Thursday, January 2, 2014

[EPILOG] NOTHING TO FEAR

Catatan : Ini hanyalah iseng -terakhir kali- sebelum masuk sekolah dan sibuk. Aku membuat Epilog untuk novel yang baru saja aku baca, berjudul "Nothing to Fear" yang artinya sama seperti jangan pernah untuk takut atau barangkali artinya adalah 'tak perlu takut'. 
Nah, udah pernah baca belum novel ini? Kalau udah pasti seru deh, baca postingan aku. Kalau belum. Mendingan ke perpustakaan setempat atau pinjem ke temen yang punya atau bisa juga beli di toko buku, online dan yang terakhir. Pinjem aja sama pemilik akun ini nih @NisaPrilia -terutama yang sekolahnya di CJ- 

Karena Ending yang kurang greget dan tak ada Epilog di akhir cerita, maka dari itu aku buat aja deh. Biar greget. Biar wah, biarkanlah segalanya. Untuk penulis aslinya Matthew d'ancona : Yang aku tau, dia pasti gak akan mengerti bahasa tulisan aku ini, karena beda generasi atau karena kita beda Negara, bahasa dan budaya. Mungkin saja. Tapi, aku tetap akan mengatakan "Maafkan aku om, aku terlalu gak tega sama mereka -tokoh-tokohnya" hahaha. Yuk, langsung aja ^-^ 


Tokoh-tokoh: 
Ginny Clark : Sang penulis, yang baru saja cerai dengan suaminya. Tak punya anak -di kabarkan mandul- nyatanya tidak, periang, cerewet dan suka hal-hal aneh. Kehidupannya hancur setelah insiden itu -rusaknya pernikahan- dengan berakhir perceraian dan saling membenci satu sama lain. Ibunya telah lama meninggal, tinggal bersama ayahnya. Karena tak mau terus-menerus menjadi seorang 'putri' di bawah naungan ayahnya. Ginny mencari pencerahan baru dengan membeli rumah sendiri.

Sean Meadows -Robbert- : Cowok misterius, penuh dengan luka masa lalu, pemalu, pendiam, aneh, suka melukis dan tak punya teman atau bahkan kenalan -siapapun- karena sosoknya yang berbeda. Ia baik hati, tak banyak orang yang tau tentangnya, masih muda -lebih muda dari Ginny- sikapnya dingin dan kaku, sedikit paranoid. Ginny memandangnya dengan istimewa dan ingin menjadi temannya. 

Harry Benson : Mantan suami Ginny -yang baru di sadari- bahwa dia bukan cinta sejatinya. Berselingkuh dan pengecut. Namun, dia bukanlah orang jahat.

Julies ( agak lupa dengan nama-nya. Kemungkinan sih ini. Mohon maaf dan tolong beritahu kalau ada kesalahan) : Sahabat Ginny, sudah 10 tahun lebih. Sahabat cewe. Pengacara, masih lajang dan entah kenapa dia sama peter gak bersatu aja. Kemungkinan besar karena ketidak cocokkan. Mungkin.

Peter :  Sahabat cowo-nya Ginny. Profesi pekerjaannya sebagai wartawan. Dia mulai menunjukkan dan meneliti banyak kasus. Karakternya egois dan tak mau menyerah, kadang-kadang sangat di sayangkan denganb karakternya ini -terutama akhir dari kisahnya- jika tak salah, ia berakhir di pengadilan/ penjara dan di pecat dari profesinya karena memukul wanita -Ginny- 

Tokoh lain yang tak banyak mengambil peran : Ayah Ginny (Geoffrey), Winston (Kucing Ginny) Tetangga sebelah -Roger dan Audrey benson- yang sudah tua, Flick Roberta (anak perempuan Ginny yang masih bayi) muncul pada halaman terakhir, William (kakak Robert a.k.a Sean), Bibi Robert a.k.a Sean -lupa namanya- dan tokoh antagonis yang hanya muncul melalui penggambaran tokoh lain -tak pernah benar-benar muncul- ini seperti masa lalu. Alex Blakeley. Yang yah. Penjahat sesungguhnya. 

NOTHING TO FEAR 
[JANGAN PERNAH TAKUT]



EPILOG
By Annida Sholihah

Pagi yang cerah, Ginny terbangun dari tidur nyenyaknya. Flick menangis. Ia segera bangkit. Berlari ke kamar sebelah, satu-satunya kamar setelah kamarnya -yang saling terhubung- dengan satu pintu. Flick menangis semakin keras. 
"Oh... Diamlah sayang" Ucap Ginny lembut di telinga Flick, anak perempuan mungil itu terdiam. Manis. Dipangkuan ibunya. Ginny kembali membaringkan Flick ke tempat tidur. Ia masih harus memasak air, mencuci baju dan memeriksa kebun-kebunnya. 

Bagi Ginny, hidup sendirian sudah tak lagi menyebalkan. Lingkungan ini benar-benar tenang, seperti yang pernah ia katakan. Ayahnya selalu datang sesekali, bermain-main dengan putrinya -yang sebentar lagi- berumur 1 tahun 4 bulan. Dan sahabatnya -Julies- selalu datang di akhir pekan. Untuk sekedar melepas lelah dan saling menceritakan yang terjadi di kehidupan mereka, sekedar melepas rindu, dan hanya untuk menemani hari-hari Ginny yang kesepian. 

Lambat laun, Ginny mulai sibuk dengan proyek barunya. Menulis sebuah buku anak-anak. Flick sudah cukup besar untuk tidak selalu menangis setiap saat. Bahkan banyak dari tetangga barunya yang mengajak gadis mungil itu bermain dengan anak-anak mereka. Cukup waktu untuk mengerjakan tugas kebun Ginny -yang menurutnya- asyik tapi merepotkan. 

"Aku butuh petugas. Aaaaah ya ampun" Ginny mendesah kesal, dari luar, masih terdengar suara tangisan Flick. Akhir-akhir ini, tidak seperti biasanya. Flick sering sekali menangis tanpa sebab. Di pagi hari, membuat Ginny kesulitan. Ginny segera berlari masuk. Meninggalkan tugas kebun-nya begitu saja. 

"ssssssssstttt. Ayolah, mom harus memasak air hangat untukmu mandi" Ginny kemudian meninggalkan Flick sendirian di ruang tamu -dengan mainannya- dan berlari ke dapur, diam-diam seseorang dengan jaket cokelat tua dan topi hitam musim panas, menyaksikan itu semua di sela pohon apel kesayangan Ginny. Ia tersenyum, samar, hampir tak terlihat. Ginny menyadarinya, orang itu cukup cepat untuk menghilang begitu saja. Sebuah surat -sengaja- menyangkut di tempat yang baru saja di tinggalkan oleh pria misterius tersebut.

Ginny hampir berteriak saking takutnya, ia menoleh. Menyadari tak ada siapapun di tempat ini. Butuh waktu 10 menit untuk mencapai rumah tetangga terdekatnya. Akal sehatnya menyuruh Ginny untuk berlari menuju Flick, lalu menelepon sahabatnya -Julies- dan pergi ke rumah tetangga dekatnya itu. Tapi, ia terlalu penasaran dengan isi 'surat'-nya. Dengan perdebatan yang membingungkan, Ginny memilih mengambilnya. Menyimpannya di saku bajunya. Dan segera berlari, sejauh yang dia bisa. Sesuai rencananya. 

***
Lima jam kemudian, Julies sampai di rumah Ginny. Dia langsung menyetir ke sini begitu mendengar pesan Ginny. Ia tampak kelelahan -dan khawatir-

"Oh sayang... Apa kau baik-baik saja?" 

