Showing posts with label MY STORY. Show all posts
Showing posts with label MY STORY. Show all posts

Wednesday, January 1, 2014

[CERPEN] LOVE IS THE MOMENT Part 2

Love is the Moment
(Part 2)


A cerpen by Annida Sholihah dan Annisa Aprilia

“Bisakah waktu berhenti saat ini juga? Aku menyesal pada semua yang terjadi di hidupku. Lalu, ini salah siapa?”

Aku berlari sejauh yang aku bisa, berusaha sebaik mungkin agar tidak menangis, air mataku hampir tumpah. Kata-kata ibuku –ibu kandungku- selalu tergiang-giang begitu saja, menerobos masuk ke dalam pikiranku.
‘Jangan lemah Reinna. Kamu bukanlah gadis lemah, kalau bunda sampai melihatmu menangis lagi. Jangan harap mendapat belas kasihan’
Aku menghela nafas kesal, menghapus sisa-sisa air mata yang terlanjur membasahi pipiku tanpa permisi. Dengan langkah yang mantap aku berbelok arah. Terkejut, tak menyadari aku telah berlari sejauh ini. Pelajaran ke-empat pasti sudah di mulai. Aku mempercepat langkah. Berharap waktunya belum terlambat.
“Sial” umpatku dengan nafas terengah. Aku menatap pintu ruang kelas yang tertutup rapat. Pelajaran ke-empat sudah di mulai. Bu Nengsih akan memberiku hukuman yang mungkin tak akan sanggup aku penuhi.
Aku mengetuk pintu. Tertawa samar menatap ekspresi guru Sejarahku. Tak ada yang lebih memalukan dari pada berdiri di depan kelas dan di marahi habis-habisan. Tapi pada akhirnya,
“Ke kantor setelah pulang sekolah Reinna! Jangan harap kamu akan lulus pelajaran ibu jika kabur lagi” Ucapnya langsung pada topik. Aku hanya bisa menghela nafas menahan air mataku keluar -lagi-
Ingin aku menjawabnya “ya” tapi sudahlah. Aku tak akan mampu, yang bisa aku lakukan hanya menunduk. Bu Nengsih mempersilahkann aku agar duduk. Sisa pelajaran hari itu, aku tak bisa fokus. Sialan!
            Di ujung ruang kelas. Bangku kedua dekat jendela dan meja guru. Tyo diam-diam memperhatikanku. Menatapku dengan prihatin. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Aku tak peduli dengan tatapan itu, pikiranku sudah rued sejak dua bulan belakangan ini. Bahkan untuk sekedar mempersiapkan diri dengan hukuman ‘pulang sekolah’ saja sudah membuatku mual.
 Pada akhirnya bel pulang berbunyi. Seseorang menghampiri mejaku.
“Hey Na. Mau aku temenin ke kantor?” Ucap Tyo menawari. Ada nada bercanda dari cara bicaranya, tapi aku yakin dia tak sedang bercanda. Lebih ke arah cemas. Mungkin.
Aku menatapnya sinis. Tyo merupakan sahabatku sejak SMP. Tiada hari tanpa Tyo. Dan rasanya akan membosankan jika tak bertemu dengannya. Sejak orang tuaku bercerai, ayahku menikah lagi dan kedatangan Vionna di kehidupanku, di keluargaku. Semuanya berubah. Aku berfikir sepanjang sisa pelajaran hari ini dan membuat kesimpulan ‘mungkin ini salah ayah dan bunda’. -kembali ke dunia nyata- aku mengangkat bahu, meninggalkan Tyo begitu saja, sebelum melewati pintu aku menatap Vionna sejenak, ia tengah merapikan buku-bukunya.

“Suatu hari, orang-orang akan tau bahwa aku itu lemah. Maafkan aku bunda. Mungkin aku tak akan  sanggup menepati janjiku”

            Dengan langkah yang berat aku menuju kantor –ruang guru- Bu Nengsih tengah duduk di salah satu deretan meja khusus guru. Aku menghampirinya,
“Berikan ini ke orangtuamu” Ucapnya –lagi-lagi- tanpa basa-basi. Melemparkan sepucuk surat ke arahku.
“Apa ini bu?” Aku bertanya dengan polos
“Pemanggilan orang tuamu, kalau sampai…” Kata-katanya terpotong oleh orang yang tak tau sopan santun, akulah orang yang tak sopan itu.
“Tolong batalkan” Ucapku lirih, bu Nengsih terkejut. Menatapku tak percaya. Ini pertama kalinya aku berkata begitu tak sopan. Di lingkunganku. Guru adalah orang yang sangat di hormati.
Dari jauh, seseorang mengamati apa yang sedang terjadi. Tak ada yang tau siapa itu. Sambil memegangi tas-nya, bu Nengsih berdiri,
“Orang tuaku bercerai dan menikah lagi, sejak saat itu kehidupanku berubah. Tolong aku bu. Aku akan menerima hukuman apapun, tapi jangan yang ini…” air mataku mengalir. Persetan dengan ancaman Bunda!
“Aku minta maaf ibu… Kalau nilaiku juga harus di kurangi. Itu gak apa-apa”  sikap seperti ini sudah terlalu jauh. Bu Nengsih menatapku prihatin.
“Hukuman peraturan nomer 2 ayat 3. Masih ingat? Lakukan itu” Dan yang aku tau kemudian adalah ia menghilang di balik pintu. Aku menghela nafas lega, menghapus air mataku. Sebelum yang lainnya melihat.
Hukuman nomer 2. Hukuman dalam bentuk skors dengan jangka waktu. Ayat 3, jenis hukumannya adalah membersihkan kaca jendela. Selama seminggu penuh, sepulang sekolah.
Bagiku, itu lebih baik. Aku punya waktu yang lama di sekolah. Bukan tanpa alasan lagi.  Aku bergegas pulang dengan motor Spacy sebelum hujan benar-benar tuun.
Orang yang tadi mengintip diam-diam itu menyandarkan bahunya di balik pintu, menghela nafas panjang. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
***
“Setiap tindakan selalu punya alasan, aku berharap. Seiring dengan usiaku. Aku bisa memahami alasan mereka melakukan hal itu”

