Sunday, March 5, 2017

KESAN TENTANG KULIAH DI SWASTA: UDINUS - SEMARANG

Aku punya sebait cerita, sebait yang dalam versiku artinya mungkin beberapa paragraf membosankan.

Maukah kamu membacanya hingga akhir?
Cerita ini berawal disini. Kampus Biru, Udinus - Semarang 💙
Ceritaku di dedikasi untuk kamu yang penasaran tentang orang-orang yang berkuliah di Kampus Swasta. Orang-orang yang gagal memasuki Universitas Negeri. Dan orang-orang yang masih menganggap masuk Kampus Swasta hanyalah jalan akhir agar dapet menempuh pendidikan tinggi.
***

Aku berkuliah di salah satu kampus unggulan swasta terbaik di Jawa Tengah. Kutekankan dengan tanda kutip,kampus unggulan.” katanya. Sama seperti kebanyakan orang, waktu itu aku memang menganggap Universitas Swasta berada jauh dibawah Universitas Negeri. Tapi, apa realita yang kamu tau sekarang? sudah 2,5 tahun kuberjuang di kampus yang dulu berada di nomer cadangan.

Lucu, ya.

Saat memasuki semester 6. Kamu bakal sadar soal satu hal tentang kuliah: belajar pun butuh sesuatu yang nyata diluar sana. 
Bukan soal dimana kampusmu, siapa dosenmu, seberapa mahal biaya kuliahmu, seberapa kerennya fasilitas kampusmu. Atau apa akreditas kampusmu.
Best Partner
Kuliah adalah persoalan yang lebih kompleks. Kuliah adalah waktu yang tepat untukmu belajar soal hidup, menggali jati dirimu, mengapai impianmu, dan bersenang-senang tanpa lupa akan tanggung jawab.

Pertama kali diperkenalkan dengan kampus biru, yang menjadi saksi perjalanan masa remaja menuju dewasaku adalah ayah. Pilihan akhir untuk anaknya yang gagal diterima oleh Universitas Negeri. Nama kampusnya sangat asing. Untuk seorang anak yang tinggal bersebrangan dengan Ibukota, dan harus merantau sejauh 14 jam perjalanan bus. 9 jam perjalanan kereta, atau 1 jam perjalanan pesawat.

Menurutmu, apakah berkuliah swasta sejauh itu pilihan tepat?

“An, kamu abi daftarin ke Udinus.” Ujarnya, suatu pagi.
Apa itu UDINUS?
Dimana itu?
Kampusnya bagus?
Aku punya seribu pertanyaan pada hari itu, yang hanya “oh sudahlah, tahan saja oke.” Karena diam merupakan pilihan yang tepat. Abi sudah terlalu frustasi dengan kegagalan bertubi-tubi dalam pengumuman online penerimaan mahasiswa baru.
Guys, kupikir gagal pada saat itu bukan akhir segalanya. Ketika berkuliah di Udinus. Aku mencoba membuat suatu tujuan, suatu pencapaian, suatu perubahan.
Kampus ini banyak mengajarkanku tentang artinya berjuang. 
Senior-senior di Organisasi. Terima Kasih untuk pengalaman berharganya.
Kampusku cukup unik. Lokasinya yang strategis punya banyak keuntungan tersendiri. Alasan ayah memasukkanku ke kampus Swata Udinus adalah soal biaya hidup, soal adaptasiku kelak. Katanya, kalau aku ditempatkan kampus ibukota, aku gak akan sanggup. Semarang adalah salah satu kota yang cukup ramah, dengan biaya hidup ideal, dan orang-orang yang juga ramah. Ayahku memikirkan kemungkinan yang terjadi untuk kedepannya.

Aku gak begitu mengenal lingkungan Jawa Tengah. Rata-rata temanku bahkan berasal tak jauh dari Kota Semarang. Meski mereka nge-kost, setidaknya, setiap satu atau dua minggu sekali, mereka akan punya kesempatan untuk pulang. Sedangkan, aku?

