Wednesday, January 1, 2014

[CERPEN] I LOVE YOU, BUT... (Part 2)

“I Love You. But…”
(Part 2)
A Cerpen by Annida Sholihah
A story inspiration by Ibu Siti Khodijah



Flashback ke belakang :
Rian berlari di sekitar komplek dan menerobos masuk ke kamar Arif begitu saja. Saat Rian tengah mengatur nafasnya sebelum mengatakan sesuatu, Arif melongo penuh tanda tanya.
“Gawat bung, gadis yang kamu sukai itu…” Ia masih terlihat tengah mengatur nafasnya
“Aaaah lupakan saja diaa” Ucap Arif memahami topik pembicaraan.
“Gabisa. Gabisa, bung! Sadarlah. Dia bisa di ambil orang”
“Terus?” Dengan sikap yang tak peduli, Arif kembali fokus pada lembaran milik Reki yang tadi siang dia lupakan. Diam-diam ia menyesal kenapa tadi tak mengunci pintu kamarnya.
“Aaaah, gossip itu, sudah tau belum, bung?” ______ “Si cowo itu, katanya dia akan ‘menembak’ Sinta! Gak akan saya biarkan!”
Arif terkejut, buktinya ujung pensil yang tengah di gunakan itu patah. Pensil yang malang…
“Apaaa?”
“Tulis surat saja! Itu ide yang baik. Dari pada mengatakannya duluan? Aaaah ya ampun mana berani bung?” Cerocos Rian sok tau, tapi memang benar. Kenyataan berkata begitu.
Arif tampak berpikir. Lalu hanya mengatakan,
“Serius?” Tanyanya
“Huh?” Si cowo polos –Rian- kebingungan “Dua rius bung! Saya denger sendiri!” pffft
“Eheh. Bukan itu, surat. Maksudnya suratnya, bodoh!” Mau tak mau, Arif harus mengetok dahi Rian setidaknya sekali.
“Ampunlah bung. Cepat buat suratnya sekarang. Tak harus saya yang membuatnya kan?” Ucapnya, khas Rian sekali. Arif hanya menatap sahabatnya kesal, campur geli. Ia mulai mengambil alat-alat tulis, kertas A4 dan mulai menuliskan kata-kata puitis. Sambil menghela nafas lega, Arif menutup pulpen hitam yang lebih mirip spidol tebalnya. Belum apa-apa Rian sudah kabur, dengan surat yang baru saja Arif tulis.
“Rian!!!!!!!!” Teriak Arif membahana.
Flashback End.

