Thursday, August 18, 2016

BYE DPM FEB 2015/2016




DPM FEB 2015-2016.
Masa-masa periode DPM bersama mereka hampir berakhir.
Kesan?
Pesan?
Pengalaman?

Entah. Saking banyaknya, bet. Ribet.


Bahagia?
Sedih?

Entah. Saking gak jelasnya hati, bet. Ribet.



Bakalan kangen?
Bakalan dilupakan?

Entah. Saking mikir terlalu dalem, bet. Ribet.


Jadi, intinya apa, Nid?
hehe.
hehe.
hehe.
hehe.
hehe.
hehe.
hehe.
hehe.

Terus aja hehe, sampai Tukang Bubur Naik Haji the Series tamat.

Yang jelas, DPM tahun ini agak berbeda dari DPM tahun-tahun sebelumnya, juga tahun periode berikutnya juga agak beda.

Aku. Bergabung kembali pada DPM periode 2016/2017. Dengan ketua: Puspita.
Alasan. Simple. Hanya ada kita ber-3. Aku, Arif, Puspita yang punya banyak peluang untuk lanjut.

Yang lain? mereka memasuki semester dimana harus fokus ke skripsi.

Jujur aja, aku lelah. Mungkin karena mereka gak terlalu cocok.
Tapi, banyak pengalaman yang sudah terlewati. Dan mereka tetap keluarga untukku.
Sayangnya, gak seperti keluarga organisasi di SMA, mereka bukan tempat yang nyaman setiap kali kamu punya masalah dan butuh pulang.

Mereka hanya keluarga. Untuk urusan organisasi.

Itulah masalahnya.
Dan itu adalah kritikan yang paling jahat, yang pernah aku lontarkan.

Hey, Nid. Kenapa gak berbicara langsung?
Apa yang terjadi kalau mereka membaca blog-mu?

Alasanku sederhana, aku gak mau melukai siapapun. Ada 7 senior disana. Dan bukannya aku takut. Jika aku berbicara langsung, itu seperti bukan aku. Dan aku benci melukai perasaan. Mereka pasti terluka, meski mereka mengatakan, tak apa, gapapa, utarakan saja, kita netral kok.

Hey, Nid. Kamu bertindak dengan sangat baik.

Jangan salah. Mereka memberiku banyak hal yang mungkin, tak ada kesempatan seperti itu di tempat lain.
Untuk banyak hal yang ada, aku ingin berterima kasih melalui blog perpisahan.

Saat aku di HMA, aku tak pernah membuat salam perpisahan apapun.

Makasih DPM.

Makasih Pak Arditya, selaku ketua. Alasanku bergabung dengan DPM, karenamu. Karena dialah Ketua nya, aku ingin belajar banyak hal. Pak Ardit adalah ketua yang menyenangkan, dan tak banyak memberi beban.

Pak Ardit selalu bilang, Ohya gapapa Nid, tanpa memaksakan keadaan, selalu cari solusi dan punya pandangan sendiri soal Politik Kampus. Dan dia banyak memberi masukan, untukku yang tak ada apa-apanya.

Makasih Mba Linda. Seorang senior yang tampak galak. Sebenarnya, mba Linda cukup unik, juga baik, juga punya daya tarik sendiri di DPM. Mba Linda banyak menegurku. Dan kuharap, orang seperti dia bisa membuatku sadar dimana posisiku. Memberi masukan, dll. Sayangnya, aku jarang satu team dengan mba Linda.

Aku belajar banyak darimu, mba. Semoga di masa depan, aku punya banyak keberanian, sepertimu.
Tolong pahamilah, selalu ada alasan kepribadian seseorang seperti itu, atau seperti ini.

Makasih Mas Yoga, partner satu komisi, yang darimananya, aku gak bisa serasi bekerja sama, haha.
Entahlah. Mas Yoga juga punya keunikan sendiri sebagai seorang senior. Ku harap, dia banyak memberi masukan dan arahan selama menjadi partner ku di Komisi Aspirasi.
Sayangnya, mas Yoga lebih banyak kerja sendiri, melemparkan tanggung jawab padaku tanpa memberiku pelatihan.

Tapi, aku sempat kagum dengannya. Dan aku senang bekerja sama, menjadi satu patrner dengannya. Mas Yoga banyak memberiku peluang untuk berfikir secara mandiri. Minesnya, karena aku tak punya pengalaman, aku butuh pendoman. Dan terkadang, disitulah letak kesalahanku.

Makasih Mas Roni, Mba Nope, Mba Dinda, Mas Imron. Mereka senior pada divisi masing-masing. Mereka punya job dan pengalaman luar biasa di tingkat Universitas. Mereka adalah orang-orang yang hebat. Menjadi satu bagian keluarga dengan mereka itu keunikan sendiri.
Dan aku bangga karenanya.

Aku gak terlalu dekat dengan mereka. Gak juga terlalu banyak tau soal mereka. Aku cuman tau kerena dunia sudah maju. Melalui medsos, melalu status, dan sejenisnya.
Ironis, ya.

Makasih sudah mengajarkan aku banyak hal. Aku tau aku kadang seperti ini - seperti itu. Kurang gini, kurang begitu.

Kuharap, kalian bisa melihat potensiku, dan memanfaatkannya untuk itu.
Kuharap, kalian bisa memahamiku, dan jangan anggap itu sebuah kekurangan.

Aku punya alasan. Dan aku gak bisa mengatakan apa itu.

Kenapa aku menulis ini?
Karena alasan itu.

Kuharap kalian mengerti. Setiap proker. Aku selalu berusaha untuk bekerja maksimal.
Semoga satu tahun periode bersama kalian, kinerjaku cukup baik, tak perlu memuaskan.
Aku hanya butuh bintang 1, dibandingkan bintang 5.

Kalian orang-orang yang menginspirasiku. Untuk itulah aku ingin berterima kasih.

Kelak, ketika sudah berpetualang di dunia orang dewasa, semoga kita sesekali dapat kembali menjalin partnership.

Semoga sukses, dengan masa depan kalian ({})

Yang banyak diamnya, (c) Nidake
Semarang, 19 Agustus 2016

No comments:

Post a Comment

Bikin orang bahagia gampang, kok. Kamu ngasih komentar di postinganku saja aku bahagia.

- Kutunggu komentarmu.