Friday, November 16, 2018

QUARTER LIFE CRISIS

Halo, lama gak bersua dengan aku disini. Sesuatu yang dulu pernah menjadi pelarian waktu stress, kesepian dan gak punya siapa-siapa untuk diceritakan selain Allah.swt.
Menulis.

Kayaknya aku perlu tanya sama diri sendiri, “Kenapa?”
Pada suatu titik, aku pernah melawan berbagai macam fase-fase luar biasa dalam hidup selama 4 tahun belakang ini. Fase penyembuhan sakit hati, terluka, kesepian. Fase jenuh dengan rutinitas. Fase paling menyebalkan untuk bertahan di keadaan. Banyak fase. Dan ya, aku setegar itu nyatanya, pun dengan kalian. Sudah berapa fase yang berhasil dilalui sampai hari ini, dan sampai hari ini pun kamu tetap baik-baik saja, iya kan?

Tapi pada suatu hari, ada fase-fase baru yang tiap orang akan melaluinya, katanya itu fase life crisis. Suatu fase yang datang tanpa persiapan dan hampir saja membuatku menyerah oleh keadaan. Di fase ini, kuharap seseorang bisa bilang, “Gapapa, kamu baik-baik saja.”
“Hey, gapapa. Gapapa beneran gapapa, semua akan baik-baik saja.”

Itu terjadi selepas wisuda S-1. Aku sedang tidak dalam mood jelek karena pms, aku sedang tidak marah pada siapapun, aku sedang banyak pikiran dan di fase ini semua beban itu tersembunyi diam-diam untuk beberapa waktu dibalik topeng. Seakan aku baik-baik saja, seakan gak terjadi apa-apa, seakan aku tetap bersikap biasa saja di depan orang-orang. Di malam hari, aku akan ketiduran, kemudian terbangun hingga subuh, banyak sekali pikiranku.
Aku gamau membawa-bawa agama dalam tulisan ini, cukup rahasia dengan Allah.swt saja tentang itu. Jadi… jangan menghakimi, jangan bilang aku itu kurang sedekah, dzikir, sholat malamnya, dll, dll. Apakah aku perlu memberitahu melalui tulisan ini aku pun sudah diam-diam dzikir, sholat, dll?
Enggak.

Life crisis bisa jadi boomerang buat beberapa orang. Di fase-fase lain, dengan mudahnya aku pernah meluapkan semua emosi ke keluarga, sahabat, teman, doi atau siapapun. Di fase ini, enggak. Seakan aku mengunci emosiku sendiri dalam kepura-puraan ‘kamu baik-baik saja’ padahal tidak.

Melalui tulisan ini, dimasa depan aku membacanya kembali… mohon untuk jangan menyerah. Kamu dulu juga sempat ingin menyerah. Sempat ingin berhenti berkali-kali. Teruslah berusaha, sesulit apapun jalanmu. Teruslah sabar. Teruslah bersyukur. Teruslah berharap sama Allah.swt. Teruslah jadi seorang Nidake yang baik. Teruslah jadi seorang Nidake yang tulus tanpa pamrih. Belajar dari masa lalumu… tegakkan badanmu, dan berjalan di tengah badaimu.

Untukmu yang berada di fase Life Crisis juga. Ayo… jangan menyerah. Kamu boleh menangis dan berhenti sejenak untuk bernafas pendek, kemudian kejar kembali, larilah. Bikin rancangan hidupmu kembali. Semoga kita terus tegar, seberat apapun ujiannya.

- Dariku, yang juga tengah berjuang pada fase life crisis.
© Nidake

Wednesday, November 14, 2018

BACA SEJENAK DAN KAMU AKAN MENGERTI


Tulisan ini didedikasi teruntuk kamu; yang hatinya masih ragu, yang dirinya masih bertanya-tanya dengan keraguan, yang cintanya masih saja terombang-ambing dibalik kepastian sebab keraguan tentangku. Semoga tulisan ini dapat menjawab seluruh keraguanmu. Tentang aku, yang mengajak kamu “Berkomitmen atau Tidak Sama Sekali.”

“Mampukah aku?”
“Punya apakah diriku untuk dapat bersanding dan menyakinkanmu bersama-sama mengucap janji suci?”

Sejenak, aku diam. Jari-jari yang biasanya lincah mengetik pesan panjang dalam satu menit, kaku. Dan ya, pikiranku tetap pada satu titik tanya, “kelebihan aku apa?”

Rasanya ingin kujawab, gak ada. Tapi yang aku ketik cuma sebuah tanya, sebuah penjelasan, sebuah teka-teki, sebuah kepura-puraan agar aku tak perlu menjawab atau bahkan sebuah pelarian dengan bertanya balik.