Rian terkikik geli, apalagi saat tau sahabatnya ini lebih memilih memanggil Nana. Seharusnya kan…
“Diem di tempat!” Ancam Arif
Nana semakin dekat, ia tersenyum lebar-lebar. Beberapa gadis saling berbisik-bisik. Dan beberapa anak laki-laki saling suit “Cieeeeeeee cieee” atau “Waw! Nana sang fotogenic di panggil Panggeran es !” atau “Ayo Nana, ekhmmm” seperti itulah…
Gadis-gadis mulai sirik dan saling sindir, beberapa tak tahan dan merasa envy. Parahnya, ada yang menangis begitu saja saking shock-nya.
Arif stay cool, tetap tenang dalam situasi seperti ini. Ia sudah kebal. Tampaknya.
“Nih! Buat sahabatmu, berikan ya” Ucap Arif pelan tanpa basa-basi. Saat Nana masih di dunia fantasinya. Spontan Nana terkejut. Ia masih kebingungan.
“Jangan tanya dua kali, please?” Ucap Arif, untuk yang kedua kalinya.
Menahan malu sekaligus kesal, Nana tertawa. Tapi tetap menerima surat-nya. Ia berlari kecil menuju tempat dimana Sinta duduk. Menatapnya kecewa.
“Nih” Nana menyodorkan kertas A4 itu dengan paksa “Buat kamu, ternyata. Sinta” Sambungnya penuh nada kekecewaan. Ia segera berlari. Tak mau orang lain tau bahwa ia hampir saja menangis. Sinta mengerti, cukup dewasa untuk tidak mengejarnya. Terutama untuk menghindari kecurigaan orang lain. Gadis-gadis mulai berbisik, semakin seru. Yang laki-laki penasaran. “Bung, si Arif itu bicara apaan sih?”, “Woaaah, Envy sekali”, “Pangeran es bicara dengan perempuan?” “Eeeebuset, kayaknya si Nana kaget gitu ya?”
Dalam sekejab, gossip itu beredar luas. Ada yang bilang, bahwa gossip bisa beredar lebih cepat daripada angin. Benarkah?
          Nana terisak di ujung bagunan tua sekolah yang sepi. Sedangkan di tempat lain. Terlihat Sinta yang tengah diliput rasa penasaran berlari ke arah yang berlawanan. Arif sekilas menatap kepergian Nana dan Sinta bersamaan, merasa sedikit bersalah. Kemudian ia meninggalkan tempat itu di ikuti Rian dkk. Acara gossip-gossip, menjerit, dan saling bisik-bisik akhirnya bubar.
Nana mengambil sesuatu dalam tas-nya, Sinta membuka sebuah pintu dan Arif memikirkan tindakannya tadi yang sangat keterlaluan –terutama untuk Nana- Di sampingnya, Rian ngoceh tak karuan bak burung beo.
Beralih kembali ke Sinta. Ia membuka kertas putih A4 yang tadi di berikan Nana, yang ia tau, Nana terlihat sangat marah saat memberikan ini padanya. Ia membukanya dan memasang ekspresi terkejut yang aneh. Rasanya, dunia hampir kiamat.
“Apa-apaan…” Kata-katanya mengambang. Isinya benar-benar mengejutkan. Sinta mencoba mengejanya sekali lagi,
“Wangi melati… Itu pasti kau. Jepit kupu-kupu, itu pasti kau juga… Bolehkan aku berkenalan denganmu?” Sinta tertawa, di kamar mandi. Seorang diri. “Penggirim: Arif. Panggeran es yang pengecut?” Sambungnya, kemudian. Sinta sedikit mengerti kenapa tadi Nana menangis. Aaaaah ya ampun. Kekanak-kanakkan. Seniornya benar-benar kekanak-kanakkan. Sinta segera berlari, ke tempat dimana Nana selalu berada jika ingin sendiri. Gedung tua.
“Sinta?” Tanya Nana, terkejut dengan kedatangan sahabatnya. Ia segera menghapus sisa air mata dan memeluk Sinta begitu saja.
“Maafin saya Na” Nana menggeleng.
“Ituuu… tadi Cuma memalukan, tapi lucu sekali. Dasar aneh” Umpat Nana kemudian, Sinta tersenyum. Ia memberitahu Nana apa isi suratnya, dan berpikir haruskah ia membalasnya? Sepanjang hari itu, Nana selalu menggodanya. Nana adalah sahabat yang paling mengerti Sinta. Luar-dalam.
“Sudah saya bilang, kalian saling suka. Ya kan? Yaelah jangan bohongin saya lagi” Ucap Nana, di perjalanan pulang mereka.
***
Hari-hari berikutnya, Sinta dan Arif lebih sering berkirim surat. 5 kali dalam sehari. Walaupun mereka tetanggaan. Entahlah, kenapa tidak langsung ketemuan? Bagi kita, ada alat yang namanya HP. Internet. Social Media. Tapi saat itu, surat lebih ‘wah’ begitulaaah…
Mau Arif ataupun Sinta sama-sama setuju untuk tak bertatap muka secara langsung. Mendekati ujian, Arif jarang sekali terlihat. Bahkan sama sekali sulit di hubungi. Kebiasaan berkirim surat dari 5 kali, menjadi 2 atau bahkan sekali dalam sehari. Lucunya, setiap surat A4. Tak pernah sekalipun mereka menulis lebih dari 50 kata.
“Boleh sajalah. Saya Sinta. Kamu Arif? Itu perkenalan yang bagus”
“Terima Kasih. Lucu kan? Oh yaa”
“Ya begitulah. Nana menangis”
“Sampaikan. Salam. Untuk Nana”
“Oke. Akan saya sampaikan”
“Terima kasih banyak wangi melati”
Dan begitulah. Kadang-kadang Arif berpuitis. Menceritakan kehidupan sehari-harinya. Berkeluh kesah. Memberi semangat. Membosankan.