Dari awal, sudah kuyakinkan berkali-kali bahwa masuk kampus swasta pun punya dampak tersendiri. Mengenai pepatah lama, Bukan tergantung dimana kuliahmu. Tapi tergantung bagaimana kamu melewati prosesnya. Bagaimana caramu belajar selama kuliah. Intinya adalah tergantung dari karaktermu.”

Jika dunia perkuliahan tak membuatmu menjadi seorang yang tangguh. Jika kampus mu tetap membuatmu mempunyai mental tempe (mental jelek). Lalu, buat apa? Perlukah kamu bangga?
***
Aku ada banyak cerita tentang Udinus. Kampus berbasis teknologi dan kewirausahaan ini punya banyak program-program mahasiswa yang menarik. Beasiswa, kesempatan magang, punya banyak kegiatan, punya banyak event, dll.
Ikut berbagai macam organisasi adalah tahap awal untuk berkembang
Salah satu hal yang perlu kita pertimbangkan adalah bagaimana cara untuk bisa ikut berpartisipasi di dalamnya. Ketika ditempatkan di Universitas Negeri, aku berpendapat tak akan punya kesempatan-kesempatan seperti itu.
Kuliah di Udinus itu asyik. Tergantung bagaimana caramu menjalaninya.
Jadi, aku bergabung dengan UKM kampus, organisasi Fakultas dan mendaftar ke sebuah magang. Aku punya harapan lebih untuk merubah karakter. Aku yang sekarang tentu saja berbeda dengan aku 2,5 tahun yang lalu. Udinus benar-benar mengubah banyak hal soal hidup. (Sudah banyak kuceritakan hlo di postingan blog sebelumnya).

Seperti motto kampusku: For A Better Future (Untuk Masa Depan yang Lebih Baik). Maka, dengan memasuki dunia yang lebih menantang, aku mencoba untuk berkembang disana. Ada banyak peluang didepan, dimana pun tempatmu saat ini.
Belakangan ini, aku penasaran soal satu hal tentang kampus. Semua berawal ketika berkunjung ke website kampus. Ada salah satu slogan dengan tata bahasa yang cukup unik:
   
Dibaca:  Dumununging Ingsun Angrakso Nagoro Nuswantoro.

Kalau diartikan, semacam suatu slogan yang menyeru untuk terus ikut dalam pembagunan Bangsa dan Negara. Seperti namanya, Nuswantoro. 
Buktinya, kampus ini terus berkembang. Terus membenahi diri, terus menghasilkan karya-karya dan mahasiswa yang berprestsi diluar sana, terus melakukan kerjasama pendidikan, terus memperbaiki saranan dan prasarananya, dan yang aku sukai... suasananya. 
Para alumni, pasti rindu. Tempat ini membuat siapapun nyaman. 

Rasanya ingin kembali lagi ke awal. Masa-masa ospek
Menjadi aktivis disini membuatmu dikenal oleh dosen
Aku bangga dengan kampusku. Aku bersyukur abi menempatkanku untuk berkuliah disini, di Udinus. Orang-orang yang banyak bertanya: kenapa kamu gak kuliah di swasta Bandung aja? Atau gak di Jakarta, lebih deket rumahmu.

Setiap orang punya alasan kan. Dan alasanku mungkin sepele pada awalnya. Setelah menjalaninya sendiri, alasan sepele itu membantuku dalam berkembang.
Untuk mencari ilmu. Jangan pernah merasa kecil. Jangan pernah juga menyerah. Keberhasilanmu dimasa depan adalah usahamu dimasa sekarang.  
Fokusku saat ini: menuju wisuda dan merencakan masa depan lebih baik 😍
Sampai Jumpa. Terima kasih untuk waktumu karena sudah membacanya hingga akhir.
.
.
.
I 💙 UDINUS

Salam Kenal.
Seorang Mahasiswa Menjelang Skripsi, Nidake.

