Friday, November 16, 2018

QUARTER LIFE CRISIS

Halo, lama gak bersua dengan aku disini. Sesuatu yang dulu pernah menjadi pelarian waktu stress, kesepian dan gak punya siapa-siapa untuk diceritakan selain Allah.swt.
Menulis.

Kayaknya aku perlu tanya sama diri sendiri, “Kenapa?”
Pada suatu titik, aku pernah melawan berbagai macam fase-fase luar biasa dalam hidup selama 4 tahun belakang ini. Fase penyembuhan sakit hati, terluka, kesepian. Fase jenuh dengan rutinitas. Fase paling menyebalkan untuk bertahan di keadaan. Banyak fase. Dan ya, aku setegar itu nyatanya, pun dengan kalian. Sudah berapa fase yang berhasil dilalui sampai hari ini, dan sampai hari ini pun kamu tetap baik-baik saja, iya kan?

Tapi pada suatu hari, ada fase-fase baru yang tiap orang akan melaluinya, katanya itu fase life crisis. Suatu fase yang datang tanpa persiapan dan hampir saja membuatku menyerah oleh keadaan. Di fase ini, kuharap seseorang bisa bilang, “Gapapa, kamu baik-baik saja.”
“Hey, gapapa. Gapapa beneran gapapa, semua akan baik-baik saja.”

Itu terjadi selepas wisuda S-1. Aku sedang tidak dalam mood jelek karena pms, aku sedang tidak marah pada siapapun, aku sedang banyak pikiran dan di fase ini semua beban itu tersembunyi diam-diam untuk beberapa waktu dibalik topeng. Seakan aku baik-baik saja, seakan gak terjadi apa-apa, seakan aku tetap bersikap biasa saja di depan orang-orang. Di malam hari, aku akan ketiduran, kemudian terbangun hingga subuh, banyak sekali pikiranku.
Aku gamau membawa-bawa agama dalam tulisan ini, cukup rahasia dengan Allah.swt saja tentang itu. Jadi… jangan menghakimi, jangan bilang aku itu kurang sedekah, dzikir, sholat malamnya, dll, dll. Apakah aku perlu memberitahu melalui tulisan ini aku pun sudah diam-diam dzikir, sholat, dll?
Enggak.

Life crisis bisa jadi boomerang buat beberapa orang. Di fase-fase lain, dengan mudahnya aku pernah meluapkan semua emosi ke keluarga, sahabat, teman, doi atau siapapun. Di fase ini, enggak. Seakan aku mengunci emosiku sendiri dalam kepura-puraan ‘kamu baik-baik saja’ padahal tidak.

Melalui tulisan ini, dimasa depan aku membacanya kembali… mohon untuk jangan menyerah. Kamu dulu juga sempat ingin menyerah. Sempat ingin berhenti berkali-kali. Teruslah berusaha, sesulit apapun jalanmu. Teruslah sabar. Teruslah bersyukur. Teruslah berharap sama Allah.swt. Teruslah jadi seorang Nidake yang baik. Teruslah jadi seorang Nidake yang tulus tanpa pamrih. Belajar dari masa lalumu… tegakkan badanmu, dan berjalan di tengah badaimu.

Untukmu yang berada di fase Life Crisis juga. Ayo… jangan menyerah. Kamu boleh menangis dan berhenti sejenak untuk bernafas pendek, kemudian kejar kembali, larilah. Bikin rancangan hidupmu kembali. Semoga kita terus tegar, seberat apapun ujiannya.

- Dariku, yang juga tengah berjuang pada fase life crisis.
© Nidake

Wednesday, November 14, 2018

BACA SEJENAK DAN KAMU AKAN MENGERTI


Tulisan ini didedikasi teruntuk kamu; yang hatinya masih ragu, yang dirinya masih bertanya-tanya dengan keraguan, yang cintanya masih saja terombang-ambing dibalik kepastian sebab keraguan tentangku. Semoga tulisan ini dapat menjawab seluruh keraguanmu. Tentang aku, yang mengajak kamu “Berkomitmen atau Tidak Sama Sekali.”

“Mampukah aku?”
“Punya apakah diriku untuk dapat bersanding dan menyakinkanmu bersama-sama mengucap janji suci?”

Sejenak, aku diam. Jari-jari yang biasanya lincah mengetik pesan panjang dalam satu menit, kaku. Dan ya, pikiranku tetap pada satu titik tanya, “kelebihan aku apa?”

Rasanya ingin kujawab, gak ada. Tapi yang aku ketik cuma sebuah tanya, sebuah penjelasan, sebuah teka-teki, sebuah kepura-puraan agar aku tak perlu menjawab atau bahkan sebuah pelarian dengan bertanya balik.

Kenapa?
Jawabku akan selalu gak apa-apa, mas.