"Tidak. Oh- maksudku ya. Aku baik-baik saja, aku terlalu takut Jen"

"Yaampun. Kau kacau. Kacau sekali, Ginny. Ayolah kita buat teh dulu oke?" Ginny mengangguk, air matanya sudah kering. Ia mengangkat Flick -yang sudah di mandikan, makan dan cukup bermain dengan anak tetangganya- ke pangkuannya. 
Julies menghirup aroma teh dalam-dalam. Ia menatap Ginny dan mulai mengecoh banyak hal. 

"Hey, ceritakan padaku apa yang terjadi? Aku sudah menyetir terlalu lama, well, maksudku- aku hanya terlalu khawatir" 

"Tidak. Aku hanya terlalu paranoid Jen. Thanks, kau datang- yeah, terlalu mengejutkan" Ginny mulai tersenyum. Ia mengikuti cara Julies menghirup aroma teh-nya dalam-dalam. Menenangkan pikirannya. 

"Ini, bacalah. Aku menemukannya. Tersangkut" Ginny menyodorkan kertas -yang tampaknya sudah kecek- dari kantong bajunya. Kertas peninggalan, orang yang membuatnya lari ketakutan. Dengan senang hati, Julies menerimanya. Terkejut. Bola mata hampir keluar dari matanya. Ia menatap Ginny tak percaya. 

"Well, sejak kapan?" tanyanya tanpa peringatan. Ginny masih tak tau apa-apa. 

"Ginny. Ini Sean, ini pasti dia. Lihatlah" Tanpa menghiraukan protes Ginny, Julies membacakan isi suratnya keras-keras, Cukup keras untuk membuat Flick terbangun dari tidur siangnya yang indah. Ekspresi Ginny datar. Antara terkejut dan tak percaya. 
***

Pagi yang cerah itu datang lagi. Hari-hari Ginny dimulai seperti biasa, tangisan Flick. Julies memilih kembali ke London. Katanya sih karena dia ada pekerjaan. Begitulah. Ginny tak bisa memaksa sahabatnya itu untuk menginap di rumahnya, walaupun sebagian hatinya ingin agar Julies tetap tinggal. 

"Selamat malam, maafkan aku. Aku akan menelepon, oke?" Ginny hanya mengangguk sedih, ia memeluk Julies lama, saat mereka berpisah. Di depan pintu. 

Seseorang yang sama tengah mengamati Ginny. Di tempat yang sama, Ginny tidak terkejut -apalagi berteriak- ia mengejar orang itu sebelum kehilangan -lagi- Hampir gagal. 

"Sean.... oh Robert!!!!" Teriak Ginny putus asa, jarak mereka sudah terlalu jauh. Dan yah, dia tak bisa meninggalkan Flick sendirian. Di rumah. Pria itu berhenti sesaat, seperti tengah memikirkan sesuatu. 

"Berhentilah, Please?" _________ "Itu menakutkan" Sambung Ginny, penuh dengan harap. Pria itu, bimbang. Namun ia berbalik, pada akhirnya. Air mata -yang tertahan- mulai membasahi pipi Ginny, hangat, mengalir deras. Ginny berjalan mendekati pria itu. Berhenti, hanya sekedar untuk memastikan. 

"Kaukah itu? Kau? Sean? Robert? Kau-oh Ya Tuhan. Robert!" Ginny mulai terisak, pria itu -Robert- a.k.a Sean. Tetap berdiri di tempatnya, diam tak bergerak. Matanya mengamati wajah Ginny lekat-lekat. Mencoba mengenyahkan air matanya. Tapi, tetap saja. Dia tak bergerak. 

Ginny mulai melangkah mendekat, lebih dekat. Tangannya mereka hampir bersentuhan. Ia menghapus air matanya dan mulai memukuli dada Sean pelan. 

"Banjingan! Kaparat! Sialan kau Sean -Robert!" 

"Kau sialan! Seharusnya kau kembali, dan yah, katakan semua itu. Katakan. Oh ya ampun Sialan sialan sialan" Tangan Ginny terus memukul, air matanya mengalir deras. Sean menghentikannya, memeluk Ginny dengan erat, mengusap air matanya dan bergumam pelan, 

"Maafkan aku, maaf. Maafkan aku, Ginny" 

Ginny semakin terisak, di pelukan Sean. 

"Oh ayolah, berhentilah menangis. Kau jelek jika menangis, sayang" Ginny memukul lengan Sean pelan. Tangisan Flick menghentikan semuanya, dengan panik Ginny menarik tangan Sean pergi, membawanya ke rumahnya. Seakan-akan takut, pria ini pergi lagi. Sean hanya tersenyum penuh penyesalan. 

"Aku seharusnya pergi" Ucap Sean lembut. sebelum benar-benar memasuki halaman rumah Ginny

"Tidak, Sean oh Robert. Ayolah. Kau Robert. Akan kuceritakan semuanya, Tidak, jangan pergi, oke ya. Aku mohon padamu?" Ginny memelas, tetap menggenggam erat lengan Sean. 

"Ginny. Dengar, aku tak berhak. Aku harus pergi" 

Tangisan Flick semakin keras, mereka berdua sama-sama tak tega. Akhirnya Ginny melepaskan tangan Sean. 

"Sean, kumohon masuklah. Lihatlah Flick. Flick, anak kita" Ucap Ginny sekali lagi, berharap Sean tak pergi. Sean terdiam lama, menatap Ginny yang telah memeluk Flick di bahunya. Ia menghela nafas panjang. Melangkahkan kakinya memaksuki halaman rumah Ginny. Ada seyum samar, di wajah Ginny. 

"Ayo, ini. Angkat dia" Ginny menyerahkan Flick ke pangkuan Sean. Terkejut dengan reaksinya. 

"Lihat kan, dia mirip dengan ayahnya, dia juga suka dengan ayahnya" Sean tersenyum, memandangi lekukan yang mulus di leher Flick. 

"Kupikir, siapa namanya? Flick? Mirip denganmu" 

"Flick Roberta" Ujar Ginny, mengoreksi. Sean terkejut. Cukup membuktikan bahwa ia tak mengerti. 

"Aku... Roberta? Hm... tak buruk" 

"Untukmu, dan Flick, itu nama ibuku. Sean, ayolah taruh dia di kamarnya" Saran Ginny. Sean hanya melongo tak mengerti. 

"Hey, aku... ah, aku baru memegangnya, berapa lama? Ohyah 10 menit" Sean menatap jam tangannya dan dengan gemas memandangi Ginny yang tampaknya sudah tak sabar. 

"Sean, aku sibuk. Bantulah aku, taruh dia sebelum menangis lagi, please?" 

Akhirnya Sean setuju, sepanjang hari itu ia menemani Ginny. Bercerita mengenai alasan-alasan lain. Masa lalu mereka -atau masa depan- mereka

"Sean. Ini, terlalu cepat" 

"Tidak, sudah terlalu lama. Aku berpikir untuk tak kembali" Sean menatap Ginny. Menyadari bahwa wanita ini butuh penjelasan. 

"Dengar, Ginny. Aku minta maaf. Untuk semuanya, ini sulit bagiku. Dan bagimu, juga kau dan Flick. Masa laluku. Aku sudah membicarakannya dengan bibiku dan yah dia memintaku mempertimbangkan semuanya baik-baik" ______ "Kupikir, aku bisa memulainya dari awal. Atau mengakhirinya. Dan kau sudah tau itu" 

Ginny mengangguk, "Aku tau, jadi?" 