Ini hari pertamaku menjalani hukuman. Aku sengaja pulang terakhir agar mereka tak curiga –menertawakanku, membuat gossip di kantin, mengejekku- seperti itulah. Dengan berat hati, aku mengambil satu stell lengkap alat pembersih kaca, yang aku beli dengan sisa-sisa uang jajanku. Tanpa aba-aba seseorang mengambilnya dari tanganku. Siapa lagi jika bukan Tyo. Ia nyengir dan berlari sebelum aku memakinya. Pada akhirnya, aku mengalah dan mempersilahkan agar Tyo bisa membantuku.
“Hukuman ini terlalu sepele” Ucapnya memecahkan keheningan. Aku hanya diam saja.
“Kamu tau… Ini hal yang tak pernah bisa aku terima, sampai kapanpun” Tyo duduk di salah satu kursi yang sengaja berada di sana. Aku masih pura-pura sibuk dengan debu di jendelaku.
“Jangan pura-pura kuat, jangan juga menangis sendirian, jangan membenci mereka, jangan pula bersikap seperti ini –tak pernah tersenyum lagi-“ _________ “Alasan. Kamu pernah bilang ke aku mengenai hal itu, coba pikirkan. Mereka mungkin punya alasan” Tyo melanjutkan, tanpa sedikitpun menoleh padaku.
“Tante. Ibu kandungmu itu, memberiku tugas yang cukup akan membuatku menyesal jika tak aku pegang dengan baik”_______ “Dia juga memintaku memberitahumu hal ini” Tyo berdiri di sampingku, mengulurkan tangannya, mengaitkannya pada tanganku. “Jaga Reinna baik-baik dan buat dia tersenyum. Begitulah…” Tyo memasang ekspresi lucu yang menyedihkan, seakan hal itu baginya sangatlah berat. Aku tak bisa menyembunyikan tawaku. Hari ini, untuk pertamakalinya dalam dua bulan terakhir, aku kembali tertawa.
“Tuh kan kamu ketawa” Ujar Tyo kemudian. Aku memukul lengannya pelan.
“Siapa suruh pasang muka begituan” dalam hati aku mengatakan ‘terima kasih’ untuknya. Aku bersyukur bertemu dengan sahabat seperti Tyo.
            Tyo berbicara panjang lebar mengenai pertemuan terakhirnya dengan ibuku. Sebulan sebelum ayah mengumumkan untuk menikah lagi. Ibuku pergi ke luar negeri, ini seperti bentuk pelarian diri. Lalu, ia juga menceritakan perihal Vionna.
“Jangan membencinya” Kata Tyo serius. Aku tak bisa berjanji. Tapi mulai saat ini, dengan pesan atau lebih tepatnya permintaan terakhir ibuku. Aku akan mencoba memahami mereka dan berhenti menyalahkan ayahku. Dengan enggan aku mengangguk beberapa kali. Hari itu, aku pulang bersama-sama dengan Tyo. Seperti biasa. Dengan motor kami masing-masing.
***
 “Yang aku tau dari cinta. Cinta itu… Karena cinta kita bisa bertahan, karena di sanalah tempat kita bersandar. Saat tak ada lagi harapan yang membuat kita bisa terus berdiri. Pikirkan tentang cinta. Pikirkan tentang semua yang terjadi. Cinta itu…”

          Ibu ‘tiri’ ku menyambut kepulanganku dari sekolah dan berkata dengan cemas,
“Sesuatu terjadi? Akhir-akhir ini kamu selalu pulang di atas jam 5 sore” Dengan celemek yang masih rapi terpasang di tubuhnya, ia memberiku secangkir teh hangat. Mengingat janjiku, aku mengambilnya meminumnya sedikit dan langsung berlari menuju kamarku di lantai dua. Di ujung tangga Vionna menatapku dan tersenyum hangat.
“Sudah pulang Dik? Pasti melelahkan ya?” Sambutnya, umur kami sama, hanya saja. Ia lebih dulu lahir di bandingkan aku. Jadi, dialah yang berstatus sebagai kakak.
“Ada air hangat di kamar mandi. Ini musim hujan, aku khusus membuatkannya buat kamu” Sambungnya kemudian. Aku menatap kamar mandiku dan benar saja, airnya hangat. Tanpa berlama-lama, aku mandi di bak yang katanya –di persiapkan khusus untukku- ini.
Aku banyak melamun, mengingat kembali yang ayah-bunda-kak Radit lakukan di masa lalu, alasan-alasan lain, kedatangan ibu tiri-ku, Vionna, dan kata-kata Tyo tadi sore. Adzan Magrib sudah berkumandang. Aku masih di bak mandi. Memikirkan semua itu.