Kenapa?
Jawabku akan selalu gak apa-apa, mas.

Semakin larut, aku semakin bertanya pada diri sendiri, sebab… pengalaman masa lalu selalu mengajarkan aku untuk belajar dari kesalahan. Aku punya fikiran bahwa mereka, orang-orang yang aku sayang yang pada akhirnya pergi itu karena sebuah kesalahan, kesalahan yang ada padaku. Yang tak mampu membuat mereka tetap melihatku seperti awal. Yang tak mampu memberikan apa yang mereka inginkan, sebego-sebodohnya aku saat itu, dengan menjadi diriku sendiri… merupakan sebuah pilihan, keputusan dan suatu kata kerja yang tak dapat aku sesali. Ya. Aku memang mencintai diriku sendiri melebihi orang lain, sebaik-baik revolusi cinta adalah agar masing-masing dari kita dapat mencintai diri sendiri terlebih dahulu, jika begitu kamu akan dapat mencintai orang lain dengan baik.

Aku gak berbicara tentang cinta disini, aku berbicara tentang sebuah persoalan, yang katamu agar memberikan setidaknya tiga alasan kenapa kamu harus bertahan denganku, untuk seumur hidup.

Seberapa pantasnya aku bersanding denganmu? Sebelum itu, kamu harus memberiku satu saja alasan,”kenapa kamu pantas kupilih?”

Tapi aku gak akan tanya sekarang, sebab ini bukan bagianmu menjawab. Ini bagianku. Sebelum menuliskan kata-kata yang akan kamu baca sebagai jawabannya, kamu perlu tau sekali lagi… aku dengan tulus, berfikir berkali-kali, berfikir kembali, lagi dan lagi. Semoga jawabannya cukup untuk menjawabmu.

Pada dunia, akan kubilang, aku wanita yang labil, cerewet dan kekanakkan. Memang. Itu fakta. Padamu aku akan dengan percaya diri, meski begitu… aku pantas diseriuskan. Setiap wanita juga pantas. Setiap orang akan menemukan waktu yang pas masing-masing, kapan ia akhirnya dapat menyempurnakan separuh agamanya, menikah.

Pada saat seseorang akhirnya berani berkomitmen denganku, akan kubilang alasan paling-paling-paling yang ingin kuperjuangkan. Alasan pertama adalah karena aku akan selalu ada, dititik paling rendah dalam hidup kamu. Dalam suka duka, kuharap kamu akan selalu menjadikan aku sandaran saat kamu lelah dengan rutinitas harimu, kamu akan selalu menjadikan aku tempat pulangmu, setiap waktu.

Karena aku berani bertaruh, bertaruh untuk memprioritaskan keluarga kecil kita diatas segalanya, memprioritaskan kalian diatas prioritas pribadiku. Aku ingin kamu bahagia, aku ingin kamu sehat, dan aku ingin mendukung mimpi-mimpimu selama itu berproses pada arah yang baik.

Karena aku berani berjanji, mas. Janji bahwa aku gak akan ninggalin kamu sampai akhir. Akan kuusahakan pakai seluruh kemampuan aku untuk jadi wanita yang baik, untuk selalu berproses ke arah yang baik, seorang wanita yang setia, seorang yang seberat apapun badai dimasa depan, gak akan nyerah. Ya. Aku mungkin ngeluh, tapi ingat, aku tak kan menyerah. Mungkin akan ada banyak drama kehidupan, banyak jalan terjal, banyak godaan, banyak kesempatan-kesempatan pada kesalahan. Selama kamu dan aku tetap sepakat untuk berjuang bersama, gak lari dari komitmen dan tanggung jawab. Percayalah, aku dapat menjadi patner terbaik pilihanmu itu.

Dan alasan terakhir adalah karena aku ingin jadi seorang perempuan yang menjadi cinta terakhir di hidup kamu. Aku ingin menjadi satu-satunya perempuan lain selain ibu kamu yang ada di hati kamu. Dan kalau suatu hari kita punya putri, aku mau kamu menjadi cinta pertamanya mereka, mas.

Hey, sederhana banget ya? Sesuatu yang gak tampak mewah dan membuatmu gak percaya? Gak minat? Kamu pun boleh memilih. Kamu bisa melepaskan aku. Aku cuma mau kamu bahagia. Aku terlalu banyak ketidak-sempurnaan. Sebanyak ketidak-sempurnaan itulah, sebanyak-banyaknya aku belajar untuk bersyukur.

Tapi tolong, jangan membuatku menunggu, jangan membuang-buang waktumu untuk hal yang sia-sia, jadi ya… pada saat-saat tertentu selalu ku tanya, “Berkomitmen atau Sudahi Sekarang.”