"Jadi, ayo kita menikah. Kita besarkan Flick dengan baik dan tentang itu.... -Alex-" Ekspresinya sedikit berubah, ada ketegangan yang nampak di urat-urat wajahnya "Aku memastikan bahwa dia sudah lama mati, secara mengenaskan" Lanjutnya tanpa perasaan iba. 

"Sean. Kau akan terus hidup menjadi Sean?" 

"Kau tau, menjadi Sean, aku lebih suka itu. Kau tau lebih dari sekedar alasannya Ginny" Sean menangkat dagu Ginny dengan satu tangan. "Aku mencintaimu" Ucapnya, ia lalu mengecup dahi Ginny lembut. Mereka tersenyum, daaaaan berpelukan. 


THE END

Komentar : 

Gak bisa banyak-banyak nih. Haha~ karena kondisi bateray yang gak mau bersahabat :( Oke, ini agak absurd. Karena nulisnya malem-malem dan ada efek pusing-pusingnya. Kayaknya aku mau sakit pffft. 


Dan buat yang belum baca novelnya pasti gak akan ngerti deh. Maka dari itu agak membingungkan sih. Novel ini sangat sangat sangat menarik, sama seperti novel sebelumnya yang aku baca "Stray" tantang were cat, Shape shifter. Endingnya sudah memuaskan banget, cumaaaa.... ternyata ada seri-nya. Kayak Twilight, Harry Potter, ataupun The Hunger Games. Bikin bete aja, jadi pengen beli bukunya, tapi dimana? 

Well, btw beli buku terjemahan cukup susah lho. Apalagi kalau penulisnya gak terlalu terkenal di sini. Padahal sih, tulisannya bagus baget. Karyanya daebak! wuiiiish~ Baterai sudah lemah. Selamat Malam! Nida mau nonton seri Harry Potter yang ada Edwar Cullen -sebelum jadi vampir- dulu ya. Sudah ketinggalan setengah jalan cerita nih aaaah. Selamat Tidur. 

Terima Kasih. Bonus Pict,



Wednesday, January 1, 2014

HELLO 2014!!!

Hello Amsterdam! (lagi) pffft Selalu membuktikan kalau aku masih di dunia lain kekeke. Apa maksudnya sih? Ini di tulis tengah malam. Saat semua orang rumah tengah menyaksikan acara 'Harry Potter' series keberapa lupa, di RCTI kesayangan :p 

Maka dari itu. Gagal deh niat nge-post tanggal 1 Januari. Sekalian mau ngucapin Happy Birthday ke kak Sungmin padahal siiiih. Padahal. Keburu, tadi di pinjam adik bawel nih laptop hiks hiks hiks. Maafkan daku kak Sungmin :'(

Sudahlah. Belum terlambat untuk apapun. Lagi pula waktu bisa di manipulasi. Maksud aku 'waktu nge-post' ada tuh caranya. Para blogger pastilah tau kekeke. Tapi, aku gak mau! Titik. Gitu aja repot. 

Pertama, walaupun-mungkin-dan yeah- ini udah telat. Aku tetap akan mengucapkan, 
"SELAMAT ULANG TAHUN KAK SUNGMIN. SANGEIL CHUKKAE. HAPPY BIRTHDAY" 



Kakak harus selalu sehat, sukses dan tetap berjaya dengan Super Junior. Kakak harus tetap mencintai kami -para ELF- Kakak tak boleh melupakan kami, kakak harus memenuhi janji kakak, kakak... apapun harapan kakak, di masa depan dan kedepannya semoga menjadi lebih baik lagi. Itu saja. Terima Kasih banyak kak. Terima Kasih, karena menjadi bagian dari Super Junior. Mengenal kami dan kami mengenal kakak ^-^ Love Kak Sungmin.


Well, btw tau kenapa aku bangga banget dan segitunya banget ngasih 'coretan kecil' di atas? Kupikir aku dudah pernah bilang. Kalau tak tau, sudahlah. Biarkan Allah dan aku yang tau :p

Nah, sekarang ganti topik. Ke acara sebelumnya -a.k.a flashback- tanggal 31 Januari, sebentar. Nih ya aku mau protes sama acara tipi yang semuanya konser. Dari Nomer 1 sampe 17. Dari Trans Tv sampe NetTV. Pffffffft. Tapi, beruntunglah Global sama RCTI berbaik hati menayangkan film 'barat' setelah sinetron-sinetron yang episodenya asdfdfghj itu 'bersambung.....' Global sih konser dulu, tapi gak lama-lama kok hihihii. Dua-duanya film seru, lebih ke RCTI siiiih :p X-Men seri keberapa (lupa lagi)

Sorenya aku sibuk full, gak usah tanya deh. Karena malam hari ada acara bakaran di rumah aku. Wow, jadi rameeee begitu ._. beli ayam, bumbu, ke carefour, beli arang juga. dll
Abis magrib. Masih males-malesan di depan HP. Baru deh sms Ai buat siap-siap. Hm... aku lupa bilang, kalau siang sebelumnya. Sekitar pukul 12an. Aku dan Ai ke Sayuti buat ngurus souvenir LPJ. Karena gak ada lagi yang mau ngurus hal begituan. Nyebelin :[ Kata teteh-teteh sayuti itu, design siap jadi nanti sore. Karena orangnya sibuk dan karena itu kita minta dibikinin design-nya sama sayuti. Karena anak yang lain pada ngilang dari tanggung jawab -gak mau bikinin design. Pokoknya nano-nano. Pulangnya, langsung di marahin gara-gara motor di pake. Tadinya mau di servis >,< tambah parah aja. 

Maka dari itu, sekita jam 07.00wib malam. Aku jemput Ai di Indomart Kebon. Lamaaa banget. Ke Sayuti, tau-tau kata mas-mas itu "Tutup" yaaaah. Pulang deh. Aku anterin lagi Ai sampe Kebon. Turun di lampu merah karena ada polisi dan Ai gak pake helm. Kasian kan, gak enak sama Ai-nya. Udah mana lagi Sayuti tutup. Tadi sore, maaf banget aku kelupaan u,u 

Lanjut ke pukul 08.00wib malam. Abi membuka arang dan di panasin. Siap untuk bakaran jagung. Sambil sms-an sama Dewo, sambil foto-foto. Well, aku gak becus banget ckckck
Yang lain ngumpul di dalam. Nonton Tv. Bunyi petasan udah aja rame. Mungkin karena mendung, takut hujan. Jadi mereka lebih awal gitu. Gak baik tau main petasan gituan :o 

Keluarga aku, setiap tahun baru selalu bakar sesuatu. Bukan sampah apalagi rumah. Tapi lebih biasanya jagung ^-^ tahun ini, ada tambahan sosis! dan sosis! sosis sapi plus ayam. Nyuuuumy


Kira-kira baru kita makan tuh sekitar pukul 11.00wib. Karena nyalain itu lhoooo arangnya. Lama banget. Sampe papah aku memutuskan buat di taruh di kompor dulu, aku cuma nyeletuk "Kenapa gak dari tadi?" Langsung deh dapet pelototan dari beberapa orang hahaha LoL. Mau tau, dari tadi pake apa? Kertas di bakar! gitu deh. Lama banget pfffft

Kita makan, yang lain di dalam. Aku sama adik-adik di luar. Menikmatinya sambil kipas-kipas dan bunyi kembang api, petasan, terompet tetangga berbaur jadi satu. 