Monologue Bunda  -dalam suratnya-
“Reinna.  Pertama. maafkan Bunda karena pergi begitu saja…
Jangan  benci ayahmu dan cobalah bergaul dengan Vionna…”
Aku mengingat-ingat kembali pertemuan pertamaku dengan Vionna. Tangannya yang hangat, senyumnya yang tulus dan kebaikkan-kebaikkannya yang selalu di akhiri dengan kata-kata ‘Khusus untukmu Rein’ aku tersenyum.
 “Dia gadis yang baik, jika kakakmu terlalu cuek untuk peduli denganmu. Cobalah bersandar pada kakak perempuanmu. Vionna. Jadi, jangan membencinya. Untuk Radit. Tolong sampaikan salam bunda padanya, suruh dia belajar yang rajin dan menepati janjinya”
Aku mengingat kak Radit yang akhir-akhir ini jarang pulang. Aku mencoba memakluminya. Dari kecil sampai sekarang. Kak Radit memang seperti itu, tapi aku dan bunda tau, kak Radit punya hati yang hangat dan sensitif. Aku bertahan selama ini karena kak Radit.
“Dan terakhir, sampaikan salamku pada ibumu yang baru. Jaga ayahmu baik-baik ya nak. Semua ini, kesalahan yang sudah kita lakukan. Bukan salah siapa-siapa. Suatu hari kamu pasti akan mengerti. Ayahmu mencintaimu dan keluarga barunya juga mencintainya. Mereka orang-orang yang baik. Jadi, percayalah padanya Reinna”
Aku selesai mandi, memakai baju tidurku. Perutku lapar dan aku langsung melesat menuju dapur. Di jalan menuju dapur. Langkahku terhenti. menatap ayahku yang tengah tertawa di ruang keluarga. Dengan ibu ‘tiri’ ku dan Vionna di sampingnya.
“Ayahmu bahagia kan? Lihatlah. Hati bunda sudah tenang mengetahui kenyataan ini. Bunda juga ingin mencari kebahagiaan sendiri. Jadi, Reinna… Lakukan hal sama. Bergabunglah dengan mereka, tertawa bersama…”
Aku masih merenung di tempatku, panggilan dari ibu ‘tiri’ ku membuyarkan semuanya.
“Reinna, sudah selesai mandi? Ayo ke sini. Ayahmu punya cerita lucu”  Ucap ibu ‘baru’ ku
Aku menghampiri mereka, yang aku tau aku pasti tidak akan tersenyum atau bahkan tertawa. Tapi aku salah. Aku tiba-tiba saja ikut tertawa mendengar cerita ayah. Tanpa sadar, aku mulai beradaptasi dengan keluarga baru ini. Aku tak lagi membencinya. Aku bahkan mengobrol banyak hal dengan Vionna. Bertukar rahasia dengannya.
***
          Mulai pagi ini, aku berangkat bersama-sama dengan Vionna –berboncengan- Bahkan aku mulai sarapan masakan ibuku. Aku selalu kemana-mana dengan Vionna. Bahkan kami juga pernah melakukan hal paling memalukan bersama. Misalnya –mendandani muka kami, dengan make-up berlebihan- Tyo yang menyadari aku sudah kembali menjadi Reinna yang dulu sangat senang dan juga sedih.
“Jadi aku gak boleh ikut?” Rengek Tyo saat tau kami akan pergi ke suatu tempat bersama, sepulang sekolah. Dengan kompak, aku dan Vionna melarangnya.
“Tidak!”
“Kamu kan cowo Tyo!!! Apaan. Main sama teman cowokmu sana.” Sambungku
“Agak aneh kalau kamu ikut, kata-kata Rein ada benarnya juga” sambung Vionna kemudian. Tyo tetap merengek minta ikut. Dia bersikeras kalau hal itu bukan hanya khusus cewek saja. Cowok juga bisa.
          Dan di sinilah kami, sepulang sekolah. Suatu tempat yang kami maksud. “Salon”. Tyo hanya menatap kami di salah satu kursi yang kosong dan bergumam cukup keras. Sengaja agar dapat di dengar oleh kita berdua.
“Ya ampun, sulitnya bersahabat dengan cewe yeah!”
Kami cekikan, aku menoleh ke arahnya dan menjulurkan lidah. Begitulah hari-hari yang aku lalui, aku menjalaninya dengan perasaan berbunga-bunga setiap hari. Aku hanya berpikir, aku beruntung ^-^

“Cinta itu datang dari hatimu. Bagaimana kamu memandang dunia dan orang-orang sekitarmu. Cinta datang dari sana. Cinta adalah kesederhanaan. Cinta adalah pengalaman paling berharga di dunia”

THE END

Komentar : 

Ini part 2 ya. Part 1-nya di blog Nisa San. Sudah di kasih link-nya di sini [LINK] PART 1
Aku juga udah janji mau ngasih tau apa sih pesan moralnya. Gak mau berpanjang-panjang. Tadinya besok saja 'waktu' buat nge-post cerpen ini. Biar greget. Karena takut gak keburu. Berhubungan dengan aku mau ada rapat LPJ di Sekolah. Jadi deh malam ini ckck 

Oke, apa pesan moralnya? Love is the moment. Ada yang tau gak kenapa kita ngasih judul itu? Aku pernah cerita -dalam postingan lain tentunya- kalau aku dan Nisa ngobrolin ide project ini tengah malem. Yang saat itu aku lagi galau keterlaluan. Gara-gara kak Lee Min Ho. Aku gak bisa move on dari drama-nya. Yang udah sebulan tamat! Pffffffft

Aku dengerin lagu ost-nya baik-baik dan simak liriknya. Karena pake bahasa Korea, otomatis aku gak akan ngerti. Jadi deh aku buka sahabat setia -a.k.a google.com- di sana aku mencoba meresapi dan apa yang ada di benak aku? Cinta. Cinta dan Cinta. 