          Di hari terakhir setelah pengumuman universitas. Arif menemui Sinta, di rumahnya. Ibunyalah yang menemukan Arif berdiri –galau- antara mau masuk atau tidak ke dalam dan mengetuk pintu. Hampir saja ia pergi jika tak mendengar suara itu.
“Mas Arif?” sapa ibu Sinta ramah. Arif terdiam, hanya senyum kecil yang tampak di ekspresinya.
“Ayo masuk” Ajaknya. Arif masih diam.
Ibunya membawa Arif ke ruang tamu, sudah duduk manis di salah satu kursi kebersaran milik ayah Sinta. Dan orang itu, ayah Sinta. Arif meringis. Selagi ibu Sinta memanggil anaknya. Ayah Sinta melempar berbagai jenis pertanyaan ke arahnya.
“Berapa umurmu?”
“Kau kelas 12 kan? Lanjut kemana?”
“Apa hubunganmu dengan anakku?”  
Arif melongo. Posisi dan cara duduknya sudah mirip puteri bukan panggeran. Saking groginya. Ayah Sinta tertawa, sebelum mengucapkan kata selanjutnya,
“Baiklah. Maafkan ayahmu ini nak. Hahaha”
Akhirnya Sinta mucul dan tersenyum tipis, menariknya keluar, sebelum ayahnya menge-bom berbagai pertanyaan lainnya (lagi)
“Kirim surat saja, lalu kita bisa janjian jam berapa dan dimana kan?” Ucap Sinta mengawali. Arif mengangguk pasrah.
“Ituuu… kuliah. Ah, pamit” Ucap Arif kemudian. Tergagap. Lebih karena tak mampu mengatakannya. Sinta tetap tenang, hatinya berdebar.
Sejak masa-masa berkirim surat –yang yah, telah berjalan selama kurang lebih tiga bulan- Dia tau, suatu hari nanti Arif pasti akan meninggalkannya. Pergi ke kehidupan lain di luar Kota. Sinta tersenyum, walaupun senyum itu terkesan di buat-buat.
“Besok. Aku dan yang lain. Di lapangan. Datang ya” Ucapnya pelan, hampir tak terdegar. Sinta mengangguk. Masih memaksakan senyumnya. Berharap Arif mengatakan hal lain, yang lebih dari sekedar itu-itu saja.
“Well, aku akan datang. Janji. Selamat ya” Akhirnya mereka berpisah untuk sisa hari ini. Sama-sama tak rela.
Beberapa saat yang lalu, Arif sudah memberitahu Sinta perihal rencana kuliahnya di Bandung. Dan Rian di Bogor. Surat tanda bahwa dia lolos seleksi juga sudah tiba. Ia akan pamit secara langsung. Nanti.
***
          Pagi yang cerah, Sinta mengenakan setelan favoritnya. Kemeja putih polos, syal kuning, jepitan kupu-kupu, dan celana yang di pakai di pinggang. Ia berlari keluar, Nana dan dua temannya yang lain sudah menunggunya di tempat biasa. Mereka segera berlari ke lapangan. Tak mau telat, tak mau ketinggalan moment penting seperti ini. Setiap tahun. Di lingkungan mereka, pada bulan yang sama. Selalu ada perpisahan yang secara khusus di tunjukkan untuk para remaja kelas 12 SLTA yang lulus dan di terima di perguruan negeri luar kota. Dari jauh, Arif menyadari kedatangan Sinta dan melambai-lambai penuh arti. Ia mendekat.
“Simpan ini, sampai saya menyusul kamu tahun depan” Ujar Sinta, melepaskan syal kuning yang melilit lehernya. Arif tersenyum.
“Ini hanya Bandung. Masih satu provinsi dengan Serang. Jangan khawatir” Ia tersenyum menenangkan “Saya sudah mengirim semua bekas soal-soal masuk PTN ke rumahmu. Belajar yang rajin ya adik cantik” Arif mengusap rambut Sinta lembut dan pamit. Ia melambaikan tangannya. Hubungan mereka… Sangat aneh. Bagaikan kakak-adik. Siapa tau, diam-diam mereka saling membutuhkan satu sama lain.
Di samping Sinta. Nana terisak. Rian mendekatinya dengan malu-malu. Sekotak persegi berbalut bungkus Koran bekas di tangannya berpindah, berada di tangan Nana.
“Sampai jumpa. Jaga diri baik-baik kalian!” Ia tersenyum. Lebih kepada segerombolan gadis-gadis yang menjadi adik kelas di sekolahnya.
“Hey Nana, jaga itu ya. Kita akan ketemu lagi. Dah” Ucap Rian, sebelum masuk ke dalam mobil tua milik pak RT.
***
Sinta kembali ke kamarnya dengan ekspresi kelelahan, tanpa semangat. Ibunya mengingatkan dia ada suatu paket hadiah dari anak yang kemarin sore berkunjung. Ia membukanya. Ada sebuah hadiah dan surat di dalamnya. Kertas A4. Lipatan yang sama. Dan tulisan tangan yang sama. Bahkan isinya tampak sama. Padat, singkat, jelas.
“Sinta… Maaf. Berlajar yang rajin ya. Jangan lupakan janji itu. Aku” Tulisan itu di tulis dengan huruf yang rapi. Memenuhi seluruh tempat dalam kertas A4 “Tidak. Nanti saja. Lain kali. Sampai Jumpa. Tahun Depan. A”
Sinta tertawa, ia bergumam sendiri “Dasar pengecut” ia masih tertawa. Jelas-jelas, ada sesuatu yang lebih dari persahabatan diantara mereka, lebih dari sekadar hubungan kakak-adik. Sinta memilih diam. Karena ini menarik.