Kuharap tulisan ini dapat menjawab pertanyaanmu tentangku.


 Serang, saat November rain.
Annidake


Thursday, August 2, 2018

TENTANG MEREKA (Part Tiwi Jiarni)


Seseorang waktu itu berkata, “Nid… Jangan pernah percaya 100 persen sama temen, siapapun temenmu itu. Bahkan termasuk aku, kamu jangan percaya aku juga yaaa” - Tiwil2018.



Kenalkan salah satu teman kampusku, namanya Tiwi Jiarni. Lahir di Pemalang tanggal 18 di bulan Agustus. Dia tuh cuma punya ibu, ayahnya sudah di surga dan aku salut dengannya yang setegar itu tanpa ayah di dunia ini. Aku sering kali bilang kalau dia mirip Ria Ricis, tapi gak pernah pada percaya deh, hmmmm yaudah… (*lanjut nyanyi lagu Nissa Sabyan). Seringkali, aku tuh gagal memahami tentangnya. Kita punya temen-temen geng berbeda, punya dunia berbeda, beda kost, beda kelas di perkuliahan, beda kesibukan, beda banyak deh pokoknya. Yang bikin heran tuh kenapa nyambung aja ya sama dia, hahaha.

Tiwi atau yang biasa kusapa dengan panggilan, “Wil.” Dimata seorang Nidake dia tuh kalem, dewasa, santai dalam segala hal :( kebalikannya sama aku dah ini mah, huhu. Dulu pas masih jaman-jamannya kost satu komplek beda gang, kita sering banget main bareng. Sering tengah malem ngerumpi depan kost, abis itu ke kucingan indraprasta yang baru buka jam 11 malem. Jalan kaki, lewatin rumah serem yang katanya pernah ada kejadian bunuh diri disana. Biasanya kita lari-lari gak jelas, cuma karena pengen banget makan, wkwkwk.

Jaman-jaman semester pertengahan. Mulai punya temen-temen beda, istilahnya sih kayak gengs gitu deh. Tiwil tuh temennya pinter-pinter semuaaaa dan aku gak cocok sih main bareng temen-temen Tiwil, yaudah… kita tetep temenan tapi gak sampe aku ikutan main juga ke geng dia. Rumit dah. Begitu juga aku, punya temen-temen sendiri yang emang satu kelas terus, kemana-kemana di kampus bareng, bahkan pas nunggu jam-jam kuliah selanjutnya juga bareng. Aku sama Tiwil kalau papasan di kampus, di lift, di warung deket kampus, di fc belakang kampus ya cuma say hi terus bye, wkwkwkwkwk.

Tiwil adalah salah seorang teman diluar semua hal tentang kuliah. Misalnya, kalau kita mau ke pasar johar bareng, belanja di ADA bareng, belanja online juga bareng, nganterin aku kesini kesitu dan sebaliknya juga bareng. Untuk hal-hal tertentu, kita menjadi dekat karena sama-sama anak rantau. Aku yang jarang pulang, begitupun dengan dia. Biasanya sih semua berawal dari akhir pekan saat teman-teman yang rumahnya dekat atau rumahnya daerah-daerah Semarang pada pulang.

“Wil… besok minggu free? Anterin kesini.”
“Wil, sabtu olahraga ya.”
“Wil, aku main kostanmu ya minggu.”
“Wil, anterin beli sepatu yuk.”
“Wil, besok ke situ yuk. Liat-liat.”
“Wil, anterin sih ke dokter gigi.”
“Wil, laper…”

Wil, Wil, Wil.

Kangen woy, Wil :(

Ingat gak pas kamu ajakin aku ke Jogja dadakan? Sebel sih, soalnya belom persiapan sama sekali. Untung aja budget yang kamu rencanain minim, jadi langsung cuss aja deh ikut.
Inget gak pas kita ke Jepara? Itu pertama kalinya aku nyetir jarak lumayan jauh pake motor loh, aku tuh sempet takut sama jalanan di Demak-Pati itu, apalagi pas hujan. Yaa tapi gak mungkin kamu terus yang nyetir, kan kasian pegel, wkwk.
Inget gak pas ada mba Rani, temennya Naya…. Kamu yang selalu Nid Nid Nid mulu ngajakin padahal aku seneng banget asliiii, sayangnya pas lagi capek-capeknya gara-gara sibuk, jadi kebawa mood deh. Tapi makasih loh udah kenalin temen-temen baru ke aku ^_^ hehehehe.
Inget gak tiap kali kita bosen terus ke Tembalang, cuma buat nyari makan doang. Abis itu pulang, unfaedah banget kan.
Inget juga gak yang selalu ngajakin belanja online sapa? Kamu tok, wkwk. Kamu yang selalu ngenalin tempat murah-murah ke aku, makanan enak yang murah, jajan enak yang murah, tempat hitz yang murah. Pokoknya kamu!
Kamu yang selalu jadi andalanku minta saran soal cinta-cintaan walau gak semuanya. Kamu yang selalu jadi andalanku minta saran soal dosen A B C, mata kuliah A B C. Kamu yang selalu bisa diandalkan wira-wiri buat nyari kerjaan sampingan, meski ujungnya gagal, hihi. Lucu aja, pengalaman yang sangat sangat sangat gak bakal aku lupain, wil.