Pernah jatuh cinta? Tidak? Pasti pernahlah ya. Cinta itu rumit. Cinta itu.... 
Cinta bukan hanya dengan lawan jenis, cinta juga bisa dengan sesama jenis. Misal: dengan adik kita dan cerita ini mengajarkan kita bahwa cinta bisa datang dari hatinya. Sama seperti hal baik atau buruk. Cinta itu pilihan. Pilihan mengenai apakah kita mau bahagia? atau tidak mau?

Pilihlah. Akan ada selalu konsekuensinya dalam setiap pilihan. Setelahnya, biarkan apa kata Tuhan. Dia yang lebih tau, Tuhanmu. Kalau Tuhanku kan Allah.swt :* 
Kembali ke topik, kita bisa membenci seseorang yang sebenarnya baik, menyayangi, dan bahkan berharap kamu tidak membencinya -minimal- seperti tokoh Rein dengan saudara tirinya -Vio- Memang Reinna punya alasan kenapa dia membenci Vionna. Tapi, apakah itu membuat Rein bahagia? Itu hanya siksaan. Pada akhirnya Rein tau itu.

Cinta bukanlah paksaan, bukan pula kesalahan. Sama seperti peristiwa perceraian orang tua Rein. Mereka dulu saling mencintai tapi kenapa sekarang harus menandatangani kata 'cerai' seperti yang Nisa San katakan. Manusia mana sih yang sempurna. "Namanya juga manusia..." ya kan? 

Dan sekali lagi hal itu bukan salah cinta. Lalu berbicara mengenai cinta panjang lebar begini. Apa intinya? 
Inti dari cerita ini, dalam pandangan setiap orang pasti beda-beda. Aku yakin deh. Yakin banget malahan :p 
Maka, silahkan buatlah pendapat sendiri. Kita manusia sosial. Di lingkunganku, aku dididik untuk selalu punya yang namanya opini dan kritikan dalam suatu hal. Tentu saja ada batasannya. Dan tentu saja aku gak selalu harus mengatakannya. Melalui tulisan. Seperti Cerpen ini. Aku... secara tak langsung. Memberikan opini pada apa yang telah aku lalui dalam kehidupanku. 

Dalam suatu sumber yang pernah aku baca. Seorang penulis tak pernah lepas dari kehidupannya. Masa kecilnya, masa lalunya, pengalamannya, dimana dia di didik, di besarkan. Tak lepas dari hal-hal begituan. Aku pikir, suatu hari nanti aku bisa membuat karya yang punya banyak kritik tersembunyi di dalamnya. Terima Kasih. Dan sekian.


NB : Ngomong-ngomong gambarnya (cover) itu bagus gak? asal pilih pffffft dan aku gak baca ulang nih, kalau ada yang typo maklumi sajalah kekeke ^-^ 

[CERPEN] I LOVE YOU, BUT... (Part 2)

“I Love You. But…”
(Part 2)
A Cerpen by Annida Sholihah
A story inspiration by Ibu Siti Khodijah



Flashback ke belakang :
Rian berlari di sekitar komplek dan menerobos masuk ke kamar Arif begitu saja. Saat Rian tengah mengatur nafasnya sebelum mengatakan sesuatu, Arif melongo penuh tanda tanya.
“Gawat bung, gadis yang kamu sukai itu…” Ia masih terlihat tengah mengatur nafasnya
“Aaaah lupakan saja diaa” Ucap Arif memahami topik pembicaraan.
“Gabisa. Gabisa, bung! Sadarlah. Dia bisa di ambil orang”
“Terus?” Dengan sikap yang tak peduli, Arif kembali fokus pada lembaran milik Reki yang tadi siang dia lupakan. Diam-diam ia menyesal kenapa tadi tak mengunci pintu kamarnya.
“Aaaah, gossip itu, sudah tau belum, bung?” ______ “Si cowo itu, katanya dia akan ‘menembak’ Sinta! Gak akan saya biarkan!”
Arif terkejut, buktinya ujung pensil yang tengah di gunakan itu patah. Pensil yang malang…
“Apaaa?”
“Tulis surat saja! Itu ide yang baik. Dari pada mengatakannya duluan? Aaaah ya ampun mana berani bung?” Cerocos Rian sok tau, tapi memang benar. Kenyataan berkata begitu.
Arif tampak berpikir. Lalu hanya mengatakan,
“Serius?” Tanyanya
“Huh?” Si cowo polos –Rian- kebingungan “Dua rius bung! Saya denger sendiri!” pffft
“Eheh. Bukan itu, surat. Maksudnya suratnya, bodoh!” Mau tak mau, Arif harus mengetok dahi Rian setidaknya sekali.
“Ampunlah bung. Cepat buat suratnya sekarang. Tak harus saya yang membuatnya kan?” Ucapnya, khas Rian sekali. Arif hanya menatap sahabatnya kesal, campur geli. Ia mulai mengambil alat-alat tulis, kertas A4 dan mulai menuliskan kata-kata puitis. Sambil menghela nafas lega, Arif menutup pulpen hitam yang lebih mirip spidol tebalnya. Belum apa-apa Rian sudah kabur, dengan surat yang baru saja Arif tulis.
“Rian!!!!!!!!” Teriak Arif membahana.
Flashback End.

