Thursday, December 29, 2016

HARI IBU YANG TERLEWAT



(^.^) Teruntuk umiku, sahabatku yang merupakan calon ibu, dan perempuan-perempuan di seluruh dunia. Tetaplah menjadi hebat.
 
my umi, makasih udah sabar ngadepin sifat aku yang kayak anak kecil

Di umur 20-an tahun, kamu akan mengerti tentang masalah yang ternyata rumit. Masalah yang sejujurnya cukup sepele untuk anak-anak kecil. Masalah yang dulu hanyalah masalah angin lalu bagiku ketika masih berumur 18 tahun.
Kamu akan tau tentang banyak pengorbanan. Tentang arti kesabaran. Dan tentang perjuangan dari seorang perempuan yang menyandang predikat ‘ibu’.

Seorang perempuan sepertiku adalah salah satu dari sekian perempuan yang gak pekaan, yang cuek, yang gak peduli. Sama seperti mba Laila (kakakku). Kita adalah orang yang ketika sudah peduli pada satu hal, akan sangat peduli. Kita mewariskan hal itu dari sosok perempuan hebat. Yang setiap membutuhkan sesuatu, setiap mempunyai banyak masalah, setiap kita butuh nasihat, seseorang yang tak asing lagi sejak kita masih menjadi butiran gen-gen didalam rahim, seorang wanita yang keren, seorang guru, seorang juru masak, dll, dll. My umi. Umi kita.

Hay, mi. Jarak dan waktu selalu menjadi halangan bagiku untuk mengatakannya secara langsung. Aku gak suka bunga atau memberikan kejutan-kejutan untukmu. Tapi, semoga tulisan ini dan doaku selalu menjadi pemberian yang terbaik, untuk seluruh pengorbananmu menjadi seorang ibu.

“SELAMAT HARI IBU.”

Mi, maaf, maaf untuk segalanya. Maaf hanya bisa mendoakanmu dari jauh. Maaf masih tak pernah mendengarkan nasihatmu. Maaf masih egois. Maaf untuk segalanya, mi.
maaf belum bisa kasih kado terbaik untukmu, mi
Aku takut umi kecewa padaku, tapi aku masih selalu membuatmu khawatir akan banyak hal. Waktu aku sakit di tanah rantau dan sendirian. Waktu umi ngomel soal gaya hidup tak sehatku, dan kegiatanku yang padat. Aku masih saja keras kepala.

Waktu umi memberiku nasihat, waktu umi memberiku petuah yang panjangnya sepanjang rel kereta yang tak tau kapan berujung, aku masih aja bilang iya, dan tetap melakukan sebaliknya di tempat yang tak kau tau.

Mi, maaf untuk segalanya.

Maaf aku masih gak ngerti saat umi punya banyak masalah. Aku gak tau umi sering menangis diam-diam untukku. Aku gak pernah menyadari seberapa pedulimu tentang aku, mba Laila, Dinda ataupun Lintang yang selalu menjadi prioritasmu diatas segalanya. Aku masih menganggapmu ibu yang gak adil.

Mi, maaf. Maafin tentang pikiranku yang masih dangkal.
Maaf aku gak pernah menganggap masalahmu serius. Saat umi menangis karena abi, saat umi berjuang tetap bertahan demi kita.

Aku gak pernah tau alasan. Alasan seorang ibu. Mi. Aku jahat, ya?
kalian itu semangat aku buat jadi orang yang lebih baik
Sebagai seorang putri yang demi pendidikannya rela merantau jauh. Jauh dari jangkauanmu. Sebagai seorang putri yang ketika punya banyak waktu libur, pura-pura sibuk dan memilih tak pulang waktu itu. Aku mungkin menyesal untuk tak pulang, mi. Akhir-akhir ini, titik jenuhku membuat keinginan pulang jauh lebih besar. Refreshing maupun liburan tak membuatku kembali bersemangat.

Mi, jujur, alasanku untuk kuliah jauh. Adalah untuk pergi sejauh yang aku bisa tentang rumah, dengan berdalih bahwa merantau akan dapat mengajarkanku tentang hidup yang keras.
Alasan utamaku hanyalah untuk pergi jauh dari rumah.
Mi, Bi, jangan pernah berhenti kapok nasihati aku, ya
Maaf untuk itu, umi.
Bukti bahwa aku egois? Beginilah jalan hidup yang udah aku pilih.

Mi, bilang pada abi. Beliau perlu bangga pada anak-anak gadisnya. Aku punya mata yang jeli untuk menilai karakter seseorang. Mba Laila, Dinda dan Lintang, dan aku, percaya pada kita, percaya pada pilihan yang selalu kita buat.

Mi, jangan lagi menangis diam-diam. Jangan berhenti untuk mengomeli kita setiap waktu. Jangan pernah berhenti mendoakan kita.

Suatu hari, aku ingin memberimu hadiah yang lebih special. Tentang catatan pencapaian-pencapaianku. Meski bukan apa impianmu. Semoga umi tetap mendukung impianku.

Aku keras kepala, hlo (^.^)
Mi, bahagiamu adalah bahagiaku, juga.
Terimakasih sudah menjadi seorang ibu untuk kita, umiku. Makasih banyak atas pemberianmu yang tak terhitung. Kelak, semoga doa-doa kita tentang sesuatu yang menakjubkan untukmu di dengar oleh NYA.

Mi, love you. Saranghae.


Dari anakmu nomer-2, Nidake.
Semarang 25 Desember 2016

No comments:

Post a Comment

Bikin orang bahagia gampang, kok. Kamu ngasih komentar di postinganku saja aku bahagia.

- Kutunggu komentarmu.