Kesimpulan aku sih, itu... bukannya haram ya? dalam islam. Mereka aneh-aneh aja, buang-buang duit. Mendingan uangnya di tabung, atau sedekahkan, atau di beli jangung kayak keluarga aku nih wkwkwk

Krik. Krik. Udah itu doang. Gak ada yang seru ya. Lagi lelah aja ngetiknya sih. Ngomong-ngomong. Besok, kalau ada waktu. Aku akan membuat 'Plan' kehidupanku di tahun 2014. Sekian. Selamat Malam. Saat ini pukul 01.00 wib. WOW


Berhubungan dengan yang dari HP Samsung belum di masukin. Maka, demi Privasi. Yang ini aja yuhaaa. Bonus foto-nya. Malam Tahun Baru ^-^ haha Mianhae Dinda :p

[CERPEN] LOVE IS THE MOMENT Part 2

Love is the Moment
(Part 2)


A cerpen by Annida Sholihah dan Annisa Aprilia

“Bisakah waktu berhenti saat ini juga? Aku menyesal pada semua yang terjadi di hidupku. Lalu, ini salah siapa?”

Aku berlari sejauh yang aku bisa, berusaha sebaik mungkin agar tidak menangis, air mataku hampir tumpah. Kata-kata ibuku –ibu kandungku- selalu tergiang-giang begitu saja, menerobos masuk ke dalam pikiranku.
‘Jangan lemah Reinna. Kamu bukanlah gadis lemah, kalau bunda sampai melihatmu menangis lagi. Jangan harap mendapat belas kasihan’
Aku menghela nafas kesal, menghapus sisa-sisa air mata yang terlanjur membasahi pipiku tanpa permisi. Dengan langkah yang mantap aku berbelok arah. Terkejut, tak menyadari aku telah berlari sejauh ini. Pelajaran ke-empat pasti sudah di mulai. Aku mempercepat langkah. Berharap waktunya belum terlambat.
“Sial” umpatku dengan nafas terengah. Aku menatap pintu ruang kelas yang tertutup rapat. Pelajaran ke-empat sudah di mulai. Bu Nengsih akan memberiku hukuman yang mungkin tak akan sanggup aku penuhi.
Aku mengetuk pintu. Tertawa samar menatap ekspresi guru Sejarahku. Tak ada yang lebih memalukan dari pada berdiri di depan kelas dan di marahi habis-habisan. Tapi pada akhirnya,
“Ke kantor setelah pulang sekolah Reinna! Jangan harap kamu akan lulus pelajaran ibu jika kabur lagi” Ucapnya langsung pada topik. Aku hanya bisa menghela nafas menahan air mataku keluar -lagi-
Ingin aku menjawabnya “ya” tapi sudahlah. Aku tak akan mampu, yang bisa aku lakukan hanya menunduk. Bu Nengsih mempersilahkann aku agar duduk. Sisa pelajaran hari itu, aku tak bisa fokus. Sialan!
            Di ujung ruang kelas. Bangku kedua dekat jendela dan meja guru. Tyo diam-diam memperhatikanku. Menatapku dengan prihatin. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Aku tak peduli dengan tatapan itu, pikiranku sudah rued sejak dua bulan belakangan ini. Bahkan untuk sekedar mempersiapkan diri dengan hukuman ‘pulang sekolah’ saja sudah membuatku mual.
 Pada akhirnya bel pulang berbunyi. Seseorang menghampiri mejaku.
“Hey Na. Mau aku temenin ke kantor?” Ucap Tyo menawari. Ada nada bercanda dari cara bicaranya, tapi aku yakin dia tak sedang bercanda. Lebih ke arah cemas. Mungkin.
Aku menatapnya sinis. Tyo merupakan sahabatku sejak SMP. Tiada hari tanpa Tyo. Dan rasanya akan membosankan jika tak bertemu dengannya. Sejak orang tuaku bercerai, ayahku menikah lagi dan kedatangan Vionna di kehidupanku, di keluargaku. Semuanya berubah. Aku berfikir sepanjang sisa pelajaran hari ini dan membuat kesimpulan ‘mungkin ini salah ayah dan bunda’. -kembali ke dunia nyata- aku mengangkat bahu, meninggalkan Tyo begitu saja, sebelum melewati pintu aku menatap Vionna sejenak, ia tengah merapikan buku-bukunya.

“Suatu hari, orang-orang akan tau bahwa aku itu lemah. Maafkan aku bunda. Mungkin aku tak akan  sanggup menepati janjiku”

            Dengan langkah yang berat aku menuju kantor –ruang guru- Bu Nengsih tengah duduk di salah satu deretan meja khusus guru. Aku menghampirinya,
“Berikan ini ke orangtuamu” Ucapnya –lagi-lagi- tanpa basa-basi. Melemparkan sepucuk surat ke arahku.
“Apa ini bu?” Aku bertanya dengan polos
“Pemanggilan orang tuamu, kalau sampai…” Kata-katanya terpotong oleh orang yang tak tau sopan santun, akulah orang yang tak sopan itu.
“Tolong batalkan” Ucapku lirih, bu Nengsih terkejut. Menatapku tak percaya. Ini pertama kalinya aku berkata begitu tak sopan. Di lingkunganku. Guru adalah orang yang sangat di hormati.
Dari jauh, seseorang mengamati apa yang sedang terjadi. Tak ada yang tau siapa itu. Sambil memegangi tas-nya, bu Nengsih berdiri,
“Orang tuaku bercerai dan menikah lagi, sejak saat itu kehidupanku berubah. Tolong aku bu. Aku akan menerima hukuman apapun, tapi jangan yang ini…” air mataku mengalir. Persetan dengan ancaman Bunda!
“Aku minta maaf ibu… Kalau nilaiku juga harus di kurangi. Itu gak apa-apa”  sikap seperti ini sudah terlalu jauh. Bu Nengsih menatapku prihatin.
“Hukuman peraturan nomer 2 ayat 3. Masih ingat? Lakukan itu” Dan yang aku tau kemudian adalah ia menghilang di balik pintu. Aku menghela nafas lega, menghapus air mataku. Sebelum yang lainnya melihat.
Hukuman nomer 2. Hukuman dalam bentuk skors dengan jangka waktu. Ayat 3, jenis hukumannya adalah membersihkan kaca jendela. Selama seminggu penuh, sepulang sekolah.
Bagiku, itu lebih baik. Aku punya waktu yang lama di sekolah. Bukan tanpa alasan lagi.  Aku bergegas pulang dengan motor Spacy sebelum hujan benar-benar tuun.
Orang yang tadi mengintip diam-diam itu menyandarkan bahunya di balik pintu, menghela nafas panjang. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
***
“Setiap tindakan selalu punya alasan, aku berharap. Seiring dengan usiaku. Aku bisa memahami alasan mereka melakukan hal itu”