Rian terkikik geli, apalagi saat tau sahabatnya ini lebih memilih memanggil Nana. Seharusnya kan…
“Diem di tempat!” Ancam Arif
Nana semakin dekat, ia tersenyum lebar-lebar. Beberapa gadis saling berbisik-bisik. Dan beberapa anak laki-laki saling suit “Cieeeeeeee cieee” atau “Waw! Nana sang fotogenic di panggil Panggeran es !” atau “Ayo Nana, ekhmmm” seperti itulah…
Gadis-gadis mulai sirik dan saling sindir, beberapa tak tahan dan merasa envy. Parahnya, ada yang menangis begitu saja saking shock-nya.
Arif stay cool, tetap tenang dalam situasi seperti ini. Ia sudah kebal. Tampaknya.
“Nih! Buat sahabatmu, berikan ya” Ucap Arif pelan tanpa basa-basi. Saat Nana masih di dunia fantasinya. Spontan Nana terkejut. Ia masih kebingungan.
“Jangan tanya dua kali, please?” Ucap Arif, untuk yang kedua kalinya.
Menahan malu sekaligus kesal, Nana tertawa. Tapi tetap menerima surat-nya. Ia berlari kecil menuju tempat dimana Sinta duduk. Menatapnya kecewa.
“Nih” Nana menyodorkan kertas A4 itu dengan paksa “Buat kamu, ternyata. Sinta” Sambungnya penuh nada kekecewaan. Ia segera berlari. Tak mau orang lain tau bahwa ia hampir saja menangis. Sinta mengerti, cukup dewasa untuk tidak mengejarnya. Terutama untuk menghindari kecurigaan orang lain. Gadis-gadis mulai berbisik, semakin seru. Yang laki-laki penasaran. “Bung, si Arif itu bicara apaan sih?”, “Woaaah, Envy sekali”, “Pangeran es bicara dengan perempuan?” “Eeeebuset, kayaknya si Nana kaget gitu ya?”
Dalam sekejab, gossip itu beredar luas. Ada yang bilang, bahwa gossip bisa beredar lebih cepat daripada angin. Benarkah?
          Nana terisak di ujung bagunan tua sekolah yang sepi. Sedangkan di tempat lain. Terlihat Sinta yang tengah diliput rasa penasaran berlari ke arah yang berlawanan. Arif sekilas menatap kepergian Nana dan Sinta bersamaan, merasa sedikit bersalah. Kemudian ia meninggalkan tempat itu di ikuti Rian dkk. Acara gossip-gossip, menjerit, dan saling bisik-bisik akhirnya bubar.
Nana mengambil sesuatu dalam tas-nya, Sinta membuka sebuah pintu dan Arif memikirkan tindakannya tadi yang sangat keterlaluan –terutama untuk Nana- Di sampingnya, Rian ngoceh tak karuan bak burung beo.
Beralih kembali ke Sinta. Ia membuka kertas putih A4 yang tadi di berikan Nana, yang ia tau, Nana terlihat sangat marah saat memberikan ini padanya. Ia membukanya dan memasang ekspresi terkejut yang aneh. Rasanya, dunia hampir kiamat.
“Apa-apaan…” Kata-katanya mengambang. Isinya benar-benar mengejutkan. Sinta mencoba mengejanya sekali lagi,
“Wangi melati… Itu pasti kau. Jepit kupu-kupu, itu pasti kau juga… Bolehkan aku berkenalan denganmu?” Sinta tertawa, di kamar mandi. Seorang diri. “Penggirim: Arif. Panggeran es yang pengecut?” Sambungnya, kemudian. Sinta sedikit mengerti kenapa tadi Nana menangis. Aaaaah ya ampun. Kekanak-kanakkan. Seniornya benar-benar kekanak-kanakkan. Sinta segera berlari, ke tempat dimana Nana selalu berada jika ingin sendiri. Gedung tua.
“Sinta?” Tanya Nana, terkejut dengan kedatangan sahabatnya. Ia segera menghapus sisa air mata dan memeluk Sinta begitu saja.
“Maafin saya Na” Nana menggeleng.
“Ituuu… tadi Cuma memalukan, tapi lucu sekali. Dasar aneh” Umpat Nana kemudian, Sinta tersenyum. Ia memberitahu Nana apa isi suratnya, dan berpikir haruskah ia membalasnya? Sepanjang hari itu, Nana selalu menggodanya. Nana adalah sahabat yang paling mengerti Sinta. Luar-dalam.
“Sudah saya bilang, kalian saling suka. Ya kan? Yaelah jangan bohongin saya lagi” Ucap Nana, di perjalanan pulang mereka.
***
Hari-hari berikutnya, Sinta dan Arif lebih sering berkirim surat. 5 kali dalam sehari. Walaupun mereka tetanggaan. Entahlah, kenapa tidak langsung ketemuan? Bagi kita, ada alat yang namanya HP. Internet. Social Media. Tapi saat itu, surat lebih ‘wah’ begitulaaah…
Mau Arif ataupun Sinta sama-sama setuju untuk tak bertatap muka secara langsung. Mendekati ujian, Arif jarang sekali terlihat. Bahkan sama sekali sulit di hubungi. Kebiasaan berkirim surat dari 5 kali, menjadi 2 atau bahkan sekali dalam sehari. Lucunya, setiap surat A4. Tak pernah sekalipun mereka menulis lebih dari 50 kata.
“Boleh sajalah. Saya Sinta. Kamu Arif? Itu perkenalan yang bagus”
“Terima Kasih. Lucu kan? Oh yaa”
“Ya begitulah. Nana menangis”
“Sampaikan. Salam. Untuk Nana”
“Oke. Akan saya sampaikan”
“Terima kasih banyak wangi melati”
Dan begitulah. Kadang-kadang Arif berpuitis. Menceritakan kehidupan sehari-harinya. Berkeluh kesah. Memberi semangat. Membosankan.