JOGJA DAN KENANGANNYA (Part 2)

nb: Postingan ini cuman cerita singkat liburan kita. Semoga yang baca iri dan cepet-cepet bikin rencana liburan kesini (Jogja) bareng ahabat-sahabatnya. Hey, hidup itu gak perlu serius banget soal tanggung jawab.

Baca dulu Part Satu: Disini.


PART 2
Group Holiday
Nah, sebelum mampir kost. Kita makan dulu. Perut hlo keroncongan. Ngemil ternyata tak membantu. Butuh yang anget-anget. Dan kita juga lamaaaa banget ketemu mas Agusnya. Kita tuh udah nunggu di bunderan UGM, dan baru beberapa saatlah mas Agus akhirnya muncul bareng cewek, gatau siapa si cewek yang diboncenginnya. Dan setelah cas cis cus. Kita langsung cuss ke tempat kucingan langganan anak UGM, ngikutin arah yang ditunjukin mas Agus dari motor. Disana tuh rame bro sis, rame banget. Banyak anak UGM yang gantengnya gak ketulungan. Anak organisasi. Anak UKM kayaknya atau anak biasa yang kelaperan. Atau mungkin anak rantau Semarang yang sedang kesasar di UGM (-kita), atau ada juga anak mantan calon UGM yang akhirnya ditolak masuk ke UGM (-gueee nong, gue ini. Hmmm) wkwk. 

Photo by Me. Ini Naya enak bgt sempet foto di bukit bintang, wkwk. Abis itu ujan soalnya.
Malioboro. Eh, blurrrrr~
Selfi, yay. Lengkap masuk ke frame semua yah.

Tau, gak? Yeee, belum dikasih tau, jangan so soan jawab (^.^) hehe.
Aku tuh makan, 1 nasi bungkus, 1 teh panas, 2 tempe kecil, dan satu gorengan martabak mini, habisnya Cuma Rp.4.500. Kaget aku. Murah banget. Naya malah habisnya cuman Rp.3.000. Edian. Murahnyaaaa.
Nah disana tuh kita cukup lama sih, sampe jam 24.00 wib. Sambil nungguin mas Agus juga, soalnya setelah nganterin kita ke kucingan, mas Agus pergi lagi, katanya sih mau nganterin si cewe dulu. Gitu…
Satu hal tentang Jogja yang bikin kangen: ke-khas-annya.
Setelah mas Agus dateng, dan kucingan juga udah mulai sepi dan udah siap-siap mau tutup. Kita cuss mobil dan langsung otw kost. Muka kita udah kucel semua, dan bener-bener real nih yang cewek. Tanpa make up! Wkwkwk. Gembel dah jadi pendiem, Naya juga. Aku? Wes ngantuk banget, meski di mobil tidur. Nah, yang nyetir apa lagi coba? Pasti kan capeknya bekali-kali lipat.
UGM
Alhamdulilah nyampe kost mas Agus dengan selamat sekitar pukul 00.30 wib-an. Kita mulai ambilin semua barang yang diperlukan. Dan segera meluncur ke lantai 2. Ohya, mas Agus baik banget. Kita kan nyewa satu kamar yang kosong, yang cewek malah suruh tidur di kamarnya mas Agus sendiri, dan yang cowok di kamar yang kosong. Enak sih, ada tipi, kipas, kasur selimut dan colokannya, wkwk. Kan bisa nge-cash hape dan kamera. Coba kalo di kamar yang kosong? Uuuh, kurang kabel colokan ini mah.
Kost-nya mas Agus. Njir. Khas cowo banget loh.
Berantakan, guys.
Nah, mas Agus tidurnya di kamar temen. Mas Rico+gembel di kamar bawah, di kamar sewaan kita. Murah kok, untuk biaya kamar, kita per-orang cuman nyumbang Rp.30.000, termasuk untuk tambahan biaya bensin, iuran masuk pantai, dan parkir-parkir pantai, malioboro, tempat makan, dll (yang masih di talangin Aryani)
Sebelumnya kita udah saling pt-pt, Rp.125.000/orang. Untuk biaya bensin dan mobil sampe full pulangnya. Jadi, yaaah. Liburannya termasuk murah kan?