Ini hari pertamaku menjalani hukuman. Aku sengaja pulang terakhir agar mereka tak curiga –menertawakanku, membuat gossip di kantin, mengejekku- seperti itulah. Dengan berat hati, aku mengambil satu stell lengkap alat pembersih kaca, yang aku beli dengan sisa-sisa uang jajanku. Tanpa aba-aba seseorang mengambilnya dari tanganku. Siapa lagi jika bukan Tyo. Ia nyengir dan berlari sebelum aku memakinya. Pada akhirnya, aku mengalah dan mempersilahkan agar Tyo bisa membantuku.
“Hukuman ini terlalu sepele” Ucapnya memecahkan keheningan. Aku hanya diam saja.
“Kamu tau… Ini hal yang tak pernah bisa aku terima, sampai kapanpun” Tyo duduk di salah satu kursi yang sengaja berada di sana. Aku masih pura-pura sibuk dengan debu di jendelaku.
“Jangan pura-pura kuat, jangan juga menangis sendirian, jangan membenci mereka, jangan pula bersikap seperti ini –tak pernah tersenyum lagi-“ _________ “Alasan. Kamu pernah bilang ke aku mengenai hal itu, coba pikirkan. Mereka mungkin punya alasan” Tyo melanjutkan, tanpa sedikitpun menoleh padaku.
“Tante. Ibu kandungmu itu, memberiku tugas yang cukup akan membuatku menyesal jika tak aku pegang dengan baik”_______ “Dia juga memintaku memberitahumu hal ini” Tyo berdiri di sampingku, mengulurkan tangannya, mengaitkannya pada tanganku. “Jaga Reinna baik-baik dan buat dia tersenyum. Begitulah…” Tyo memasang ekspresi lucu yang menyedihkan, seakan hal itu baginya sangatlah berat. Aku tak bisa menyembunyikan tawaku. Hari ini, untuk pertamakalinya dalam dua bulan terakhir, aku kembali tertawa.
“Tuh kan kamu ketawa” Ujar Tyo kemudian. Aku memukul lengannya pelan.
“Siapa suruh pasang muka begituan” dalam hati aku mengatakan ‘terima kasih’ untuknya. Aku bersyukur bertemu dengan sahabat seperti Tyo.
            Tyo berbicara panjang lebar mengenai pertemuan terakhirnya dengan ibuku. Sebulan sebelum ayah mengumumkan untuk menikah lagi. Ibuku pergi ke luar negeri, ini seperti bentuk pelarian diri. Lalu, ia juga menceritakan perihal Vionna.
“Jangan membencinya” Kata Tyo serius. Aku tak bisa berjanji. Tapi mulai saat ini, dengan pesan atau lebih tepatnya permintaan terakhir ibuku. Aku akan mencoba memahami mereka dan berhenti menyalahkan ayahku. Dengan enggan aku mengangguk beberapa kali. Hari itu, aku pulang bersama-sama dengan Tyo. Seperti biasa. Dengan motor kami masing-masing.
***
 “Yang aku tau dari cinta. Cinta itu… Karena cinta kita bisa bertahan, karena di sanalah tempat kita bersandar. Saat tak ada lagi harapan yang membuat kita bisa terus berdiri. Pikirkan tentang cinta. Pikirkan tentang semua yang terjadi. Cinta itu…”

          Ibu ‘tiri’ ku menyambut kepulanganku dari sekolah dan berkata dengan cemas,
“Sesuatu terjadi? Akhir-akhir ini kamu selalu pulang di atas jam 5 sore” Dengan celemek yang masih rapi terpasang di tubuhnya, ia memberiku secangkir teh hangat. Mengingat janjiku, aku mengambilnya meminumnya sedikit dan langsung berlari menuju kamarku di lantai dua. Di ujung tangga Vionna menatapku dan tersenyum hangat.
“Sudah pulang Dik? Pasti melelahkan ya?” Sambutnya, umur kami sama, hanya saja. Ia lebih dulu lahir di bandingkan aku. Jadi, dialah yang berstatus sebagai kakak.
“Ada air hangat di kamar mandi. Ini musim hujan, aku khusus membuatkannya buat kamu” Sambungnya kemudian. Aku menatap kamar mandiku dan benar saja, airnya hangat. Tanpa berlama-lama, aku mandi di bak yang katanya –di persiapkan khusus untukku- ini.
Aku banyak melamun, mengingat kembali yang ayah-bunda-kak Radit lakukan di masa lalu, alasan-alasan lain, kedatangan ibu tiri-ku, Vionna, dan kata-kata Tyo tadi sore. Adzan Magrib sudah berkumandang. Aku masih di bak mandi. Memikirkan semua itu.

Monologue Bunda  -dalam suratnya-
“Reinna.  Pertama. maafkan Bunda karena pergi begitu saja…
Jangan  benci ayahmu dan cobalah bergaul dengan Vionna…”
Aku mengingat-ingat kembali pertemuan pertamaku dengan Vionna. Tangannya yang hangat, senyumnya yang tulus dan kebaikkan-kebaikkannya yang selalu di akhiri dengan kata-kata ‘Khusus untukmu Rein’ aku tersenyum.
 “Dia gadis yang baik, jika kakakmu terlalu cuek untuk peduli denganmu. Cobalah bersandar pada kakak perempuanmu. Vionna. Jadi, jangan membencinya. Untuk Radit. Tolong sampaikan salam bunda padanya, suruh dia belajar yang rajin dan menepati janjinya”
Aku mengingat kak Radit yang akhir-akhir ini jarang pulang. Aku mencoba memakluminya. Dari kecil sampai sekarang. Kak Radit memang seperti itu, tapi aku dan bunda tau, kak Radit punya hati yang hangat dan sensitif. Aku bertahan selama ini karena kak Radit.
“Dan terakhir, sampaikan salamku pada ibumu yang baru. Jaga ayahmu baik-baik ya nak. Semua ini, kesalahan yang sudah kita lakukan. Bukan salah siapa-siapa. Suatu hari kamu pasti akan mengerti. Ayahmu mencintaimu dan keluarga barunya juga mencintainya. Mereka orang-orang yang baik. Jadi, percayalah padanya Reinna”
Aku selesai mandi, memakai baju tidurku. Perutku lapar dan aku langsung melesat menuju dapur. Di jalan menuju dapur. Langkahku terhenti. menatap ayahku yang tengah tertawa di ruang keluarga. Dengan ibu ‘tiri’ ku dan Vionna di sampingnya.
“Ayahmu bahagia kan? Lihatlah. Hati bunda sudah tenang mengetahui kenyataan ini. Bunda juga ingin mencari kebahagiaan sendiri. Jadi, Reinna… Lakukan hal sama. Bergabunglah dengan mereka, tertawa bersama…”
Aku masih merenung di tempatku, panggilan dari ibu ‘tiri’ ku membuyarkan semuanya.
“Reinna, sudah selesai mandi? Ayo ke sini. Ayahmu punya cerita lucu”  Ucap ibu ‘baru’ ku
Aku menghampiri mereka, yang aku tau aku pasti tidak akan tersenyum atau bahkan tertawa. Tapi aku salah. Aku tiba-tiba saja ikut tertawa mendengar cerita ayah. Tanpa sadar, aku mulai beradaptasi dengan keluarga baru ini. Aku tak lagi membencinya. Aku bahkan mengobrol banyak hal dengan Vionna. Bertukar rahasia dengannya.
***
          Mulai pagi ini, aku berangkat bersama-sama dengan Vionna –berboncengan- Bahkan aku mulai sarapan masakan ibuku. Aku selalu kemana-mana dengan Vionna. Bahkan kami juga pernah melakukan hal paling memalukan bersama. Misalnya –mendandani muka kami, dengan make-up berlebihan- Tyo yang menyadari aku sudah kembali menjadi Reinna yang dulu sangat senang dan juga sedih.
“Jadi aku gak boleh ikut?” Rengek Tyo saat tau kami akan pergi ke suatu tempat bersama, sepulang sekolah. Dengan kompak, aku dan Vionna melarangnya.
“Tidak!”
“Kamu kan cowo Tyo!!! Apaan. Main sama teman cowokmu sana.” Sambungku
“Agak aneh kalau kamu ikut, kata-kata Rein ada benarnya juga” sambung Vionna kemudian. Tyo tetap merengek minta ikut. Dia bersikeras kalau hal itu bukan hanya khusus cewek saja. Cowok juga bisa.
          Dan di sinilah kami, sepulang sekolah. Suatu tempat yang kami maksud. “Salon”. Tyo hanya menatap kami di salah satu kursi yang kosong dan bergumam cukup keras. Sengaja agar dapat di dengar oleh kita berdua.
“Ya ampun, sulitnya bersahabat dengan cewe yeah!”
Kami cekikan, aku menoleh ke arahnya dan menjulurkan lidah. Begitulah hari-hari yang aku lalui, aku menjalaninya dengan perasaan berbunga-bunga setiap hari. Aku hanya berpikir, aku beruntung ^-^