          Di hari terakhir setelah pengumuman universitas. Arif menemui Sinta, di rumahnya. Ibunyalah yang menemukan Arif berdiri –galau- antara mau masuk atau tidak ke dalam dan mengetuk pintu. Hampir saja ia pergi jika tak mendengar suara itu.
“Mas Arif?” sapa ibu Sinta ramah. Arif terdiam, hanya senyum kecil yang tampak di ekspresinya.
“Ayo masuk” Ajaknya. Arif masih diam.
Ibunya membawa Arif ke ruang tamu, sudah duduk manis di salah satu kursi kebersaran milik ayah Sinta. Dan orang itu, ayah Sinta. Arif meringis. Selagi ibu Sinta memanggil anaknya. Ayah Sinta melempar berbagai jenis pertanyaan ke arahnya.
“Berapa umurmu?”
“Kau kelas 12 kan? Lanjut kemana?”
“Apa hubunganmu dengan anakku?”  
Arif melongo. Posisi dan cara duduknya sudah mirip puteri bukan panggeran. Saking groginya. Ayah Sinta tertawa, sebelum mengucapkan kata selanjutnya,
“Baiklah. Maafkan ayahmu ini nak. Hahaha”
Akhirnya Sinta mucul dan tersenyum tipis, menariknya keluar, sebelum ayahnya menge-bom berbagai pertanyaan lainnya (lagi)
“Kirim surat saja, lalu kita bisa janjian jam berapa dan dimana kan?” Ucap Sinta mengawali. Arif mengangguk pasrah.
“Ituuu… kuliah. Ah, pamit” Ucap Arif kemudian. Tergagap. Lebih karena tak mampu mengatakannya. Sinta tetap tenang, hatinya berdebar.
Sejak masa-masa berkirim surat –yang yah, telah berjalan selama kurang lebih tiga bulan- Dia tau, suatu hari nanti Arif pasti akan meninggalkannya. Pergi ke kehidupan lain di luar Kota. Sinta tersenyum, walaupun senyum itu terkesan di buat-buat.
“Besok. Aku dan yang lain. Di lapangan. Datang ya” Ucapnya pelan, hampir tak terdegar. Sinta mengangguk. Masih memaksakan senyumnya. Berharap Arif mengatakan hal lain, yang lebih dari sekedar itu-itu saja.
“Well, aku akan datang. Janji. Selamat ya” Akhirnya mereka berpisah untuk sisa hari ini. Sama-sama tak rela.
Beberapa saat yang lalu, Arif sudah memberitahu Sinta perihal rencana kuliahnya di Bandung. Dan Rian di Bogor. Surat tanda bahwa dia lolos seleksi juga sudah tiba. Ia akan pamit secara langsung. Nanti.
***
          Pagi yang cerah, Sinta mengenakan setelan favoritnya. Kemeja putih polos, syal kuning, jepitan kupu-kupu, dan celana yang di pakai di pinggang. Ia berlari keluar, Nana dan dua temannya yang lain sudah menunggunya di tempat biasa. Mereka segera berlari ke lapangan. Tak mau telat, tak mau ketinggalan moment penting seperti ini. Setiap tahun. Di lingkungan mereka, pada bulan yang sama. Selalu ada perpisahan yang secara khusus di tunjukkan untuk para remaja kelas 12 SLTA yang lulus dan di terima di perguruan negeri luar kota. Dari jauh, Arif menyadari kedatangan Sinta dan melambai-lambai penuh arti. Ia mendekat.
“Simpan ini, sampai saya menyusul kamu tahun depan” Ujar Sinta, melepaskan syal kuning yang melilit lehernya. Arif tersenyum.
“Ini hanya Bandung. Masih satu provinsi dengan Serang. Jangan khawatir” Ia tersenyum menenangkan “Saya sudah mengirim semua bekas soal-soal masuk PTN ke rumahmu. Belajar yang rajin ya adik cantik” Arif mengusap rambut Sinta lembut dan pamit. Ia melambaikan tangannya. Hubungan mereka… Sangat aneh. Bagaikan kakak-adik. Siapa tau, diam-diam mereka saling membutuhkan satu sama lain.
Di samping Sinta. Nana terisak. Rian mendekatinya dengan malu-malu. Sekotak persegi berbalut bungkus Koran bekas di tangannya berpindah, berada di tangan Nana.
“Sampai jumpa. Jaga diri baik-baik kalian!” Ia tersenyum. Lebih kepada segerombolan gadis-gadis yang menjadi adik kelas di sekolahnya.
“Hey Nana, jaga itu ya. Kita akan ketemu lagi. Dah” Ucap Rian, sebelum masuk ke dalam mobil tua milik pak RT.
***
Sinta kembali ke kamarnya dengan ekspresi kelelahan, tanpa semangat. Ibunya mengingatkan dia ada suatu paket hadiah dari anak yang kemarin sore berkunjung. Ia membukanya. Ada sebuah hadiah dan surat di dalamnya. Kertas A4. Lipatan yang sama. Dan tulisan tangan yang sama. Bahkan isinya tampak sama. Padat, singkat, jelas.
“Sinta… Maaf. Berlajar yang rajin ya. Jangan lupakan janji itu. Aku” Tulisan itu di tulis dengan huruf yang rapi. Memenuhi seluruh tempat dalam kertas A4 “Tidak. Nanti saja. Lain kali. Sampai Jumpa. Tahun Depan. A”
Sinta tertawa, ia bergumam sendiri “Dasar pengecut” ia masih tertawa. Jelas-jelas, ada sesuatu yang lebih dari persahabatan diantara mereka, lebih dari sekadar hubungan kakak-adik. Sinta memilih diam. Karena ini menarik.