2018, April. Tiwi memutuskan mengejar wisuda pada bulan pertengahan. Kuliah dengan 3,5 tahun doang diaaaaa, huh.
Antara seneng dan sedih. Seneng karena Tiwil seengaknya berhasil meraih apa yang udah jadi prinsip dia buat lulus cepet, seneng karena setidaknya Tiwil mampu banggain mamah dia, seneng karena setidaknya dia gak repotin orangtuanya lagi dengan lulus cepet, biaya pendidikan jadi hemat deh, hehe.
Bagian sedihnya, doi bakal out dari Semarang secepat itukah? Terus ntar yang nemenin aku siapa deh ini… yassalam. Sempet sedih waktu itu tuh. Sampe perpisahan aja jujur pengen nangis loh Wil oooee, kalau baca jangan ngetawain aku please. Serius pengen nangis kehilangan satu lagi seorang temen deket di Semarang.

Ni bocah suruh kerja di Semarang aja gamau, kan sebel, wkwkwk. Karepmu dah. Dan yeah sih, jujur kita punya awal temu juga selalu punya perpisahan, tapi itu bukan akhir kok. Masih ada suatu saat nanti bakal ketemu lagi, dan satu-satu harapku ya cuman: Semoga pas kamu nikah aku bisa hadir disana, aaamiiin!
Pada akhirnya, kita masing-masing bakal punya masa-masanya tersendiri. Masa kita udah lewat, harus punya kehidupan baru sendiri, entah jalan apa yang kita ambil.

Wil, makasih udah mau jadi seseorang yang sekalem itu buat ngadepin aku. Makasih sudah bersedia menjadi temanku yang mengajarkan banyak hal. Wil… makasih banyak sudah menjadi dirimu yang apa adanya. Makasih sudah bantuin Nidake melewati masa-masa krisis skripsi saat kamu sudah out dari semarang dengan tetap membalas pesanku secara sabar dan tips-tips bergunamu. Waktu-waktu aku salah, waktu-waktu mood ku jelek, waktu-waktu aku lupa soal janjiku, makasih sudah menjadi pengingatku tentang banyak hal wil.

Kadang aku pernah penasaran, kenapa kita dipertemukan. Kadang aku pernah merasa rindu tentang kita yang dulu. Banyak hal-hal yang selalu jadi rahasia, teman-teman yang punya banyak masa lalu, teman-teman yang selalu menjatuhkan, teman-teman yang bisa mengajak pada sesuatu yang negative. Aku banyak belajar tentang orang-orang dari pengalamanku selama 4 tahun di tanah rantau ini. Tapi intinya, kamu itu seseorang yang baik juga tulus, yang mungkin kita  diperkenalkan untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing agar bisa saling berbagi.

Wil, kuharap semoga kamu bisa menemukan impianmu. Bisa menjemput doa-doamu. Bisa meraih apa yang sedang kamu perjuangkan dimasa-masa sekarang ini, dimanapun kamu. Sejauh apapun kamu dan aku melangkah dengan tak lagi kita ada di perjalanan yang sama, teruslah dari jauh kita saling mengejar impian-impian yang sudah kita rancang.
The gank
Wil… suatu saat, jangan lupain aku ya. Jangan lupa untuk mengirimkan kabar-kabar baikmu. Jangan lupa untuk menghubungiku duluan jika aku lupa untuk menghubungimu. Jangan putus kontak denganku, ya.
Teruslah melangkah sejauh mana kau mampu, Wil.  Raih impianmu, setinggi apapun itu.
Terimakasih sudah membaca postingan ini. Salah satu janjiku sudah terpenuhi, yay. Aku menulis dengan segenap hati, loh. Dan bahkan dengan ‘gaya bahasaku’ sendiri, wkwkwk.

Wil, semoga sukses!!!
See you.