“Cinta itu datang dari hatimu. Bagaimana kamu memandang dunia dan orang-orang sekitarmu. Cinta datang dari sana. Cinta adalah kesederhanaan. Cinta adalah pengalaman paling berharga di dunia”

THE END

Komentar : 

Ini part 2 ya. Part 1-nya di blog Nisa San. Sudah di kasih link-nya di sini [LINK] PART 1
Aku juga udah janji mau ngasih tau apa sih pesan moralnya. Gak mau berpanjang-panjang. Tadinya besok saja 'waktu' buat nge-post cerpen ini. Biar greget. Karena takut gak keburu. Berhubungan dengan aku mau ada rapat LPJ di Sekolah. Jadi deh malam ini ckck 

Oke, apa pesan moralnya? Love is the moment. Ada yang tau gak kenapa kita ngasih judul itu? Aku pernah cerita -dalam postingan lain tentunya- kalau aku dan Nisa ngobrolin ide project ini tengah malem. Yang saat itu aku lagi galau keterlaluan. Gara-gara kak Lee Min Ho. Aku gak bisa move on dari drama-nya. Yang udah sebulan tamat! Pffffffft

Aku dengerin lagu ost-nya baik-baik dan simak liriknya. Karena pake bahasa Korea, otomatis aku gak akan ngerti. Jadi deh aku buka sahabat setia -a.k.a google.com- di sana aku mencoba meresapi dan apa yang ada di benak aku? Cinta. Cinta dan Cinta. 

Pernah jatuh cinta? Tidak? Pasti pernahlah ya. Cinta itu rumit. Cinta itu.... 
Cinta bukan hanya dengan lawan jenis, cinta juga bisa dengan sesama jenis. Misal: dengan adik kita dan cerita ini mengajarkan kita bahwa cinta bisa datang dari hatinya. Sama seperti hal baik atau buruk. Cinta itu pilihan. Pilihan mengenai apakah kita mau bahagia? atau tidak mau?

Pilihlah. Akan ada selalu konsekuensinya dalam setiap pilihan. Setelahnya, biarkan apa kata Tuhan. Dia yang lebih tau, Tuhanmu. Kalau Tuhanku kan Allah.swt :* 
Kembali ke topik, kita bisa membenci seseorang yang sebenarnya baik, menyayangi, dan bahkan berharap kamu tidak membencinya -minimal- seperti tokoh Rein dengan saudara tirinya -Vio- Memang Reinna punya alasan kenapa dia membenci Vionna. Tapi, apakah itu membuat Rein bahagia? Itu hanya siksaan. Pada akhirnya Rein tau itu.

Cinta bukanlah paksaan, bukan pula kesalahan. Sama seperti peristiwa perceraian orang tua Rein. Mereka dulu saling mencintai tapi kenapa sekarang harus menandatangani kata 'cerai' seperti yang Nisa San katakan. Manusia mana sih yang sempurna. "Namanya juga manusia..." ya kan? 

Dan sekali lagi hal itu bukan salah cinta. Lalu berbicara mengenai cinta panjang lebar begini. Apa intinya? 
Inti dari cerita ini, dalam pandangan setiap orang pasti beda-beda. Aku yakin deh. Yakin banget malahan :p 
Maka, silahkan buatlah pendapat sendiri. Kita manusia sosial. Di lingkunganku, aku dididik untuk selalu punya yang namanya opini dan kritikan dalam suatu hal. Tentu saja ada batasannya. Dan tentu saja aku gak selalu harus mengatakannya. Melalui tulisan. Seperti Cerpen ini. Aku... secara tak langsung. Memberikan opini pada apa yang telah aku lalui dalam kehidupanku. 

Dalam suatu sumber yang pernah aku baca. Seorang penulis tak pernah lepas dari kehidupannya. Masa kecilnya, masa lalunya, pengalamannya, dimana dia di didik, di besarkan. Tak lepas dari hal-hal begituan. Aku pikir, suatu hari nanti aku bisa membuat karya yang punya banyak kritik tersembunyi di dalamnya. Terima Kasih. Dan sekian.


NB : Ngomong-ngomong gambarnya (cover) itu bagus gak? asal pilih pffffft dan aku gak baca ulang nih, kalau ada yang typo maklumi sajalah kekeke ^-^ 

[CERPEN] I LOVE YOU, BUT... (Part 2)

“I Love You. But…”
(Part 2)
A Cerpen by Annida Sholihah
A story inspiration by Ibu Siti Khodijah



Flashback ke belakang :
Rian berlari di sekitar komplek dan menerobos masuk ke kamar Arif begitu saja. Saat Rian tengah mengatur nafasnya sebelum mengatakan sesuatu, Arif melongo penuh tanda tanya.
“Gawat bung, gadis yang kamu sukai itu…” Ia masih terlihat tengah mengatur nafasnya
“Aaaah lupakan saja diaa” Ucap Arif memahami topik pembicaraan.
“Gabisa. Gabisa, bung! Sadarlah. Dia bisa di ambil orang”
“Terus?” Dengan sikap yang tak peduli, Arif kembali fokus pada lembaran milik Reki yang tadi siang dia lupakan. Diam-diam ia menyesal kenapa tadi tak mengunci pintu kamarnya.
“Aaaah, gossip itu, sudah tau belum, bung?” ______ “Si cowo itu, katanya dia akan ‘menembak’ Sinta! Gak akan saya biarkan!”
Arif terkejut, buktinya ujung pensil yang tengah di gunakan itu patah. Pensil yang malang…
“Apaaa?”
“Tulis surat saja! Itu ide yang baik. Dari pada mengatakannya duluan? Aaaah ya ampun mana berani bung?” Cerocos Rian sok tau, tapi memang benar. Kenyataan berkata begitu.
Arif tampak berpikir. Lalu hanya mengatakan,
“Serius?” Tanyanya
“Huh?” Si cowo polos –Rian- kebingungan “Dua rius bung! Saya denger sendiri!” pffft
“Eheh. Bukan itu, surat. Maksudnya suratnya, bodoh!” Mau tak mau, Arif harus mengetok dahi Rian setidaknya sekali.
“Ampunlah bung. Cepat buat suratnya sekarang. Tak harus saya yang membuatnya kan?” Ucapnya, khas Rian sekali. Arif hanya menatap sahabatnya kesal, campur geli. Ia mulai mengambil alat-alat tulis, kertas A4 dan mulai menuliskan kata-kata puitis. Sambil menghela nafas lega, Arif menutup pulpen hitam yang lebih mirip spidol tebalnya. Belum apa-apa Rian sudah kabur, dengan surat yang baru saja Arif tulis.
“Rian!!!!!!!!” Teriak Arif membahana.
Flashback End.