Semakin larut, aku semakin bertanya pada diri sendiri, sebab… pengalaman masa lalu selalu mengajarkan aku untuk belajar dari kesalahan. Aku punya fikiran bahwa mereka, orang-orang yang aku sayang yang pada akhirnya pergi itu karena sebuah kesalahan, kesalahan yang ada padaku. Yang tak mampu membuat mereka tetap melihatku seperti awal. Yang tak mampu memberikan apa yang mereka inginkan, sebego-sebodohnya aku saat itu, dengan menjadi diriku sendiri… merupakan sebuah pilihan, keputusan dan suatu kata kerja yang tak dapat aku sesali. Ya. Aku memang mencintai diriku sendiri melebihi orang lain, sebaik-baik revolusi cinta adalah agar masing-masing dari kita dapat mencintai diri sendiri terlebih dahulu, jika begitu kamu akan dapat mencintai orang lain dengan baik.

Aku gak berbicara tentang cinta disini, aku berbicara tentang sebuah persoalan, yang katamu agar memberikan setidaknya tiga alasan kenapa kamu harus bertahan denganku, untuk seumur hidup.

Seberapa pantasnya aku bersanding denganmu? Sebelum itu, kamu harus memberiku satu saja alasan,”kenapa kamu pantas kupilih?”

Tapi aku gak akan tanya sekarang, sebab ini bukan bagianmu menjawab. Ini bagianku. Sebelum menuliskan kata-kata yang akan kamu baca sebagai jawabannya, kamu perlu tau sekali lagi… aku dengan tulus, berfikir berkali-kali, berfikir kembali, lagi dan lagi. Semoga jawabannya cukup untuk menjawabmu.

Pada dunia, akan kubilang, aku wanita yang labil, cerewet dan kekanakkan. Memang. Itu fakta. Padamu aku akan dengan percaya diri, meski begitu… aku pantas diseriuskan. Setiap wanita juga pantas. Setiap orang akan menemukan waktu yang pas masing-masing, kapan ia akhirnya dapat menyempurnakan separuh agamanya, menikah.

Pada saat seseorang akhirnya berani berkomitmen denganku, akan kubilang alasan paling-paling-paling yang ingin kuperjuangkan. Alasan pertama adalah karena aku akan selalu ada, dititik paling rendah dalam hidup kamu. Dalam suka duka, kuharap kamu akan selalu menjadikan aku sandaran saat kamu lelah dengan rutinitas harimu, kamu akan selalu menjadikan aku tempat pulangmu, setiap waktu.

Karena aku berani bertaruh, bertaruh untuk memprioritaskan keluarga kecil kita diatas segalanya, memprioritaskan kalian diatas prioritas pribadiku. Aku ingin kamu bahagia, aku ingin kamu sehat, dan aku ingin mendukung mimpi-mimpimu selama itu berproses pada arah yang baik.

Karena aku berani berjanji, mas. Janji bahwa aku gak akan ninggalin kamu sampai akhir. Akan kuusahakan pakai seluruh kemampuan aku untuk jadi wanita yang baik, untuk selalu berproses ke arah yang baik, seorang wanita yang setia, seorang yang seberat apapun badai dimasa depan, gak akan nyerah. Ya. Aku mungkin ngeluh, tapi ingat, aku tak kan menyerah. Mungkin akan ada banyak drama kehidupan, banyak jalan terjal, banyak godaan, banyak kesempatan-kesempatan pada kesalahan. Selama kamu dan aku tetap sepakat untuk berjuang bersama, gak lari dari komitmen dan tanggung jawab. Percayalah, aku dapat menjadi patner terbaik pilihanmu itu.

Dan alasan terakhir adalah karena aku ingin jadi seorang perempuan yang menjadi cinta terakhir di hidup kamu. Aku ingin menjadi satu-satunya perempuan lain selain ibu kamu yang ada di hati kamu. Dan kalau suatu hari kita punya putri, aku mau kamu menjadi cinta pertamanya mereka, mas.

Hey, sederhana banget ya? Sesuatu yang gak tampak mewah dan membuatmu gak percaya? Gak minat? Kamu pun boleh memilih. Kamu bisa melepaskan aku. Aku cuma mau kamu bahagia. Aku terlalu banyak ketidak-sempurnaan. Sebanyak ketidak-sempurnaan itulah, sebanyak-banyaknya aku belajar untuk bersyukur.

Tapi tolong, jangan membuatku menunggu, jangan membuang-buang waktumu untuk hal yang sia-sia, jadi ya… pada saat-saat tertentu selalu ku tanya, “Berkomitmen atau Sudahi Sekarang.”

Kuharap tulisan ini dapat menjawab pertanyaanmu tentangku.


 Serang, saat November rain.
Annidake