Dari sahabatmu dimasa kuliah, 2018.
Nidake

Thursday, June 7, 2018

TENTANG SESAL

Tuhan selalu punya alasan kenapa kita pertemukan dengan seseorang.
Suatu waktu, aku pernah menyesal pernah bertemu denganmu. Karena pada akhirnya, aku akan terluka (lagi).

Suatu sesalku lainnya adalah tentang betapa begonya aku. Kayak udah gak punya harga diri lagi. Menurutmu, perlu gak aku mundur?

Yang tidak dewasa disini siapa?
Aku hanya mencoba peduli. Aku hanya memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Aku hanya ingin tau kalau kamu jujur dengan perasaanmu.

Jangan mencoba pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan :(
Tanpa pamit, kita hanya akan menyisakan luka tanpa terjawab. Mungkin engga buatmu dan hanya buatku saja.

Rasanya kuingin marah, melampiaskannya juga... sayangnya gak berhak.
Waktu pernah kuungkapkan jujurku, kamu abai.
Kamu harusnya tau, butuh keberanian untukku ungkapkan jujurku.

Dengan ini, aku ingin menyembuhkan luka (lagi) melalui tulisan.
Aku sedang tak baik-baik saja.
Aku sedang tak baik-baik saja.
Aku sedang tak baik-baik saja.

Aku tak harus terus meminta waktumu. Setelah semua yang kamu lakukan, menurutmu salahkan aku jika seperti ini?

Hari ini, 07 juni pukul 14.26. Mari kita memulai menyembuhkan luka baru.
Untuk diriku, kamu harusnya tau kalau semuanya hanyalah kepalsuan.
Untuk diriku, yakinkan bahwa ia hanya menjadikan kamu pelampiasan. Bahwa ia hanya menjadikan kamu pelarian. Bahwa ia menjadikan hati kamu seperti sebuah mainan.

Yakinkan dirimu, Nid. Kamulah yang harusnya pergi. Kamulah yang seharusnya mundur. Kamulah yang seharusnya tak lagi abai pada sikapnya, kamu harus menghilang. Meski tanpa pamit.
Akhirilah, dengan caramu.

Dan suatu hari, semoga Allah.swt mempertemukan seseorang yang dapat menyembuhkan seluruh luka-luka lama maupun lukaa-lukamu kini.
Kamu mampu, iya mampu.

Kamu itu... seseorang yang dulunya hebat. Jadi, tolong tetap berpegang pada prinsipmu meski harus mengorbankan beberapa hal yang harusnya pergi :)

Jangan bodoh. Jangan terluka. Jangan bego. Kamu punya harga diri. Jadi, percaya dirilah. Dengan prinsipmu.


Dari diriku, yang tengah patah (lagi) karena seseorang.
- Nidake

Wednesday, February 14, 2018

NYERAH, JANGAN?

Satu hal yang perlu orang tau: Gue itu tipe orang yang hanya baik ke orang yang juga udah baikin gue. 

GITU.

Tau, gak? berapa banyak rahasia masing-masing dari kita. Contohnya, gue sendiri, Gue aja gak bisa jujur ke diri sendiri. Gimana mau jujur sama orang lain?

Gini, gue ceritain suatu cerita nih. Pernah denger kan kata-kata: Selalu ada pelangi setelah hujan. Suatu hari menjelang senja di tempat tinggi berkabut, gue ngeliat pelangi. Gue mikir, "Ohiya, buat ngeliat pelanginya aja harus nerjang ujan dulu... bakal masuk angin ini mah, dah gitu jalannya berkelok pula, susah banget dilalui."
Yaitu, lo kalau mau mencapai sesuatu, harus usaha dulu. Masuk angin mah bukan apa-apa deh. 

Sepanjang hari itu, meski kesel dan basah... gue BAHAGIA!

:")

Besoknya gue masuk angin (lagi), wkwk.

Nah, terus apa? Gak apa-apa sih. Gue cuman mau ngasih tau buat orang-orang yang lagi kena musibah, masalah, apa gak galau, stress, yagitu deh. Buat diri gue sendiri juga.

Gue cuman mau ingetin. Gausah takut. 
Hadapi aja.
Ya, meskipun gue sendiri aja kadang kewalahan, terus sering banget pengen nyerah berjuta-juta kali. Tapi akhirnya gue mikir tentang seberapa usaha orang lain yang lebih dari gue, seberapa berat masalah orang lain yang lebih dari masalah gue sendiri.

GUE KUAT KOK.

Gue bilang ke sahabat gue yang rempong gak pernah absen tanya, "Lo kenapa?" 
"Lo kenapa, Nidake?"
"Nidakeeee, ceritalaaah."

