Tuesday, September 19, 2017

MAHASISWA TINGKAT AKHIR

gue: memasuki fase sedang berjuang untuk mendapatkan toga

Hai. Setelah sekian lamanya seorang Annidake menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta dengan segala suka-duka. Akhirnya saat yang "awkawk" tiba. 

Yep.

Betul. Lo lo semua pasti sudah baca sub judul yang maha-maha sekali diatas. Kata yang amat sangat maha tersebut adalah sesuatu yang... ekhm, bakal kamu lewati fase-fase tersebut selama menjadi seorang mahasiswa.

Guys. Selama ini, gue banyak tanya ke diri sendiri pertanyaan sepele banget, "Selama ini kamu sudah melakukan apa aja di bangku kuliah? Sejauh mana kamu paham soal materi kuliah? Penting gak sih nilai IPK mu itu?"

Jujur, gue gak berharap bisa lulus 3,5 tahun. Gue gak berharap bisa lulus dengan cum laude. Gak munafik ya. Gue cuman lihat kenyataan aja, meski kamu bilang selama mau berusaha pasti selalu ada jalan.

Kuliah buat gue itu proses. Proses pencarian jati diri dan segala tetek bengeknya. Karena sejak lulus dari SMA, ada satu hal yang bikin gue penasaran soal hidup. Soal bersyukur. Dan soal seberapa besarnya adanya sebab-akibat dalam kehidupan. 

Mulai dari nyusun rencana soal berubah, dll. Udah banyak yang gue lalui selama 3 tahun kuliah jauh dari tempat gue dibesarkan. Terus apa yang kurang?
Rasanya banyak deh. Semuanya bakal terasa kurang saat kamu berada pada fase menjelang akhir, ya itu, dengan menjadi mahasiswa tingkat akhir.

Awalnya kamu akan merasa kesepian tentang hal-hal kecil, karena dengan menjadi mahasiswa semester akhir kamu akan mulai kehilangan teman-temanmu yang pada semester awal merupakan seorang yang selama ini selalu ada kamu juga ada dia. 
Kamu mulai berjuang sendiri, pusing sendiri, ribet sendiri, stress sendiri.

Buat gue, bagian yang paling membingungkan itu bukan lagi tentang KRS. Dulu, pertama menjadi mahasiswa baru... gue cuman takut tentang perang KRS. Tapi semakin kesini, yang gue takutin itu perang dosen pembimbing. Karena itulah... gue kebanyakan galau dan bikin strategi macam-macam.

Meskipun gue dapetnya dosen pembimbing skripsi yang lumayan kata senior, tetep aja... selama gue masih males dan punya niat buat gak lulus cepet, apalah daya? 
setiap orang emang punya batas kemampuan masing-masing sih. Tapi kemampuan gue yang paling unggul itu kemauan keras dan mental baja. 

Yeah.
Alasannya simple. Kalau kamu jadi anak rantau macem gue, pasti sedikit paham deh. Well, gini loh... kalau udah lulus belum tentu kan bisa dapat kerjaan? Dan belakangan, gue denger dari senior yang ikut kepanitiaan job fair, pelamar fresh graduates itu ada 5.000 orang. Njay~ 

Siap? Gue belum. 
Dan gue punya rencana tentang gak akan kembali ke tempat gue. Bukan maksud gak mau berkontribusi buat daerah tempat gue menghabiskan sebagian SD - full SMP - full SMA, gue sudah terlalu biasa dengan menjadi anak rantau dan lebih bebas tentang arahan hidup kedepannya yang pengen gue gambarkan. Selama gue tinggal dengan orang tua, dan menjadi anak gadis itu susah, men.

Hal kedua tentang menjadi mahasiswa akhir adalah dilema. Jujur gue gak ngerti arti luasnya tentang dilema, anggap aja itu sebuah kata-kata pengambaran tentang hati yang kebingungan.
Soal apa? Hal pertama yang sudah gue rasain sih tentang pertanyaan: Mau ngambil tema apa? Judul apa? Penelitian dimana? Dosbim bakal setuju atau tidak ya? Susah tidak ya kalau mau ambil soal judul kayak gini? Aduh, baru mau pembingan pertama sudah kena php dosen, dll, dll.
Banyak deh. Itu pertanyaan muter-muter terus, sampe gue tinggal nonton youtube comeback BTS, wkwkwkwk.

Guys, gimana kamu gak dilema saat liat update temen-temenmu yang sudah jalan grak siap sedia hump! lompat.
Dan kamu masih pemanasan tu wa ga lemasin lutut?
Auh aaah~ 

Kadang, kamu selalu bakal mikir dua kali kan. Kamu kuliah dibiayain orang tua. Nek ndak lulus-lulus opo rak melasi mbe ortumu? 
Heee, ngomong apaan sih.

Hal ketiga, kamu jadi berangan-angan ada cowok yang nyanyiin lagu Akad - Payung Teduh di depan kamarmu aja... Pengen! Wah. 
Iya kalau kamu cewek. Yang cowok mah minum baygon aja dah cukup. 
Dengan kata lain gue mau bilang gak kuat. Berat sih iya. Bahkan kuotes tentang mending mana senang-senang dulu baru menderita atau menderita dulu baru senang-senang? 
Lah gue sih sih gak milih dua-duanya. 

Hal keempat adalah soal strategi dan mental baja. Seenggaknya kamu harus lah ya punya strategi dan persiapan yang matang plus plus mental baja. Kamu siap sibuk lahir batin, gak cuman fisik yang bakal capek, psikologi kamu juga, otak kamu juga. Kamu bakal siap-siap di uh uh sama dosen pembimbing dan kamu bakal menghadapi tes macam-macam. Kalau di gue ada tes toefl, sidang komprehensif, sertifikasi/magang untuk kelengkapan pendamping ijazah, harus sidang skripsi. 
HA. Mentalmu tempe? Dah lah, aku no comment.

Hal terakhir yang sangat maha itu soal pertanyaan gaes. Pertanyaan yang sangat amat banyak bakal kamu dapetin selama memegang gelar mahasiswa tingkat akhir. Sejauh ini sih yang kebanyakan ditanyakan ke gue: kamu semester berapa? sudah ambil skripsi? skripsimu tentang apa? udah bab berapa ngerjainnya? PERSIAPAN SAMPAI MANA?

Hehe. Sorry keyboard gue aneh tiba-tiba.
Dan guys. Kepanjangan gak nih? 
Oke end dulu yaaaa. Karena gue baru beberapa minggu ambil skripsi, dan masih belum jalan sama sekali, bahasannya cuman itu saja. Next time gue ada waktu bakal gue bahas tuntas skripsinya kok.

Bhay.


Dari Annidake yang tengah galau malam-malam
Semarang, 19 September 2017