disini?
Aku tersenyum hangat padanya dan melupakan kekesalanku karena menunggu, melihatnya yang kelelahan dengan pakaian penuh keringat, aku benar-benar melupakan mood jelekku.
            “Hai.” Aku berlari kecil kearahnya. Masih dengan senyuman terlebar yang pernah diperlihatkan kepada orang lain.
Danial masih tak bergeming, dia menghela nafas sesaat, “Senja?” sama seperti 5 tahun yang lalu, dia tak berubah. Saat memanggilku, aku yakin sekali. Danial tak berubah sedikit pun. Kecuali fakta bahwa dia bertambah tinggi dan kurus, juga ganteng.
            “Heh, lupa sama aku yah?” aku pura-pura cemberut, suasana tampak tegang. Aku hanya bingung darimana dan bagaimana caranya untuk memulai. Memulai bertanya.
“Sebelum kamu tanya macem-macem, aku kasih tau ya. Umi sama abi yang ngirim aku kesini buat minta penjelasan ke kamu.” Ucapku cepat. Sama seperti ayahku, kadang, aku selalu blak-blakan, juga to the point.
Danial memijit keningnya pelan, dan mulai mempersilahkan aku masuk.
            Di dalam tak begitu buruk, meski agak terlihat banyak perabotan yang sudah tua juga usang. Mungkin aku saja yang sudah terbiasa dengan kehidupan kota. Beberapa barang tertata rapi, ada sebuah rak yang berisi novel-novel berbagai genre berserta sampulnya menarik perhatianku. Kesukaan Danial, plus sifatnya yang perfeksionis tak aneh melihat bagaimana caranya dalam merawat barang-barang tersebut. Aku tersenyum. Dan sebuah bingkai foto keluarga, lengkap dengan tante Nia, Om Rudi juga Ardan –kakak Danial- menghentikan senyumanku.
            “Penasaran kemana mereka semua?”
Danial duduk di sebuah kursi jati yang tampak kokoh, satu-satunya benda yang paling bagus di rumah ini adalah sebuah kursi. Ia sudah berganti pakaian, rambutnya yang masih basah disisir rapi, dan sudah terdapat hidangan teh khas Tegal di meja samping. Aku ikut duduk, dan mulai mengeluarkan kue yang sudah sejak tadi dibeli saat melewati alun-alun. Roti bakar favoritku.
            “Eh, iya… em, gimana yah tanyanya?” ucapku mulai ragu.
            Danial tersenyum, bersamaan itu, cahaya khas senja menembus jendela yang sengaja terbuka, “Aku gak nyangka kita bisa ketemu lagi secepat ini.” Dan senyuman Danial adalah salah satu senyuman yang menjadi doaku selama ini. Aku masih diam, memperhatikan caranya tersenyum, bertanya-tanya apakah itu senyuman tulus atau paksaan?
            “Aku seneng, tapi juga malu.” Ucapnya lagi, ada kesedihan di matanya, sekilas. Hanya sepersekian detik, dan Danial pandai sekali menutup luka.
“Kenapa.” Ucapanku bukan sebagai pertanyaan sesungguhnya, hanya sebagai pernyataan.
Danial itu bukan sahabatku, dia lebih dari segalanya. Danial adalah duniaku saat itu. Dan fakta bahwa ibunya korupsi, ayahnya membawa kabur sejumlah uang tersebut dengan wanita lain, kakaknya yang entah menghilang kemana adalah fakta paling menyakitkan yang pernah aku terima. Keluarga kita dulunya sangat dekat.
            “Kamu tau aku harus jauhi kamu. Umi terseret dalam pengadilan karena nomer rekening yang mamah gunakan itu nama orangtuamu, aku yakin umi sudah cerita ke kamu.” Danial duduk di sampingku, kita berdua terdiam menyaksikan senja. Seperti masa kecil kita.
“kamu tau… terbenamnya matahari banyak sekali dimaknai sebagai fase penyempurnaan, dalam penanggalan islam, saat-saat lembayung merupakan saat-saat pergantian hari. Dan yah, dalam system penanggalan islam tersebut permulaan sebuah hari diawali dengan gema adzan maghrib, bukan pada jam 12 malam.”
            Ada jeda sejenak. Danial menghela nafas. Aku masih gak paham kemana arah pembicaraannya, “disetiap sore, selepas pulang dari aktivitasku, aku duduk disini. Menatap lembayung senja. Dan menunggu hingga suara muadzin berakhir pada laillahaillaullah.”
            Dari caranya mengucapkan kata ‘aktivitas’ daripada ‘bekerja’ aku sadar, Danial sedang membicarakan tentang dirinya.
            “Aku berfikir soal hari-hari di masa lalu. Kalau aku tau apa yang mamah perbuat, mungkin semuanya punya akhir yang berbeda. Tapi hey, nasi sudah menjadi bubur. Satu-satunya cara untuk menebus dosa adalah dengan bertanggung jawab. Kamu dan keluargamu, juga aku dan kak Ardan adalah korban dari ketamakan, Senjaaa… jadi, aku memilih jalan ini. Menjalani hidupku, mimpiku, juga berjuang sendiri menanggung semuanya, dan menjauhi kamu adalah satu-satunya caraku untuk meminta maaf kepada keluargamu, juga melindungimu.”
            Aku masih terdiam, dan membiarkan Danial menyelesaikan keseluruhan yang ingin ia ucapkan.
            “maaf….”
            Dan ucapan Danial berakhir pada satu kata yang sama sekali tak ingin aku dengar, “kenapa…. Kenapa kamu minta maaf Dani.”
Dan bodohnya, air mataku sudah sampai di ujung mata, jika aku berkedip sekali saja, pasti akan tumpah, mengalir di pipi dan berakhir pada kerudung pashimna.
      “di waktu lembayung senja menyapa, aku ingin melupakan masa lalu. Tapi kamu tau, masa lalu merupakan masa lalu, bagi beberapa orang, masa lalu tetap menjadi kenangan yang sulit terhapus. Terutama kenangan menyakitkan.”  Dani terseyum menenangkan. Dan ia mulai beranjak ke sebuah ruang tanpa pintu, hilang dibalik tirai, tepat saat muadzin mengumandangkan adzan. Dani kembali lagi dengan dua sajadah dan lengkap dengan peci juga sarung untuk sholat.
      “ayo sholat maghrib berjamaah di masjid dekat sini. Kamu bawa mukena, kan?” ia mengulurkan salah satu sajadahnya padaku, mendengar ajakannya, aku gagal menangis meraung-raung. Lupakan air mataku. Kita berdua berjalan bersisian menuju rumah Allah. Masjid.
      “akan selalu ada hari esok yang baru setelah lembayung senja hari ini. Aku senang umi dan abi sudah mengijinkan kita bertemu kembali. Dan aku bersyukur, sambutanmu hangat, tak membenciku, juga menerima maafku.”
Aku tertawa mendengar pendapatnya, “aku gak maafin kamu loh ya. Engga akan aku maafin sampe kamu bener-bener bisa jadi orang sukses. Kamu tetep punya kewajiban buat wujudkan impian kamu yang dulu, Dan.”
      Danial tersenyum, aku lebih banyak melihat senyuman daripada kesedihan, ataupun rasa bersalah, syukurlah. Aku berjalan mendahuluinya, meleletkan lidah dan berlari menuju tempat wudhu khusus perempuan.
      Begitulah lembayung senja sore itu berakhir. Memulai lembaran baru adalah satu-satunya jalan untuk kita memaafkan masa lalu. Selalu ada masa depan, selalu ada solusi pada setiap kondisi apapun yang pernah terjadi dalam hidup kita.