Saatnya bobo. Ohya, setelah masuk kamar, (jujur yaaa aku gatau gimana kondisi di tempat cowok) yang bagian cewek tuh gak pada langsung bobo. Naya, Tiwi ke Indomart dulu. Aryani tidur di tempat tantenya, entah dimana. Dan Mala sakit, sempat demam juga hlo. Uh-uh.

Setelah beli obat buat Mala, dan air mineral. Kita semua ganti baju, dan aku mulai bobo. Aku udah pusing dari sejak di mobil. Naya sama Tiwil kerokan malah, wkwk.
Tivi di kost juga nyala terus sampe pagi.

Good Morning Jogja!!!
Siap cuss hari ke-2!!
Pagi-pagi grup cewek bangunnya subuh. Hebat, ya. Kita cuman bobo 3 - 4 jam doang. Selepas sholat subuh, dll. Mas Agus beliin kita makan, banyak banget porsinya. Ada yang nasi kuning, dan nasi putih. 
Abis makan, antri mandi, dan pada sibuk mindahin foto-foto kemarin yang di pantai ke hp masing-masing sambil nungguin yang lain selesai mandi.
Si gembel nih perusak foto orang di belakang -_-
Gak lama kemudian, Aryani dateng dari rumah tantenya dan kita langsung rapat soal destinasi selanjutnya sebelum pulang Semarang. Setelah perdebatan yang panjang soal, 'ih jangan kesitu, jauh.' 'duh, kesitu panas.' 'kesitu mahal tau, jangan ah.' 'duh, kesitu mah bakal pulang besok, no pantai, no gunung yang jauh ah.' 

Elah.
Akhirnya, atas saran mas Agus yang mahasiswa Jogja, kita pergi ke MGM, semacam museum gunung merapi. Setelah itu kita bisa memutuskan untuk cari makan di sekitar sana. 
Bahkan ke MGM yang gak terlalu jauh pun kita kesasar dan pake GPS, wkwkwk. 
MGM
Di MGM aku lupa bayarnya berapa. Gak mahal kok. Tapi kalau mau nonton semacam bioskop kecilnya tentang Merapi harus bayar lagi. Jadi ya, emang tiketnya beda, ya.
Akhirnya kita memutuskan gak nonton. Di youtube aja noh kalo mau nonton (^.^')
Lagi ngeliatin jodoh dimasa depan~
Disana, kita foto-foto sepuasnya. Selfi, mulai dari alay, biasa aja, flat, gaya yang lagi hitz, yang jadi mas fotografer, dan yang narsis luar biasa. Adaaaa~
Sumpah deh, ini alay banget. Gak akan kita upload ke medsos, wkwk

Full team versi cewek
wkwkwk. 
Ih, kan kangen. Ini part 2 aku nulisnya udah lewat lama banget padahal loh.

Pengen kesini lagi~
Hayooo tebak kita lagi bahas apa~
Backround nya bagus, ya.
Oke, next. 
Setelah capek dan merasa udah cukup, kita langsung cuss ke tempat makan. Awalnya di tempat makan 1, aku lupa namanya, dan disana tuh parkir mobil udah penuh, plus pas udah pada turun, ternyata tenpatnya juga penuh, harus ngantri. Lah.
Akhirnya kita memutuskan untuk ke tempat makan lainnya, belok deh. Dan yeah, dapet tempat makan lainnya. Ini ruangnnya outdoor gitu, lebih ke tradisional dan asri. Penuh sih, tapi lumayan kebagiaan tempat. Pas banget pula mulai gerimis. Jadilah kita pesen disitu aja; menu ayam, ikan, sayuran, jus, es krim, dll.

