Monday, October 26, 2020

DIENG 2018

Salah satu wish gue selama ini adalah bisa ke Dieng - Wonosobo, Jawa Tengah.

Liatin foto doi, eh dia deng... yang pernah ke Dieng tuh jadi gimana gitu.
Gamau kalah, ah!

Tahu-kan, gue suka banget sama yang namanya jalan-jalan sejenis super hemat ulala (*lah alay?). Suatu hari, gue kenal sama orang-orang macem mas Budi, mbak Diah, disamping Riska yeah guys. Ya kamu tau Riska? Dulu pernah gue bikin postingan khusus tentang dia, eh tapi dianya sekarang menghilang, sibuk sama orang lain, uye dilupain, tapi dia tetep sahabat terbaikkuuuuuuu di Semarang, hehe :(

Yah. Kembali ke topik.

Nah, setelah berabad-abad ketidak jelasan, akhirnya jadi ke Dieng. Naik motor, fix. Ber-3. Gitu.
Tadaaaah~ tanggal 2 Februari 2018 kita jalan. Yeay, pas banget samaan kayak tanggal gue pas ulang tahun. Cuaca cerah pula sampe balik lagi di Semarang. Alhamdulilah.

Sebelumnya, kita bingung mau nentuin tanggal berapa, ada satu orang lagi yang mau ikut. Biar genap gitu, dan yang nyetir cowok. Tapi yasudahlah ber-3 akhirnya jadi. Dan kita pun PP (Pulang Pergi) sistemnya, karena cuman ber-3 dan gamau rugi bayar nginep-nginepan. 

Pun sama persoalan kendaraan. Awalnya ribut soal bensin, dll. Akhirnya, naek motor (-__-) tauk, uye gampang masuk angin, paru basah, dan suka beser kalau kedinginan? Haha, tapi yagitulah setengah jalan aja udah mulai masuk angin, wkwk.

Kebiasaan, Nid!

Gue gamau khawatirin yang lainnya loh. Tapi gimana yaaa, sepanjang perjalanan badan gue tuh dah penuh angin banget. Ya Allah :( 
Aseli, mood ancur gak karuan gaenak badan. Dieng dingin banget.

Sesuai rencana, kita berangkat habis subuhan. Mas Budi bangunin aku lewat telepon. Dan rencananya juga dari kostan aku sama mbak Diah (btw, aku dan mbak Diah satu kost) berangkatnya.

Nah, mbak Diah harus nuker motor dulu di kakaknya. Sedangkan, aku dan mas Budi ke indomart beli minum, tisu, dan jajan, wkwk. Kita baru otw sekitar jam 06.00 wib kurang kalau gak salah. Perjalanan 4, 5 jam. Sampai sana jam 10.00 wib lebih.

Capek cuy, perih rasanya bokong oh pantat, hehe.



NB (tahun 2020) : Tulisan ini ditulis pada tahun 2018 dan belum selesai hingga sekarang, maklum kalau tidak ada terusannya dan sebagai gantinya, aku kasih foto-fotonya aja ya, teimakasih sudah meluangkan waktu membacanya, kenangan adalah hal-hal yang perlu di abadikan, saya menyesal tidak menyelesaikan ceritanya pada saat itu :')



Selfie ber-3

Ngomongin sejarah para mantan :)

btw, angin di tepi kawah gede banget loh sampe kita berdua merem semua fotonya :(

Jangan lupa ngopi, biar kuat mata.


Tuh kan merem lagi.

Candi apa? gatauuuuu :"(
Ya Allah pengen ke Dieng lagi...


mba Diah

Mas Budi

AKU








Tuesday, May 5, 2020

TRIPLE A 2020

Berawal dari penetapan team Lomba PMR sejak 8 tahun lalu, kita pada akhirnya mampu menjalin persahabatan hingga saat ini. Segalanya ga direncanakan kok, berjalan begitu saja, terpisah jarak kesibukan dan pasang surutnya teman-teman kita yang datang dan pergi sesuai fasenya. 


Kita biasa menyebut diri kita Triple A; Annisa, Annida, Aini. 