-END




Sunday, April 3, 2016

UNTUKMU "DEAR"

Hari-hari sebelum ini, aku berharap pada hubungan kita. Sayangnya, takdir berkata lain. Sekeras apapun aku menahanmu, pada akhirnya kamu tetap tak bisa aku miliki selamanya. 
Begitulah, awal mula kita berpisah.

Aku punya seribu alasan untuk tetap menahanmu. Dear, kamu berkata bahwa kamu tak akan berjuang kembali untuk tetap disisiku. Pada saat itulah aku tau, bahwa jika aku tetap berkeras untuk menahanmu, aku hanya akan membuat kita beruda menderita. 

Sejujurnya, aku bertemu orang lain. November rain, Lembayung, dan Senja-senjaku. Tapi kamu tetap Senja yang paling menarik yang pernah hadir dalam hatiku, dan hidup di sana. Kamu seharusnya bertanggung jawab.

Ahhh, tapi apa? Semuanya harus berakhir. Sekarang, kamu harusnya bertanya kabarku. Aku gak baik-baik saja sejak saat itu. Aku masih sendirian, dan aku gak ngerti kenapa orang-orang gak bisa hidup di hatiku layaknya kamu.

Dear, pada saatnya nanti. Aku berharap benar-benar bisa mengatakan bye yang sesungguhnya untukmu. 


-Nidake, yang ternyata belum bisa Move On.
Semarang, 03 April 2016.