Ya gue gapapa. Gue bukannya gak mau cerita. Buat gue, nulis aja udah cukup. Lo bantu doa aja udah cukup. Lo tetep disisi gue aja udah cukup. Cukup banget.

Setiap kali gue sial, gue senyumin aja. Gue ikhlasin aja. Gue pernah nangis diem-diem malah. Gatau harus apa, gatau mau apa, gak nafsu makan, gak nafsu ngobrol. Pikiran gue kemana-mana. Pundak gue berat. Kepala gue mau pecah. Rasanya kayak... gue pengen mati aja. 

Gue kesel. Sedih. Malu. Marah. Ke diri gue.

Pada titik itulah, waktu orang-orang gak peduli. Rasanya gue gak punya siapa-siapa lagi. Gue pengen pergi aja yang jauh. Capek.
Terus suatu pagi, gue kayak terbangun gak tau kenapa. Gue nangis tiba-tiba, gue ingat Allah.swt. Sejam kemudian umi telefon gue, tanya kabar, dll. Meski sambil ngomel sih, tetep aja gue bilang baik-baik kok. 

Ohiya. Gue lupa masih punya keluarga disisi gue. Gue juga punya sahabat. Gue kok selemah ini. Nah, tujuan gue hidup tuh apa? Mulai lagi dong dari awal.

Yaudah. Gue bangkit. Tepatnya mencoba bangkit.
Jujur aja gue takut gak mampu. Gatau kenapa.... sampe sekarang gue baik-baik aja. Gue bahagia. Gue banyak bersyukur. Gue minta ke sahabat LDR gue buat selalu ada buat gue meski jauh, saling doakan.

Ya gue kenapa baru sadar?
Hidup gak se-menyeramkan itu kok. Hidup itu tergantung pilihan lo. Seengaknya, kalo nasib lo jelek. UBAH ITU.

Guys. Lo tau kan kalo lo nyerah itu sama aja kayak bunuh diri?
Jadi... BANGKITLAH. Berjuang. 

Gue harap, siapapun lo. Masalahnya bisa cepet teratasi yaaa.
Ingat. Kamu beragama,kan?
Kamu punya Tuhan. Seperti aku, yang punya Allah.swt ^_^

SENYUMLAH. MAKA, HARIMU AKAN BAIK-BAIK SAJA


Salam dari Nidake,
yang dulu juga pernah berada dititik ingin menyerah.


Friday, February 9, 2018

KANGEN APA RINDU

Suatu sore. Pada bulan February. WhatsApp.

"Aku kangen"

"Aku tau...."

"Kangen banget."

"Siapa suruh kamu tak mampir kemarin?" katanya. Tampak jutek.

Aku tau, seberapa sibuknya dia. Seberapa lelahnya dia. Seberapa susahnya sinyal disana.

Mengingat dia, rasanya aku pengen nangis. Ada sahabat cewek yang siap sedia dengerin curahan hati ini. Tapi dia adalah... satu-satunya dan salah satu, yang pertama, yang kuanggep sebagai sahabat cowokku. Sebagian besar dari dirinya meski banyak hal yang belum ku-tahu. Aku selalu percaya padanya.

"Maaf." balesku sore itu.

"Tapi aku kangen." kataku lagi, lagi, dan lagi.

Tahu, gak? Aku gak pernah terang-seterangan itu pada orang lain. Bahkan untuk mengatakan kata: kangen.

"Kamu sibuk?"

Tak ada repon...

"Kamu marah?"

Masih tak ada respon.

"Jaga kesehatan, disini hujan, bro"

Kuharap hal itu bukanlah akhir dari obrolan. Jadi, kuharap... sesibuk dan selelah apapun, dia akan membalasnya.

"Aku kangen. Selamat Malam."

Iya, di read doang :(
Suatu pagi, dia pernah bilang kalau kemarin ketiduran dan sangat lelah dan paginya juga terlalu sibuk untuk membalas pesanku.

Kok kangen dulu, ya?
Waktu kamu selalu ada dengerin keluh kesahku yang panjang x lebar, dengerin ceramahku yang sama, dengerin umpatan kasarku meski akhirnya tak kau respon, dengerin aku nangis sambil nyanyi. Aku kangen suatu hari, kamu mengatakan rindu pada suaraku.

Kangen.

Katanya, rindu berat?
Kangen sama rindu sama, kan?
Eh, bro...
Kamu pasti bakal ngolok aku kalau baca postingan ini: "kesepian tah lo?"

Terus ketawa lebar, ya kan?

Ih, terserah. Aku cuman kangen.
Pada titik-titik tertentu aku pengen curhat lagi ke kamu kayak dulu.
Bahkan curhatin gebetanmu pun aku relaaaa.