Rian terkikik geli, apalagi saat tau sahabatnya ini lebih memilih memanggil Nana. Seharusnya kan…
“Diem di tempat!” Ancam Arif
Nana semakin dekat, ia tersenyum lebar-lebar. Beberapa gadis saling berbisik-bisik. Dan beberapa anak laki-laki saling suit “Cieeeeeeee cieee” atau “Waw! Nana sang fotogenic di panggil Panggeran es !” atau “Ayo Nana, ekhmmm” seperti itulah…
Gadis-gadis mulai sirik dan saling sindir, beberapa tak tahan dan merasa envy. Parahnya, ada yang menangis begitu saja saking shock-nya.
Arif stay cool, tetap tenang dalam situasi seperti ini. Ia sudah kebal. Tampaknya.
“Nih! Buat sahabatmu, berikan ya” Ucap Arif pelan tanpa basa-basi. Saat Nana masih di dunia fantasinya. Spontan Nana terkejut. Ia masih kebingungan.
“Jangan tanya dua kali, please?” Ucap Arif, untuk yang kedua kalinya.
Menahan malu sekaligus kesal, Nana tertawa. Tapi tetap menerima surat-nya. Ia berlari kecil menuju tempat dimana Sinta duduk. Menatapnya kecewa.
“Nih” Nana menyodorkan kertas A4 itu dengan paksa “Buat kamu, ternyata. Sinta” Sambungnya penuh nada kekecewaan. Ia segera berlari. Tak mau orang lain tau bahwa ia hampir saja menangis. Sinta mengerti, cukup dewasa untuk tidak mengejarnya. Terutama untuk menghindari kecurigaan orang lain. Gadis-gadis mulai berbisik, semakin seru. Yang laki-laki penasaran. “Bung, si Arif itu bicara apaan sih?”, “Woaaah, Envy sekali”, “Pangeran es bicara dengan perempuan?” “Eeeebuset, kayaknya si Nana kaget gitu ya?”
Dalam sekejab, gossip itu beredar luas. Ada yang bilang, bahwa gossip bisa beredar lebih cepat daripada angin. Benarkah?
          Nana terisak di ujung bagunan tua sekolah yang sepi. Sedangkan di tempat lain. Terlihat Sinta yang tengah diliput rasa penasaran berlari ke arah yang berlawanan. Arif sekilas menatap kepergian Nana dan Sinta bersamaan, merasa sedikit bersalah. Kemudian ia meninggalkan tempat itu di ikuti Rian dkk. Acara gossip-gossip, menjerit, dan saling bisik-bisik akhirnya bubar.
Nana mengambil sesuatu dalam tas-nya, Sinta membuka sebuah pintu dan Arif memikirkan tindakannya tadi yang sangat keterlaluan –terutama untuk Nana- Di sampingnya, Rian ngoceh tak karuan bak burung beo.
Beralih kembali ke Sinta. Ia membuka kertas putih A4 yang tadi di berikan Nana, yang ia tau, Nana terlihat sangat marah saat memberikan ini padanya. Ia membukanya dan memasang ekspresi terkejut yang aneh. Rasanya, dunia hampir kiamat.
“Apa-apaan…” Kata-katanya mengambang. Isinya benar-benar mengejutkan. Sinta mencoba mengejanya sekali lagi,
“Wangi melati… Itu pasti kau. Jepit kupu-kupu, itu pasti kau juga… Bolehkan aku berkenalan denganmu?” Sinta tertawa, di kamar mandi. Seorang diri. “Penggirim: Arif. Panggeran es yang pengecut?” Sambungnya, kemudian. Sinta sedikit mengerti kenapa tadi Nana menangis. Aaaaah ya ampun. Kekanak-kanakkan. Seniornya benar-benar kekanak-kanakkan. Sinta segera berlari, ke tempat dimana Nana selalu berada jika ingin sendiri. Gedung tua.
“Sinta?” Tanya Nana, terkejut dengan kedatangan sahabatnya. Ia segera menghapus sisa air mata dan memeluk Sinta begitu saja.
“Maafin saya Na” Nana menggeleng.
“Ituuu… tadi Cuma memalukan, tapi lucu sekali. Dasar aneh” Umpat Nana kemudian, Sinta tersenyum. Ia memberitahu Nana apa isi suratnya, dan berpikir haruskah ia membalasnya? Sepanjang hari itu, Nana selalu menggodanya. Nana adalah sahabat yang paling mengerti Sinta. Luar-dalam.
“Sudah saya bilang, kalian saling suka. Ya kan? Yaelah jangan bohongin saya lagi” Ucap Nana, di perjalanan pulang mereka.
***
Hari-hari berikutnya, Sinta dan Arif lebih sering berkirim surat. 5 kali dalam sehari. Walaupun mereka tetanggaan. Entahlah, kenapa tidak langsung ketemuan? Bagi kita, ada alat yang namanya HP. Internet. Social Media. Tapi saat itu, surat lebih ‘wah’ begitulaaah…
Mau Arif ataupun Sinta sama-sama setuju untuk tak bertatap muka secara langsung. Mendekati ujian, Arif jarang sekali terlihat. Bahkan sama sekali sulit di hubungi. Kebiasaan berkirim surat dari 5 kali, menjadi 2 atau bahkan sekali dalam sehari. Lucunya, setiap surat A4. Tak pernah sekalipun mereka menulis lebih dari 50 kata.
“Boleh sajalah. Saya Sinta. Kamu Arif? Itu perkenalan yang bagus”
“Terima Kasih. Lucu kan? Oh yaa”
“Ya begitulah. Nana menangis”
“Sampaikan. Salam. Untuk Nana”
“Oke. Akan saya sampaikan”
“Terima kasih banyak wangi melati”
Dan begitulah. Kadang-kadang Arif berpuitis. Menceritakan kehidupan sehari-harinya. Berkeluh kesah. Memberi semangat. Membosankan.
          Di hari terakhir setelah pengumuman universitas. Arif menemui Sinta, di rumahnya. Ibunyalah yang menemukan Arif berdiri –galau- antara mau masuk atau tidak ke dalam dan mengetuk pintu. Hampir saja ia pergi jika tak mendengar suara itu.
“Mas Arif?” sapa ibu Sinta ramah. Arif terdiam, hanya senyum kecil yang tampak di ekspresinya.
“Ayo masuk” Ajaknya. Arif masih diam.
Ibunya membawa Arif ke ruang tamu, sudah duduk manis di salah satu kursi kebersaran milik ayah Sinta. Dan orang itu, ayah Sinta. Arif meringis. Selagi ibu Sinta memanggil anaknya. Ayah Sinta melempar berbagai jenis pertanyaan ke arahnya.
“Berapa umurmu?”
“Kau kelas 12 kan? Lanjut kemana?”
“Apa hubunganmu dengan anakku?”  
Arif melongo. Posisi dan cara duduknya sudah mirip puteri bukan panggeran. Saking groginya. Ayah Sinta tertawa, sebelum mengucapkan kata selanjutnya,
“Baiklah. Maafkan ayahmu ini nak. Hahaha”
Akhirnya Sinta mucul dan tersenyum tipis, menariknya keluar, sebelum ayahnya menge-bom berbagai pertanyaan lainnya (lagi)
“Kirim surat saja, lalu kita bisa janjian jam berapa dan dimana kan?” Ucap Sinta mengawali. Arif mengangguk pasrah.
“Ituuu… kuliah. Ah, pamit” Ucap Arif kemudian. Tergagap. Lebih karena tak mampu mengatakannya. Sinta tetap tenang, hatinya berdebar.
Sejak masa-masa berkirim surat –yang yah, telah berjalan selama kurang lebih tiga bulan- Dia tau, suatu hari nanti Arif pasti akan meninggalkannya. Pergi ke kehidupan lain di luar Kota. Sinta tersenyum, walaupun senyum itu terkesan di buat-buat.
“Besok. Aku dan yang lain. Di lapangan. Datang ya” Ucapnya pelan, hampir tak terdegar. Sinta mengangguk. Masih memaksakan senyumnya. Berharap Arif mengatakan hal lain, yang lebih dari sekedar itu-itu saja.
“Well, aku akan datang. Janji. Selamat ya” Akhirnya mereka berpisah untuk sisa hari ini. Sama-sama tak rela.
Beberapa saat yang lalu, Arif sudah memberitahu Sinta perihal rencana kuliahnya di Bandung. Dan Rian di Bogor. Surat tanda bahwa dia lolos seleksi juga sudah tiba. Ia akan pamit secara langsung. Nanti.
***
          Pagi yang cerah, Sinta mengenakan setelan favoritnya. Kemeja putih polos, syal kuning, jepitan kupu-kupu, dan celana yang di pakai di pinggang. Ia berlari keluar, Nana dan dua temannya yang lain sudah menunggunya di tempat biasa. Mereka segera berlari ke lapangan. Tak mau telat, tak mau ketinggalan moment penting seperti ini. Setiap tahun. Di lingkungan mereka, pada bulan yang sama. Selalu ada perpisahan yang secara khusus di tunjukkan untuk para remaja kelas 12 SLTA yang lulus dan di terima di perguruan negeri luar kota. Dari jauh, Arif menyadari kedatangan Sinta dan melambai-lambai penuh arti. Ia mendekat.
“Simpan ini, sampai saya menyusul kamu tahun depan” Ujar Sinta, melepaskan syal kuning yang melilit lehernya. Arif tersenyum.
“Ini hanya Bandung. Masih satu provinsi dengan Serang. Jangan khawatir” Ia tersenyum menenangkan “Saya sudah mengirim semua bekas soal-soal masuk PTN ke rumahmu. Belajar yang rajin ya adik cantik” Arif mengusap rambut Sinta lembut dan pamit. Ia melambaikan tangannya. Hubungan mereka… Sangat aneh. Bagaikan kakak-adik. Siapa tau, diam-diam mereka saling membutuhkan satu sama lain.
Di samping Sinta. Nana terisak. Rian mendekatinya dengan malu-malu. Sekotak persegi berbalut bungkus Koran bekas di tangannya berpindah, berada di tangan Nana.
“Sampai jumpa. Jaga diri baik-baik kalian!” Ia tersenyum. Lebih kepada segerombolan gadis-gadis yang menjadi adik kelas di sekolahnya.
“Hey Nana, jaga itu ya. Kita akan ketemu lagi. Dah” Ucap Rian, sebelum masuk ke dalam mobil tua milik pak RT.
***
Sinta kembali ke kamarnya dengan ekspresi kelelahan, tanpa semangat. Ibunya mengingatkan dia ada suatu paket hadiah dari anak yang kemarin sore berkunjung. Ia membukanya. Ada sebuah hadiah dan surat di dalamnya. Kertas A4. Lipatan yang sama. Dan tulisan tangan yang sama. Bahkan isinya tampak sama. Padat, singkat, jelas.
“Sinta… Maaf. Berlajar yang rajin ya. Jangan lupakan janji itu. Aku” Tulisan itu di tulis dengan huruf yang rapi. Memenuhi seluruh tempat dalam kertas A4 “Tidak. Nanti saja. Lain kali. Sampai Jumpa. Tahun Depan. A”
Sinta tertawa, ia bergumam sendiri “Dasar pengecut” ia masih tertawa. Jelas-jelas, ada sesuatu yang lebih dari persahabatan diantara mereka, lebih dari sekadar hubungan kakak-adik. Sinta memilih diam. Karena ini menarik.