Banyak hal yang terjadi selama 8 tahun saling mengenal. Mulai dari kelulusan di bangku SMA, kuliah, mencari kerja, patah hati, patah semangat, hampir menyerah, sampai akhirnya kita masing-masing sudah mempu mencari uang sendiri meskipun belum semua mimpi kita wujudkan. Jalan kita masih panjang kan yaa :')

Sama mereka, pengen banget peluk dan bilang terimakasih, untuk sudah menjadi bagian dari melewati fase-fase itu. Untuk selalu ada dan menerimaku kembali apapun yang terjadi.
Beberapa fase kadang membuat watak dan sifat-sifat kita terbentuk. Untuk selalu tumbuh dan belajar bersama, saling mengingatkan dan menerima di banyak ego kita yang bisa saja membuat kita berselisih paham. Makasih untuk selalu memaafkan dan ga lelah saling mengingatkan.

Hehe.

Guys, bolehlah lihat foto-foto persahabatan kita sejak 8 tahun yang lalu. Tulisan ini ku dedikasikan untuk sahabat yang kusayang.

ini kita waktu SMA, sekitar tahun 2013
Lupa waktu kapan, kayaknya tahun 2014. Pas liburan bareng ya gus

Bisa kasih tau pas kapan? Pas kita liburan kuliah dan aku pulkam yaa ga :)

Hobi kita karokean ^.^
Tahun 2017, uwuwuwuwu


masih di 2017, foto pakai jas almamater masing-masing, hehe

2018 dan bentar lagi wisudaaa semuaaanya punya ijazah kuliah, yay. Alhamdulillah

Ainiiii lulus S1!!! Alhamdulillah bisa kasih surprise kehadiran ya sis ^.^

 tahun 2019, ulang tahun selalu ngadoin dan dirayain bareng sebagai bentuk pelestarian(?) persahabatan, wkwk


tahun 2020, bulan Januari. Trip ke Bogor bareng, yeyyy

Terimakasih sudah hadir dan terus bertahan dalam persahabatan ini, Triple A. Kusayang kalian :)




Sunday, May 5, 2019

Tentang Kamu

sumber gambar: google

Kita selalu menemukan orang-orang baru, selepas merelakan ia yang telah pergi. Siapapun itu. Orang-orang baru selalu datang, tak terduga. 

Dan aku, masih belum menemukan jawabannya. Tentang alasan-alasan semua hal, yang terjadi, tak terduga dan seakan punya arti. Kita semua mengerti, selalu ada yang datang kemudian pergi. Tapi untuk tujuan apa?

Selepas wisuda, tujuan banyak orang-orang yang dahulunya dekat denganku sudah berubah. Gak lagi pada tujuan yang sama. Kita bukan berpisah, kita hanya jalan di arah yang berbeda. 

Selepas out dari tanah rantauku, Semarang. Aku kehilangan banyak teman-teman yang dulunya kemana-kemana bareng, menjadi masing-masing, asing, jauh dan untuk menyapa pun sungkan. 

Selepas putus dan patah hati, pun sama. Aku hanya terus berfikir tentang satu hal. Seseorang pernah bilang, "Temukan pagimu, selepas senja itu pergi."

Pada akhirnya, aku punya satu jawaban: ikhlas.

Melepaskan memang gak mudah, mengikhlaskan pun gak segampang itu, butuh waktu, butuh keyakinan, dan butuh rasa percaya... bahwa, kamu bisa. Untuk lebih baik lagi, menemukan, mencari, terus bergerak, berbahagia.

Episode catatan postingan ini adalah tentang kamu, yang datang selepas patah hati kesekian kalinya. Kamu menawarkan kebahagiaan, disisi lain kamu juga menawarkan luka. Kok bisa?
Satu. Prinsip kita berbeda.

Hey, aku pernah menjadi seseorang yang sesabar itu hingga akhirnya menyerah. Kamu membuatku tidak menjadi diriku sendiri. Itulah alasanku menyerah.
Aku gatau, setiap kali kamu bertanya padaku tentang banyak hal yang pada akhirnya kusadari, "Kita tak pernah satu tujuan."


