Wednesday, March 20, 2019

Definisi Senja yang Tak Terjawab

"Senja seindah apapun yang kamu jumpai, akan menghilang di penghujung hari."  --Akhir, 2018


Hari itu, aku menyadari ada banyak senja-senja yang pernah hadir di hidup seseorang. Definisi senja yang sesungguhnya itu apa?

Sama seperti layaknya kita mencari arti jati diri kita, kita mencari definisi senja kesana-kemari. Seseorang pernah bilang padaku. Meski dipenghujung hari senja yang indah akan menghilang, esok ia akan datang kembali jauh lebih indah, berilah waktu untuk senja, biarkanlah menghilang, sambut malammu, begitulah caramu mengetahui bahwa senja bukanlah perpisahan. 

Ya. Definisi yang terlalu dalam, bukan? aku pun gak paham. Sampai sekarang.

Juni kemarin di 2018, baru saja kutulis sebuah kata perpisahan tentang melepaskan. Juni itu pula seseorang bertaruh padaku dalam piala dunia, menawarkan padaku komitmen, memberiku banyak janji-janji yang akhirnya kumakan bulat-bulat dan mengatakan banyak hal lain tentang masa depan bersamanya. Patah hati memang selalu menghadirkan kesempatan-kesempatan lebar bagi orang-orang semacammu. Lagi, kaupun mengerti. 

Aku menerimanya, yang kemudian dipatahkan kembali dengan sebuah kata, "Maaf."
Semudah itu? Lucu, kan. 

Pada November 2018, kamu pernah mengatakan padaku tentang hal-hal yang ingin ku tanyakan, "Ketika fasenya datang... Kalau nanti begini... Kamu bakal begitu gak.... Kamu janji?"

Hari itu, kamu berhasil menyakinkan aku untuk memilihmu, "aku gak main-main," katamu. Semuanya dipatahkan dengan ketika kamu akhirnya melepaskan tanganku.
"Maaf. Mari kita saling memperbaiki diri dulu yaa Annida. Aku yakin, kalau kita berjodoh. Akan ada kesempatan lagi untuk kita berdua."

Hey, kamu melepaskan tanganku. Kenapa aku harus terus berjuang pada hati yang tidak ingin diperjuangkan? Kenapa aku harus mengharap? Kenapa aku harus memohon agar kamu tetap memegang tanganku? Sesabar apapun aku, bagaimanapun aku berusaha untuk mempertahankan kita, seberapa kerasanya aku mencoba mengalah, memberimu space, kamu tetap melepaskan.

Pada akhirnya, aku mengerti. Kamu sama saja. Seperti laki-laki lain yang hanya berjuang di awal. Kamu belum mampu membuat komitmen, kamu kekanakan, puas?
Kamu bahkan gak mencoba memahamiku, seberapa keras usahaku, gak pernah kamu hargai. Aku menyerah dan memilih untuk berhenti, sebab  hubungan adalah tentang dua hati yang saling berjuang dan ketika salah satunya berubah, maka pilihan terbaik hanyalah mundur. 

Hari itu, saat kamu melepaskan aku, aku menyadari... hubungan kita sudah lama tidak pada satu frekuensi.Tak akan pernah ada kesempatan keduakah?

Aku sudah memberikan seluruh kesempatanku, yang akhirnya kau sia-siakan lagi. Daripada sibuk berharap, aku lebih memilih sibuk untuk belajar mengikhlaskan. Jadi, tolonglah... berhenti memberiku harapan-harapan yang pada akhirnya kamu katakan sebuah permintaan maaf lagi di akhir cerita. 

Kisah kita sampai disini, ya. Maaf. Kesempatanmu sudah habis. Biarkan aku mengikhlaskan segala luka ini. Biarkan aku belajar lebih baik lagi. Menemukan yang lainnya.

Dear kamu, makasih ya. Untuk segala hal. Meski bukan ini akhir yang aku harapkan, kamu pernah membuatku percaya kembali pada hal-hal sederhana yang bisa seseorang berikan. Kamu pernah  membuatku bersinar dan berpijar, kamu pernah membuatku merasa menjadi berarti, membuatku belajar sabar. Tuhan mengirimmu agar aku bisa lebih tangguh lagi menerima luka. Dimasa depan, semoga kamu menemukan seseorang yang jauh lebih sabar daripada aku, menyayangimu jauh lebih dari aku, mememberikan cinta dengan tulus dan tak pernah menyerah untuk terus berada disisimu. Semoga. Aku pun juga, akan menemukan orang yang satu frekuensi denganku.

Aku benar-benar pamit. Selamat Tinggal Senjaku pada Februari 2019!!! 






Dariku, yang kembali dipatahkan
 Annidake