“I Love You, But I can’t to says” Tulis Arif. Di book note-nya. Ia menutupnya. Kemudian tersenyum.

THE END

Komentar :

Well, nulis cerpen ini hampir memakan waktu 2 hari. 4 jam penuh. Masing-masing 2 jam/hari. kekeke
Entahlah, maksud dari ceritanya apa ya? Tadinya sih, gak begini endingnya. Ujung-ujungnya? Kok begini? Gak tau kenapa. Benar-benar jadi kehilangan sentuhan deh. Ya kan? pffft

Mengenai, a inspiration, Bu Siti Khodijah. Dia itu Guru Sejarah di sekolah aku, sekaligus pembina PMR -Eskul tercinta- dan kebetulan, selesai rapat LPJ kemarin. Aku dan Aini ke rumahnya bu Siti. Niatnya sih pengin dengar sarannya. Yang berujung pada 'curhat' panjang*lebar khas bu Siti banget hahah XD

Dengan senang hati kita denger-in. Awalnya terkesan buang-buang waktu. Yang pada akhirnya kita terbuai dan sungguh takjub dengan cerita tersebut. Kenapa? Karena suana sudah mendekati kata 'sore' kita gak mau kan pulang sore banget, apalagi malem? Bisa-bisa di cincang sama mamah aku nih )_( Yang ujung-ujungnya kita pulang pas magrib sudah bergema dan kelupaan buat sholat ashar LoL

Bahkan Aini yang tak suka baca novel, tak suka cerita begituan, yang hambar dan mirip sinetron. Akhirnya berkomentar "Gue sampe kebayang-bayang nih" Yaelah Ai ckckck Hebat kan?

Sejujurnya. Versi asli cerita bu Siti jauh lebih panjang. Penuh flashback, penuh konflik dan ada kehadiran tokoh 'cewe kedua' yang psikopat dan obsesi dengan cinta. Dan cerpen di atas bukan murni cerita-nya bu Siti dalam kehidupan nyata. Itu hanyalah inspirasi. Dengan sosok, kehidupan, karakter. Semacam itu. 

Jadi. Jauh beda. Dan JANGAN di samakan. Oke sekian. 

Terima Kasih banyak buat Bu Siti Khodijah, Aini Sabila dan para pembaca. Dan terakhir, lebih baik beri komentar buat perkembangan selanjutnya ya. Love!

[LINK] CERPEN Duo "A" (Project 2)

Kembali lagi ke rencana awal. kita - Duo A- berkerjasama untuk proyek yang kedua. Mungkin karena ini liburan dan sama-sama di rumah aja. Lebih baik menghabiskan waktu untuk hal yang berharga dong. Setuju?
Nah, aku mau kasih Link-nya nih ^-^ Ada di blog Nisa San. 

(CHAPTER 1)


[Inspiration: CINTA ITU.... APA SIH?]

A CERPEN BY ANNIDA SHOLIHAH AND ANNISA APRILIA


Komentar : 

Makasih Nisa San. Udah bersedia bekerja sama. Tanpa kamu, aku gak akan bisa nyelesaikan Cerpen ini. Aku harap, di lain waktu. Saat kita punya banyak waktu luang lagi. Project ketiga bisa berjalan ya beby cantik ^-^ 

Well, ngomong-ngomong cerita ini terinspirasi dari judul lirik lagu "Love Is the Moment" ost-nya The Heirs. Yang kalau tidak salah- lagu tersebut menceritakan betapa mencintanya seseorang tersebut, setiap saat, setiap hari, setiap waktu yang sulit di jelaskan dengan kata-kata. Cinta itu? Lebih dari sekedar dari yang kita tau, cinta itu... Lahir dari hati kita, cinta itu... 

Pesan moralnya akan di jelaskan di postingan Cerpen Part 2-nya yaa. Di blog ini. Makasih sudah berkunjung XD