Jangan terlalu sibuk pada apa yang ingin kamu capai, cobalah nikmati waktumu bukan untuk hanya bekerja. Cobalah lebih peka lagi, cobalah memahami seseorang dari sudut pandang yang berbeda. Cobalah menjadi pendengar yang baik jika kamu tak bisa memberikan apapun, Dan jangan pernah berjanji jika akhirnya akan kamu ingkari.

Aku pamit. Eposide ini adalah episode terakhir tentangmu pada hari-hari yang kulalui. Bersamamu aku pernah merasakan punya masa depan yang pasti, bersamamu aku pernah belajar rasanya menunggu, bersamamu aku pernah merasakan aku memilikimu tapi sebenarnya aku tetap kesepian.



"Suatu saat kau akan mengerti, mengapa sesuatu datang dan pergi. mengapa sesuatu tetap tinggal, mengapa seseorang yang mengaku ingin tinggal tapi tiba-tiba pergi. Suatu saat kau akan mengerti, bukan dengan jawaban, tapi dengan pengganti yang sepadan." -sdavincii


Dariku, yang sudah mulai ikhlas melepasmu
Annidake

Selamat Tinggal Kamu

Tulisan ini di dedikasi untuk kamu. Yang kuharap akan sedikit meluangkan waktumu untuk membacanya sejenak. 


Hai, mas. Apa kabarmu? rindu aku gak? hehe. Apakah hanya aku saja yang rindu kamu? Dari sekian harap, aku sudah mencoba memperbaiki banyak hal di dalam hubungan kita. Aku mencoba, sebisaku, semampuku, apapun itu. Iya. Udah kucoba apapun, ingat?

Berulang kali kutanyakan kamu, "kenapa?"
berulang kali aku meminta penjelasan kamu, "ada apa, ngomong...."
Aku bahkan sudah memberi cukup ruang, cukup space, dan cukup jarak. Belum cukupkah semua itu?

Hei, mas... pada akhirnya, di keputusan akhirku... aku memilih mundur.
Bukan karena ada pria lain, bukan karena jenuh, bukan pula karena rasa sayang dan cinta aku ke kamu itu hilang. Aku mundur, aku pamit, aku pergi, aku memilih terluka sekarang. Aku memilih berhenti berjuang, sebab kamu tak pernah lagi menghargaiku.

Ketika cerita tentang kita usai, saat kamu memutuskan untuk melepaskan tanganku, saat aku memilih untuk membuat keputusanku agar berhenti. Saat itulah, aku menyadari beberapa hal tampaknya tak pernah membuatku cukup bahagia dan menjadi diri sendiri bersamamu. Aku sempat ragu dan merasa menjadi orang paling menyesal pada awalnya. 

Hai, mas. Makasih ya, darimulah aku belajar artinya sabar dan kedewasaan dalam menanti. Aku sudah cukup. Cukup sampai disini. Kamu perlu tau, aku telah berusaha semampuku, sekuat tenagaku, terus mencoba memegang tanganmu dan mencari pundakmu disetiap ku ingin bersandar. Waktunya aku pergi, jangan pernah berharap waktu akan mempertemukan kita kembali untuk hal yang sama. Kuharap, waktu akan mempertemukan kita berdua untuk mengingat bahwa aku dan kamu pernah menjadi kita untuk sama-sama belajar. 

Kamu pria yang baik, semoga Allah.swt mempertemukan kamu dengan perempuan yang lebih baik lagi daripadaku :')





Dariku, yang waktu itu pernah memohon padamu untuk tidak pernah pergi
© Annidake

Wednesday, March 20, 2019

Definisi Senja yang Tak Terjawab

"Senja seindah apapun yang kamu jumpai, akan menghilang di penghujung hari."  --Akhir, 2018


Hari itu, aku menyadari ada banyak senja-senja yang pernah hadir di hidup seseorang. Definisi senja yang sesungguhnya itu apa?

Sama seperti layaknya kita mencari arti jati diri kita, kita mencari definisi senja kesana-kemari. Seseorang pernah bilang padaku. Meski dipenghujung hari senja yang indah akan menghilang, esok ia akan datang kembali jauh lebih indah, berilah waktu untuk senja, biarkanlah menghilang, sambut malammu, begitulah caramu mengetahui bahwa senja bukanlah perpisahan. 