“I Love You, But I can’t to says” Tulis Arif. Di book note-nya. Ia menutupnya. Kemudian tersenyum.

THE END

Komentar :

Well, nulis cerpen ini hampir memakan waktu 2 hari. 4 jam penuh. Masing-masing 2 jam/hari. kekeke
Entahlah, maksud dari ceritanya apa ya? Tadinya sih, gak begini endingnya. Ujung-ujungnya? Kok begini? Gak tau kenapa. Benar-benar jadi kehilangan sentuhan deh. Ya kan? pffft

Mengenai, a inspiration, Bu Siti Khodijah. Dia itu Guru Sejarah di sekolah aku, sekaligus pembina PMR -Eskul tercinta- dan kebetulan, selesai rapat LPJ kemarin. Aku dan Aini ke rumahnya bu Siti. Niatnya sih pengin dengar sarannya. Yang berujung pada 'curhat' panjang*lebar khas bu Siti banget hahah XD

Dengan senang hati kita denger-in. Awalnya terkesan buang-buang waktu. Yang pada akhirnya kita terbuai dan sungguh takjub dengan cerita tersebut. Kenapa? Karena suana sudah mendekati kata 'sore' kita gak mau kan pulang sore banget, apalagi malem? Bisa-bisa di cincang sama mamah aku nih )_( Yang ujung-ujungnya kita pulang pas magrib sudah bergema dan kelupaan buat sholat ashar LoL

Bahkan Aini yang tak suka baca novel, tak suka cerita begituan, yang hambar dan mirip sinetron. Akhirnya berkomentar "Gue sampe kebayang-bayang nih" Yaelah Ai ckckck Hebat kan?

Sejujurnya. Versi asli cerita bu Siti jauh lebih panjang. Penuh flashback, penuh konflik dan ada kehadiran tokoh 'cewe kedua' yang psikopat dan obsesi dengan cinta. Dan cerpen di atas bukan murni cerita-nya bu Siti dalam kehidupan nyata. Itu hanyalah inspirasi. Dengan sosok, kehidupan, karakter. Semacam itu. 

Jadi. Jauh beda. Dan JANGAN di samakan. Oke sekian. 

Terima Kasih banyak buat Bu Siti Khodijah, Aini Sabila dan para pembaca. Dan terakhir, lebih baik beri komentar buat perkembangan selanjutnya ya. Love!

Monday, December 30, 2013

[CERPEN] I LOVE YOU, BUT...

“I Love You. But…”
A Cerpen by Annida Sholihah
A story inspiration by Ibu Siti Khodijah



