Thursday, July 20, 2017

From Me. For You

Tiba-tiba aku jadi merasa gak bisa nulis apa yang ingin kutulis sebelumnya. Sebuah permintaan maaf. Teruntuk Aini Sabila, sahabatku tersayang. 

Hai, Ai. Gimana rasanya wisuda? 

Aku sedih. Tapi aku mengatasinya dengan, “wkwk, haha, uhehehe” ataupun emot tertawa mengejek. Semoga dengan surat kecil ini, kamu bisa memahami perasaanku yang sebenarnya.


Tapi, apalah daya…. “Ai, gue tanggal segitu di Semarang. Gabisa dateng.”Maaf gabisa dateng. Maaf. Maaf dan maaf. Berkali-kali aku bilang, meski egois, jujur aja… karena kadang aku gak bisa menang oleh keadaan yang membuat waktu dan jarak terasa sangat berat.
  
Aku ingin datang dan memelukmu, membawa sebuah bingkisan wisuda dan tersenyum bersama di moment mu setelah berjuang selama 3 tahun.


Bahkan aku pun tak mengucapkan sepatah kata permintaan maaf. Aku egois. Hati kecilku tergores diam-diam.




Ai, sebagai sahabatmu, tidakkah itu keterlaluan?
Meski kita punya jalan yang beda sejak lulus SMA beberapa tahun lalu, meski kita tak sedekat dulu, meski kita kadang lost contact, meski tak ada kabar diantara kita selama beberapa hari, aku selalu menempatkanmu ruang dalam hati. Karena kamu sahabat aku.
  
Meski kadang kamu menyebalkan, aku keras kepala, dan kita berdua sangat egois. Aku selalu memaafkan dan berakhir dengan tawa bersamamu. Tidakkah egois bahwa aku mengatakan tak bisa datang karena sibuk pada moment mu yang satu kali seumur hidup?
  
Maaf Ai.

Tolong jangan kecewa. Masih kukirimkan hadiah terbaik yang on time kok. Kamu tau itu… sebuah doa, sebuah harapan, dan secercah kenyakinan bahwa suatu hari nanti, kamu pasti akan meraih mimpimu itu.
  
Selamat Wisuda.

Kuharap, pada moment mu yang penting dimasa depan, aku benar-benar akan hadir diwaktu itu.

Ai, jangan pernah berhenti berjuang yaaa. Teruskan mimpimu. Teruskan apa yang kau katakan akan melakukan hal-hal ini itu dimasa depan.
  
Teruskan jadi sahabatku. Teruskan ingatkan aku jika keras kepalaku sudah diambang batas.

Kalau kamu lelah, telepon aku kapan pun. Meski tak bisa memberikan bahuku secara langsung, aku ingin membagi semangatku.
  
Aini… Fighting! Happy Graduation!!!

Triple A


Bestfriend, © Nidake 

Tuesday, July 18, 2017

SEBAIT RINDUKU, UNTUK RUMAH (PUISI BERMAJAS)

SEBAIT RINDUKU, UNTUK RUMAH
Puisi by Annida Sholihah
Tema: Keindahan

Kau sebut itu rumah
Tempatmu kembali dalam peluk
Tempatmu tumbuh bersama sejuta kenangan
Yang tak kan lekang oleh waktu

Saat lazuard mulai tampak berkilau di ufuk barat
Saat adzan maghrib berkumandang
Atau saat sang dewi malam menunjukkan sinar cerahnya malam ini (majas metafora)
Aku rindu rumah

Rumah tempatku untuk melepas lelah
Rumah tempatku melepas gundah
Rumah tempatku tumbuh dengan penuh bahagia
Rumah tempatku melewati fase-fase luar biasa

Kala itu,
Hujan menari-nari di atas daun yang berguguran (majas personifikasi)
Dan embun menyapa jendela kamar
Berirama dengan suara ribut di ruang tengah

Rindu
Rindu
Rindu
Apalah dayaku, untuk sebuah rindu?

Aku tak berhak
Pada rindu yang datang tanpa aba
Aku tak berhak
Meski rasanya seperti jutaan pisau membidik hati (majas hiperbola)

Dear rumah,
Tunggulah beberapa waktu lagi
Tanggung jawabku meraung-raung disini
Tak pantas kupergi hanya untuk sebuah rindu

Sesuatu yang indah selalu terkenang
Meski sejauh apapun aku pergi
Kukirimkan sebait puisi ini
Untuk sebuah pelipur lara rinduku.

-END