Wednesday, May 13, 2015

APAKAH AKU ADALAH ‘AKU’?


Sebagian besar orang hidup dengan menjadi orang lain, entah itu dengan cara yang mana. Ada orang yang harus mengubur jauh-jauh impiannya demi tuntutan hidup, ada pula orang yang punya seribu topeng dalam mejalani kesehariannya, ada pula orang yang mencoba menyembunyikan sesuatu seumur hidupnya sekalipun ia tak ingin, karenanya… ia harus menjadi orang lain.
Pada situasi dan kasus tertentu, kita hidup pada dasarnya adalah untuk bertahan. Menjadi orang yang bukan diri kita bukanlah suatu kesalahan. Seakan, itu adalah hal alami. Bahkan tanpa kita sadari.

Aku Sadar, Aku Tak Bahagia. 
apa aku bahagia? YA or NO?

Menjelang semester kedua kuliah, aku menyadari satu hal, bukan karena teori yang di ajarkan sulit. Tapi, lebih karena aku tak pernah menginginkan belajar semua ini. Ini bukanlah suatu hal yang menjadi tujuan hidupku sejak awal, bukan rencanaku untuk masuk jurusan Akutansi, bukan pula keinginanku untuk menjadi seorang Sarjana Akuntansi dimasa depan.

“Lantas, kenapa aku memilih bertahan?”

Orang-Orang Mengenalku, Seperti Ini. . . 
Inilah aku, aku yang seperti ini. . .
Meski munafik, yang tau tentang diri kita adalah kita sendiri dan tentu saja, Tuhan YME. Meski ada beberapa hal yang kita sendiri tak pernah dapat menyimpulkannya, tetap saja, diri kita berhak atas keseluruhan tentang diri kita. 

Sejujur-jujurnya aku adalah, seorang gadis yang pemalu dan cerewet pada beberapa orang tertentu. Saat aku sudah merasa nyaman dengan seseorang, aku akan menjadi ‘aku’ yang apa adanya. Tapi, kadang, aku perlu berhenti saat orang tersebut merasa gak nyaman dengan ‘aku yang apa adanya,’ aku mulai kembali menjadi aku yang biasa, dengan sisi misterius. 

“Satu yang pasti, aku hanya takut orang-orang akan terganggu dan pergi dari hidupku.”

Keluarga Adalah Mereka Yang Tau Semua Tentangku.
mereka segalanya saat ini, buatku :')
Bagian terbaiknya adalah, Tuhan masih terlalu baik. Aku punya keluarga yang utuh. Meskipun tiada hari tanpa adu muLut dengan mereka semua. Aku menyadari bahwa, ikatan kami terlalu kuat, dan cinta untuk mereka telah mengakar, mendarah daging, di dalam lubuk hati anak-anaknya.

Aku tak perlu takut ditinggalkan sendirian. Bersama, aku yakin sepenuhnya, kami akan bahu-membahu bersatu saat masalah datang menerjang.

“Dengan mereka, keluargaku. Aku tak perlu berpura-pura karena takut ditinggalkan.”

Aku pun Lelah, Harus Menjalani Hidup Seperti Ini.
Kau tau? meski lelah... aku masih sanggup berjalan...
Kalau bisa memilih, kenapa harus serumit ini? Atau setidaknya, aku tak ingin selamanya seperti ini. Aku gak bersyukur, ya?

Aku cuman lelah. Aku gak mau terus pake topeng. Aku mau hidup normal dan menjadi apa adanya.

“Bahkan, ada saatnya aku ingin gak pernah peduli apa kata orang lain.”

Dariku, yang berharap ini usai.
#LatePosting.
© Nida

Tegal, 05April 2015
20.04 wib

No comments:

Post a Comment

Bikin orang bahagia gampang, kok. Kamu ngasih komentar di postinganku saja aku bahagia.

- Kutunggu komentarmu.