Ya. Definisi yang terlalu dalam, bukan? aku pun gak paham. Sampai sekarang.

Juni kemarin di 2018, baru saja kutulis sebuah kata perpisahan tentang melepaskan. Juni itu pula seseorang bertaruh padaku dalam piala dunia, menawarkan padaku komitmen, memberiku banyak janji-janji yang akhirnya kumakan bulat-bulat dan mengatakan banyak hal lain tentang masa depan bersamanya. Patah hati memang selalu menghadirkan kesempatan-kesempatan lebar bagi orang-orang semacammu. Lagi, kaupun mengerti. 

Aku menerimanya, yang kemudian dipatahkan kembali dengan sebuah kata, "Maaf."
Semudah itu? Lucu, kan. 

Pada November 2018, kamu pernah mengatakan padaku tentang hal-hal yang ingin ku tanyakan, "Ketika fasenya datang... Kalau nanti begini... Kamu bakal begitu gak.... Kamu janji?"

Hari itu, kamu berhasil menyakinkan aku untuk memilihmu, "aku gak main-main," katamu. Semuanya dipatahkan dengan ketika kamu akhirnya melepaskan tanganku.
"Maaf. Mari kita saling memperbaiki diri dulu yaa Annida. Aku yakin, kalau kita berjodoh. Akan ada kesempatan lagi untuk kita berdua."

Hey, kamu melepaskan tanganku. Kenapa aku harus terus berjuang pada hati yang tidak ingin diperjuangkan? Kenapa aku harus mengharap? Kenapa aku harus memohon agar kamu tetap memegang tanganku? Sesabar apapun aku, bagaimanapun aku berusaha untuk mempertahankan kita, seberapa kerasanya aku mencoba mengalah, memberimu space, kamu tetap melepaskan.

Pada akhirnya, aku mengerti. Kamu sama saja. Seperti laki-laki lain yang hanya berjuang di awal. Kamu belum mampu membuat komitmen, kamu kekanakan, puas?
Kamu bahkan gak mencoba memahamiku, seberapa keras usahaku, gak pernah kamu hargai. Aku menyerah dan memilih untuk berhenti, sebab  hubungan adalah tentang dua hati yang saling berjuang dan ketika salah satunya berubah, maka pilihan terbaik hanyalah mundur. 

Hari itu, saat kamu melepaskan aku, aku menyadari... hubungan kita sudah lama tidak pada satu frekuensi.Tak akan pernah ada kesempatan keduakah?

Aku sudah memberikan seluruh kesempatanku, yang akhirnya kau sia-siakan lagi. Daripada sibuk berharap, aku lebih memilih sibuk untuk belajar mengikhlaskan. Jadi, tolonglah... berhenti memberiku harapan-harapan yang pada akhirnya kamu katakan sebuah permintaan maaf lagi di akhir cerita. 

Kisah kita sampai disini, ya. Maaf. Kesempatanmu sudah habis. Biarkan aku mengikhlaskan segala luka ini. Biarkan aku belajar lebih baik lagi. Menemukan yang lainnya.

Dear kamu, makasih ya. Untuk segala hal. Meski bukan ini akhir yang aku harapkan, kamu pernah membuatku percaya kembali pada hal-hal sederhana yang bisa seseorang berikan. Kamu pernah  membuatku bersinar dan berpijar, kamu pernah membuatku merasa menjadi berarti, membuatku belajar sabar. Tuhan mengirimmu agar aku bisa lebih tangguh lagi menerima luka. Dimasa depan, semoga kamu menemukan seseorang yang jauh lebih sabar daripada aku, menyayangimu jauh lebih dari aku, mememberikan cinta dengan tulus dan tak pernah menyerah untuk terus berada disisimu. Semoga. Aku pun juga, akan menemukan orang yang satu frekuensi denganku.

Aku benar-benar pamit. Selamat Tinggal Senjaku pada Februari 2019!!! 






Dariku, yang kembali dipatahkan
 Annidake