Serang - Banten, tahun 1990

ARIF
Beberapa gadis tengah berjalan bersama teman-teman mereka di sore hari. Seperti biasanya, gadis-gadis yang berkumpul dan bersatu dalam suatu komunitas di lingkungan itu selalu melakukan hal  yang rutin  mereka lakukan setiap sabtu sore. Bekumpul dan menceritakan pengalaman mereka di suatu tempat.  Totalnya ada empat orang. Mereka berjalan membentuk dua barisan dan tertawa mengoda ke arah segerombolan pemuda ‘komplek’ yang tengah mengerjakan tugas sekolah bersama. Pemuda-pemuda itu sebagian besar pemuda tingkat akhir di bangku setingkat SMA. Waktu itu SLTA namanya. Hampir setiap sore mereka berkumpul di tempat semacam ‘saung’ untuk bertukar soal dan mengerjakannya bersama-sama. Sejak dulu sampai hari ini, tak ada hal yang mudah. Terutama untuk tes masuk perguruan tinggi.
Anak laki-laki itu menghentikan kegiatannya sejenak. Bersiul riang mengamati gadis-gadis wangi melati dan mawar melesat di depan mereka. Diam-diam salah satu dari mereka terus menatap seorang gadis dengan jepitan rambut kupu-kupu dengan pandangan yang berbeda. Namanya Arif. Dan gadis itu, Sinta.
Arif merupakan kakak kelas Sinta di sekolah. Ia tak banyak bicara dan terkenal sebagai ‘panggeran es’ yang jarang tersenyum, mengobrol, atau bahkan sekadar menyapa. Terutama Perempuan. Tampaknya Arif seperti kebanyakan laki-laki lain. Hanya saja, sifat anehnya –tak pernah berurusan dengan perempuan- itulah daya tarik yang benar-benar membuatnya terkenal di seluruh sekolah. Banyak gadis-gadis yang membicarakannya di jeda pelajaran, saat istirahat, atau mungkin saat mereka mampir ke kamar mandi, banyak dari mereka yang berharap dapat sekedar mengatakan ‘hallo’, lebih baik jika dia tersenyum ramah atau jika tidak mengatakan ‘hallo juga’. Seperti itulah. Ekspresinya selalu datar jika berurusan dengan perempuan. Tinggi, berbahu bidang, suaranya khas di tambah model rambut Mohawk yang menjadi trend pada jaman itu membuat gadis manapun akan jatuh hati padanya.
            Mereka menyadari Arif masih menatap ke arah di mana gadis-gadis menghilang di belokan pertama dan bahkan sudah tak tampak lagi punggungnya. Salah satu dari mereka –Rian- menyenggol lengan Arif pelan. Tersenyum penuh misteri. Hari-hari Arif akan semakin berat, jika ia kepergok kejadian seperti ini.
“Wuh. Kartu AS yang bagus bung” Bisik Rian di tepat di telinganya. Pipi Arif memerah. Malu sekaligus kesal. Ia melotot tajam, menyuruhnya diam.
Ketiga temannya yang lain penatap mereka berdua penasaran. Sepanjang sisa waktu hari itu, Arif tak bisa fokus pada tumpukan kertas di hadapannya.
Sial! Umpatnya.
“Okelah. Selesai sampai sini saja. Okelah, ayo kita pulang. Beres-beres dahulu jangankan lupa” Reki, sebagai pemimpin acara belajar angkat bicara. Tanda belajar usai. Arif menyadari ia sama sekali belum mengerti apapun yang di pelajari hari ini. Sebelum benar-benar masuk ke dalam tas jinjing Reki. Ia menyambar semua kertas-kertas latihan itu dan berseru,
“Saya pinjam dulu Rek, nanti saya kembalikan jika sudah. Oke bung?” Teriaknya. Di tempat yang sama, Reki hanya menghela nafas panjang.
***

SINTA

“Tadi dia menatapmu, kamu tau itu kan?” Tanya gadis rok abu-abu selutut –Nana- dia sahabat Sinta sejak sekolah dasar. Sinta pura-pura terkejut,
“Siapa?” Tanyanya polos
“Ituuu… aah, siapa ya namanya? Yang terkenal sebagai panggeran es”
“Arif?” Nada suaranya datar, terkesan tak peduli. Jelas-jelas Arif sangat terkenal, mau di sekolah, di komplek, di seluruh Desa ini. Orang-orang akan tau tentangnya, terutama. Yaaah, gadis-gadis. Nana juga bukan orang baru di sini. Jadi, sudah pasti. Nana hanya memprovokasinya.
Sinta mengangkat bahu, tak peduli. Atau lebih tepatnya –berusaha tak terpengaruh-
“Aaaah saya gak merasa begitu, mungkin dia sakit perut kali. Jadi dia diam tak bergerak atau mungkin bisa jadi dia lihat hantu? Tapi saya gak mau nakutin kamu. Kata ibu…” Kata-katanya mengambang. Terpotong begitu saja
“Berhenti oke, saya tau. Sudahlah kamu sepertinya tak tertarik iye kan ?” Nana cemberut. Tanda bahwa ia sudah menyerah, senyum simpul terlihat samar di bibir Sinta.
            Mereka berdua kembali ke sebuah tempat berlatar sawah di belakangnya. Dua orang temannya yang lain tengah asyik berpose dalam gaya yang aneh –untuk saat ini- namun wajar di saat itu. Ia dan Nana ikut bergabung. Dua orang dari mereka memakai rok selutut, kemeja kotak-kotak bermotif polkadot dan rambut yang di tata sedemikian rupa, Nana dan Siti. Sedangkan Sinta sendiri memakai celana jeans ketat selutut di padukan dengan T-shirt biasa, tak lupa juga syal kuning yang cantik. Dan teman satunya lagi, ia memakai celana jeans panjang dan kemeja kotak-kotak. Di tambah kacamata hitam. Tadaaaa… Klik! Yup, Mereka mengadakan pemotretan untuk majalah sekolah. Sebelum matahari tenggelam, mereka segera menyelesaikan kegiatannya.
***
“Nana!” Arif memanggil nama perempuan untuk yang pertama kali, di sekolah. Selain di kelas. Selain dalam hal formal tentunya. Yang di panggil tampak terkejut. Ia berdiri, mukanya memerah. Sepertinya karena senang. Ia mengenggam tangan seorang di sebelahnya –yang masih duduk manis- dengan erat. Saking nervous-nya.
“Bisa kita bicara sebentar kan?” ia sedikit berteriak, jarak mereka cukup jauh. Nana mengangguk beberapa kali. Hatinya keburu berbunga-bunga duluan. Di tempatnya Arif hanya menatap sahabatnya kesal, dan yang tak terduga adalah….

Diam-diam Sinta cemburu, di tempatnya.


Komentar : 
Lanjut Part 2. Biar seru dan penasaran ^-^ Tolong kasih komentar dong untuk perbaikan kedepannya. Makasih XD