Sambil nungguin makan, aku ke kamar kecil dulu, numpang pipis, wkwk. Jogja pas ujan tuh dingin banget, dan bikin beser, uuuuh~
Yang lain duduk-duduk anteng entah ngapain. Udah pada kelaperaaaan.
Muka-muka laper, lelah, bete, kzl. Pengen ketemu kasur.
Nah, selepas makan, kita langsung cuss ke tempatnya mas Agus, guys. Btw, mas Agus kan ikut, jadi harus nganterin dia dulu balik dong, masa nurunin di jalan?
Barang-barang kita udah di masukin mobil sejak sebelum ke MGM, karena emang niatnya kita bakal langsung pulang setelah dari MGM, hari sudah mulai sore. Kita tuh pulang jam 17.00 wib. 

Btw, ada masalah intern mas Rico, dan itu gak perlu aku ceritain ya. Sedih :(
Mangkanya kita buru-buru pulang setelah itu, bahkan gak jadi beli oleh-oleh. Temen-temen aku padahal nitip. Maaf banget deh. 

Hehe. Hemat juga sih.

Perjalanan Jogja-Semarang kan butuh 4-5 jam. Kalo naik mobil bisa lebh, gara-gara macet ujan, dan lampu merah. Untung mas Rico dah hafal jalan luar kepala, wkwk. Eh, gak hafal banget ding. Masih GPS-an sama Aryani yang duduk di depan. 

Buat ngurangin bosen. Kita semua nyanyi-nyanyi. Gembel nyanyi dangdut bikin suasana jadi heboh di mobil. Di rekam juga sih, jadi kalo kangen bisa nonton, wkwk. 
Duh.
Isengin foto dari dalem mobil, hihi ^^
Baru deh setelah sampe Bawen, kita semua tidur~~~
hahahahahhahah. 
Yang masih stand by cuman Aryani dan mas Rico. Yang belakang dah terlelap semua, capek.
Uuuug, muach deh Aryani, mas Rico. Strong, ya.

Berkat mas Rico yang nyetirnya ngebut, bikin jantungan. Kita sampe semarang bener-bener sebelum jam 22.00 wib. Karena aku gak punya niat buat nginep di kostan Tiwil. Jadi pengen langsung balik ke kost di jemput mba Murni. 
Sebelum ke kost Tiwil sebagai pemberhentian akhir. Kita nurunin Aryani dulu di rumahnya. Ya cuman dia yang rumahnya bukan daerah sekitar kampus UDINUS. 

Dan taddaaa, pintu portal kost ku kan tutup jam 22.00 wib. Beloooom ditutup. Alhamdulilah ya. 
Yang lainnya juga pulang dengan selamat. Naya pulang ke kost juga setauku, gak jadi nginep di kostan Tiwil.
Ya pokoknya alhamdulilah. Udah sampe kost dan rumah masing-masing sesuai rencana. Mas Rico juga sampe rumah. Gembel juga, gatau sih dia dimana tempat tinggalnya, wkwk.

Ya pokoknya udah sampe kasur masing-masing. Okesip!


Liburan kali ini emang dadakan. Emang jauh-jauh hari udah ada banyak plan. Cuman masalah waktu, kita gak rencanain. Sumpah deh, ya. Biasanya yang dadakan selalu terealisasi, wkwk.

Uh, kalian tuh asyik banget dan seru. Lain kali, sebelum lulus kita rencanain liburan bareng-bareng lagi yag, guys.

Rico
Aryani
Gembel
Mala

Tiwil
Naya
Me = Nidake
See you untuk cerita singkat lainnya Grup Holiday Semrawut.
.
.
.
Thanks to mas Agus. Thanks too Grup Holiday Semrawut ^.^)

Photo by Gembel, wkwk.



Yang telat nulis, Nidake 
Serang, 17 Februari 2017