Pokoknya kangen!


Dari Nidake,
yang lagi kangen berat... gatau kenapa :(



SATU BAIT PINTAKU

Jangan.

Bukan jangan rindu, seperti kata Dilan.
Ya, menurut dia rindu yang berat.

Menurut aku hiduplah yang berat.

Jangan.
Bukan jangan tidur malam-malam, karena kata Dilan ntar bikin sakit.

Menurut aku, jatuh cinta pun juga :(

Jangan. Jangan. Jangan.
Suatu hari, seorang yang kusebut dirinya gembel mengatakannya dalam obrolan malam melalui WA , "Tapi kenapa yaa lo mah pasti deh ada kendalanya, yaitu: udah punya pacar."

Biar kuceritakan kisah masa laluku... tentang aku yang selalu jadi pihak paling dirugikan dalam suatu hubungan, tentang aku yang diam-diam mengharap, diam-diam menangis, diam-diam merindu, diam-diam berdoa dalam sunyi.

Kamu tau, gak? beberapa rasa ku yang hadir selalu saja tanpa permisi. Aku gampang terpengaruh pada hal-hal kecil seperti perhatian-perhatian tanpa terduga. Saat kamu bertanya kabarku, atau saat kamu bertanya gimana harimu? Sudah makan atau belum? Sudah absen pagi siang sore maghrib isya?

Hal yang teramat sederhana, bukan?

Maka dari itu. Jangan.
Jangan bikin aku pada akhirnya jatuh, lalu kamu tinggalkan.
Masa laluku telah kelam untuk cerita yang sama tentang orang-orang yang pergi, karena suatu hal.

Jangan.
Aku gatau, seberapa lama rasa nyamanku yang telah tumbuh harus terobati di suatu hari nanti.

Dear, kamu...
Meski pada akhirnya inilah salahku. Tapi jangan :(
Meski nyatanya aku cuek dan tak peduli. Tapi jangan :(
Meski kelihatannya aku baik-baik saja. Tapi jangan :(
Kamu gatau. Serapuh apa rasa ini, yang sewaktu-waktu kuingin berteriak dalam dada. Bahwa aku rupanya tak sekuat baja.


Dari Nidake, 
Yang sudah lama tak menulis.

Sunday, January 14, 2018

TAK APA. AKU DISINI.

Judul dari postingan ini ada karena sebuah lagu. Suatu hari, ketika aku pulang kerumah. Adek nomer 3 memintaku mendengarkan sebuah lagu. Korea sih, tapi aku suka.

Lagu itu, baik lirik ataupun melodinya sedih banget... Menceritakan seakan hembusan setiap nafas terasa berat.

Ingat kasus Kim Jonghyun SHINee? yang mati karena bunuh diri?
Aku emang suka lagu-lagunya, tapi aku bukan fans nya. Jujur ya.... jangan salahkan aku kok bahas itu kalau bukan fans nya.

Lagu itu sangat nyentuh, gatau kenapa... aku baru denger kurang dari seminggu lalu. Aku nangis. Padahal awalnya aku gak tau artinya apaan, aku tetep nangis. Tapi pas liat liriknya, beuh... inget Jonghyun deh yang mati tragis banget bunuh diri karena depresi.

Guys, pernah gak sih kata-kata: orang yang paling bahagia dan tertawa terkadang adalah orang yang paling banyak terluka dan kesepian.

Lo gak tau kenapa dia banyak ketawa dan bertingkah konyol, kan? Gatau kenapa dia kok kayaknya bahagia banget terus bikin iri? Gatau, kan?
Gatau aja hatinya pernah terluka... gatau aja, temen-temennya cuman manfaatin dia dan dia pura-pura gatau soal itu. Gatau kan kalau keluarganya bermasalah. Gatau kan kalau dia punya banyak impian lain yang harus dicapai, janji lain yang harus ditepati. Gatau kan seberapa sabarnya dia ngadepin penghkianat. Gatau juga kan sahabatnya yang sibuk dan ketika pada masa down dia sendirian dan depresi. Gatau seberapa besar perjuangan dia, pengen dianggap, pengen berprestasi, pengen ini-itu. Bukannya maruk atau apalah, tapi kenyataannya itu sifat dari manusia yang alamiah.

Rasanya pengen mati aja.

Dia berfikir, gak ada yang ngebutuhin dia lagi... rasanya pengen mati. Sedih.

Gatau betapa depresinya dia. Sekeras apapun mencoba. Sekeras apapun dia teriak. Gatau...
Gimana rasa itu hadir, ketika kamu beneran milih bunuh diri. Satu kata dariku: Imanmu mungkin lemah.