“I Love You, But I can’t to says” Tulis Arif. Di book note-nya. Ia menutupnya. Kemudian tersenyum.

THE END

Komentar :

Well, nulis cerpen ini hampir memakan waktu 2 hari. 4 jam penuh. Masing-masing 2 jam/hari. kekeke
Entahlah, maksud dari ceritanya apa ya? Tadinya sih, gak begini endingnya. Ujung-ujungnya? Kok begini? Gak tau kenapa. Benar-benar jadi kehilangan sentuhan deh. Ya kan? pffft

Mengenai, a inspiration, Bu Siti Khodijah. Dia itu Guru Sejarah di sekolah aku, sekaligus pembina PMR -Eskul tercinta- dan kebetulan, selesai rapat LPJ kemarin. Aku dan Aini ke rumahnya bu Siti. Niatnya sih pengin dengar sarannya. Yang berujung pada 'curhat' panjang*lebar khas bu Siti banget hahah XD

Dengan senang hati kita denger-in. Awalnya terkesan buang-buang waktu. Yang pada akhirnya kita terbuai dan sungguh takjub dengan cerita tersebut. Kenapa? Karena suana sudah mendekati kata 'sore' kita gak mau kan pulang sore banget, apalagi malem? Bisa-bisa di cincang sama mamah aku nih )_( Yang ujung-ujungnya kita pulang pas magrib sudah bergema dan kelupaan buat sholat ashar LoL

Bahkan Aini yang tak suka baca novel, tak suka cerita begituan, yang hambar dan mirip sinetron. Akhirnya berkomentar "Gue sampe kebayang-bayang nih" Yaelah Ai ckckck Hebat kan?

Sejujurnya. Versi asli cerita bu Siti jauh lebih panjang. Penuh flashback, penuh konflik dan ada kehadiran tokoh 'cewe kedua' yang psikopat dan obsesi dengan cinta. Dan cerpen di atas bukan murni cerita-nya bu Siti dalam kehidupan nyata. Itu hanyalah inspirasi. Dengan sosok, kehidupan, karakter. Semacam itu. 

Jadi. Jauh beda. Dan JANGAN di samakan. Oke sekian. 

Terima Kasih banyak buat Bu Siti Khodijah, Aini Sabila dan para pembaca. Dan terakhir, lebih baik beri komentar buat perkembangan selanjutnya ya. Love!

1 comment:

Bikin orang bahagia gampang, kok. Kamu ngasih komentar di postinganku saja aku bahagia.

- Kutunggu komentarmu.