Tapi coba aja, kalo ada Jonghyun-Jonghyun lainnya diluaran sana, kalau ada yang memeluknya erat. Mengelus rambutnya dan mengatakan: "Kamu udah bekerja keras. Iya kamu hebat. Aku bangga"
Kalau aja ada yang bersedia meluangkan waktunya buat menyediakan bahu, menghapus air matanya, yakinkan ada aku, disini, kamu tak sendirian.
Kalau aja ada.Gak akan ada kejadian sama seperti yang Jonghyun lakuin. Bilanglah... aku benar.

Tapi sebagian orang... Gak peduli.
Serasa kehilangan sisi kemanusiaan mereka. Serasa, ah... sudahlah. Aku pun sama. Kadang tak peduli, pikirku cuman, "siapa dia... gak penting."

Ah, sudahlah.

Tapi, guys. Pada malam ini, selepas aku mendengarkan lagunya dan menangis. Seakan aku di ingatkan tentang orang-orang diluaran sama yang lebih-lebih-lebih punya permasalahan berat. Masalahmu bukan apa-apa.

Kamu sudah bekerja dengan baik. Kamu bekerja dengan keras. Terus maju dan ingat, tak usah peduli nyinyiran orang. Kalau kamu masih punya keluarga, masih punya orang yang kamu sayangi. Percayalah, percaya saja meski beberapa kali pikiranmu tak bisa percaya. Percayalah dengan hatimu, kamu masih harus berjuang. Untuk mereka juga untuk dirimu sendiri.

Guys.
Tak apa-apa. Kalau kamu gagal. Tak apa-apa.
Kalau kamu kesepian, keluarlah. Lihat dunia, dan berbaurlah. Lakukan hobby-mu.
Kalau kamu merasa hampa.... dekatkanlah dirimu pada Tuhanmu.

Ingat kata salah satu tokoh yang aku sukai, Dr. Zakir Naik. Beliau pernah mengatakan suatu dalam Al-Quran atau Hadist, tujuanmu hidup adalah ujian. Ujian Tuhanmu. Ujian Allah.swt.
Selama kamu percaya pada Allah.swt. Kamu pasti tau, jalan pintas seperti bunuh diri adalah suatu dosa. Apalah arti kamu hidup?

Ya, kan?
Kamu harus kuat. Sesekali, ingatlah. Kamu bisa,

Dear kamu yang tengah depresi.
Tak apa... aku disini sama sepertimu. Meskipun aku gak tau apa masalahmu, apa juga bebanmu. Meski aku gak tau seberapa berat masalamu itu. Kuatlah.

Semoga kamu bisa melalui masa-masa mu, ya.


Nidake
Semarang, 14 Januari 2018

Monday, January 8, 2018

[NARASI] Sebuah Rasa yang Telah Memudar

Hallo, ini bukan lagu, bukan sok lagi galau, bijak, dan sebagainya. Ini cuman narasi disaat suwung dengan rutinitas yang sama.

Rutinitas?
Kuliah - Magang - Tugas - Skripsi.
Kayaknya hidup aku berpusat disana. Kampus.

Ngebosenin.
Entah.

Kebanyakan orang bakal tanya sama aku, "Lo gamau gitu ngejalin hubungan, Nid?"
"Nid, temen gue, si A mau kenalan sama lo. Boleh, gak?"
"Si B itu loh Nid suka lo, respon kek."

Hello.
Kalau kamu tau seberapa pusingnya aku dengan segala permasalahan yang ada. Mana sempat kupikirkan hal lain.

Sahabat dekatku yang mengenal dengan baik aku, tau betul, sesuatu seperti move on adalah hal mustahil untukku. Apalah. Setiap kali kukatakan sudah. Hati dan apa yang kamu katakan selalu gak sinkron.Seringkali kamu banyak membohongi dirimu sendiri.

Seringkali karena hal sepele itulah, kamu sakit hati dan kecewa. Karena dirimu sendiri.

Sebuah rasa yang telah memudar? Rasa-rasa yang telah kau perjuangkan sekian lama dan diabaikan, istilah lainnya: php.

Rasa yang hilang?
Perjuangan tanpa hasil, tanpa dipandang adalah hal sia-sia.
Terus buat apa kamu masih ngarep, masih tetep nunggu, masih berdoa soal harapan.
Udah tau, hasilnya bakal sia-sia.


He?

Udah bertahun-tahun hlo, Nid. Mau nunggu sampe kapan sih?
Sampai bumi jadi datar?
Oh.

Cepatlah sadar. Jangan membohongi dirimu bahwa kamu gak kesepian.


Yang lagi galau, Nidake
Semarang Januari 2018